Strategi Ketahanan Keluarga Indonesia Hadapi Ketidakpastian Global
Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan berlanjut dalam dua tahun ke depan.
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Ketidakpastian ekonomi global diperkirakan masih akan berlanjut dalam dua tahun ke depan.
Dana Moneter Internasional (IMF), dalam laporan World Economic Outlook April 2025, memproyeksikan pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,8 persen pada 2025 dan 3,0 persen pada 2026.
Pelemahan ini ikut memengaruhi kondisi keluarga di Indonesia sebagai unit sosial terkecil yang menopang kehidupan masyarakat.
Tulisan analitis ini merangkum pandangan Ch. Heni Kurniawan, dosen Prodi Akuntansi FBE UAJY, mengenai bagaimana keluarga Indonesia perlu memperkuat ketahanan menghadapi tekanan ekonomi global.
Menurutnya, keluarga kini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari kehilangan pekerjaan, penurunan pendapatan, hingga terhentinya usaha kecil. Kondisi tersebut berpengaruh langsung terhadap kemampuan keluarga memenuhi kebutuhan dasar dan mengelola keuangan rumah tangga.
Ia menjelaskan, keluarga memegang peran penting sebagai penyedia dukungan emosional, material, dan spiritual. Karena itu, stabilitas keluarga sangat menentukan kemampuan mereka bertahan dalam situasi krisis.
Baca juga: Sampah Jadi Energi Bersih, Peluang Baru di Tengah Krisis Lingkungan dan Upaya Transisi Energi
Beberapa penelitian juga menunjukkan pentingnya peran keluarga dalam menghadapi tekanan ekonomi. Keluarga dengan hubungan yang kuat dinilai lebih mampu beradaptasi dan bangkit dari situasi krisis.
Di Indonesia, tekanan ekonomi semakin terasa dengan menurunnya daya beli, kenaikan harga kebutuhan pokok, hingga meningkatnya potensi konflik internal. Kondisi psikologis anggota keluarga pun rentan terganggu ketika kebutuhan dasar sulit terpenuhi.
Untuk memperkuat ketahanan keluarga, Heni menekankan perlunya strategi adaptif, salah satunya melalui penguatan literasi keuangan. Pemahaman tentang penganggaran, tabungan, utang, investasi, hingga mitigasi risiko menjadi dasar penting dalam pengambilan keputusan finansial yang bijak.
Dari sisi ekonomi, diversifikasi pendapatan dapat menjadi langkah strategis. Peluang usaha kecil, pekerjaan paruh waktu, hingga ekonomi digital bisa menjadi alternatif untuk menambah pemasukan. Mengelola pengeluaran secara ketat serta memanfaatkan sumber daya lokal, seperti bercocok tanam, juga membantu keluarga menekan biaya.
Selain faktor ekonomi, ketahanan sosial keluarga turut berperan besar. Komunikasi yang terbuka, solidaritas antar anggota keluarga, serta dukungan komunitas dan institusi keagamaan dapat meningkatkan kekuatan emosional dalam menghadapi tekanan.
Heni menilai, ketidakpastian ekonomi global menuntut keluarga Indonesia untuk semakin adaptif dan tangguh. Selain upaya mandiri, kebijakan pemerintah seperti Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang tepat sasaran juga diperlukan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Dengan strategi yang konsisten dan dukungan kebijakan yang memadai, keluarga Indonesia diharapkan dapat lebih siap menghadapi berbagai kemungkinan krisis di masa mendatang. (*)
| Bahas RUU Penyadapan, Badan Keahlian DPR RI Ajak Pakar Hukum UAJY Berkolaborasi |
|
|---|
| Pertumbuhan Ekonomi dan Ekspor Bantul Menurun, Pemkab Bantul Susun Strategi dan Bidik Pasar Baru |
|
|---|
| FTB UAJY Perkuat Peran Global Lewat Kolaborasi dengan Save The Soil Foundation |
|
|---|
| Kejar Pertumbuhan Ekonomi 6 Persen pada 2026, Pemda DIY Pacu Sektor Unggulan dan Akselerasi Belanja |
|
|---|
| UAJY Ajak Mahasiswa Internasional Telusuri Jejak Hindia Belanda Lewat ISG 2026 |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Strategi-Ketahanan-Keluarga-Indonesia-Hadapi-Ketidakpastian-Global.jpg)