Pohon Natal

Pohon Natal Unik di Gereja Wedi Klaten: Simbol Solidaritas dan Harapan

Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi di Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah

Penulis: Iwan Al Khasni | Editor: Iwan Al Khasni
tribunjogja/Dewi Rukmini
POHON NATAL: Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi di Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, menghadirkan pohon natal dari kayu potong dan bibit tanaman buah sebagai bentuk solidaritas dan keprihatinan terhadap bencana alam akibat kerusakan lingkungan. 

 

Ringkasan Berita:Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi, Klaten, menghadirkan pohon Natal unik dari kayu potong dan bibit tanaman. 
 
Pohon ini menjadi simbol solidaritas untuk korban bencana alam serta ajakan menjaga lingkungan

 

Tribunjogja.com --- Gereja Santa Perawan Maria Bunda Kristus Wedi di Desa Gadungan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, kembali menghadirkan pohon Natal dengan konsep berbeda. 

Tahun ini, pohon Natal dibuat dari susunan kayu potong dan bibit tanaman buah, setinggi 6 meter dengan diameter 2 meter. 

Pohon tersebut tampak melayang sekitar 50 cm dari permukaan tanah, menghadirkan kesan unik sekaligus sarat makna.

Pohon Solidaritas

Pastor Kepala Paroki, Rama Basilius Edy Wiyanto, menamai karya ini sebagai Pohon Solidaritas. 

Konsep melayang menggambarkan ribuan pohon yang telah tumbang akibat kerusakan lingkungan di Sumatera dan Aceh. 

Susunan kayu potong menjadi simbol nasib pohon yang hilang, sementara bibit tanaman buah di pot berwarna emas melambangkan harapan baru.

Bibit tanaman yang mengelilingi pohon Natal menjadi simbol keselamatan dan kehidupan. 

Warna emas pada pot mengingatkan bahwa harta berharga bukan sekadar perhiasan, melainkan tanaman yang tumbuh dan dirawat. 

Gereja mengajak jemaat untuk merefleksikan pentingnya menjaga pohon dan lingkungan sebagai wujud iman.

Pohon Natal ini dibuat secara gotong royong oleh jemaat dan pemuda gereja

Kayu potong dikumpulkan dari jemaat, sementara pemuda menyumbangkan tenaga untuk menyusun rangka besi agar pohon stabil. P

roses pembuatan berlangsung selama satu pekan dengan melibatkan 10–15 orang.

Menurut Fabianus Erik Muri Aditya dari Tim Kreatif Gereja, pohon Natal ini tidak hanya mengajak jemaat merawat tanaman, tetapi juga merawat iman. 

Bibit tanaman diibaratkan sebagai iman yang harus dipelihara agar tumbuh subur dan berbuah lebat. (Drm)

Kasus Remaja Bawa Sajam Rusak CCTV di Jalan Tuguran Magelang

Khitanan Massal di Klaten: 190 Anak Terbantu Dana Infak Ramadan

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved