Jejak Hijau

SDM dan Industri Lokal Jadi Kunci Ekosistem Energi Bersih

Transisi energi tak hanya menuntut teknologi baru, tetapi juga menyiapkan manusia dan industri yang sanggup mengoperasikannya.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Ikrob Didik Irawan
ist
Prof. Ir. Sarjiya, Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM 

TRIBUNJOGJA.COM - Transisi energi tak hanya menuntut teknologi baru, tetapi juga menyiapkan manusia dan industri yang sanggup mengoperasikannya.

Menurut Prof. Ir. Sarjiya, Kepala Pusat Studi Energi (PSE) UGM, penguatan SDM dan jejaring industri harus berjalan beriringan dengan riset agar Indonesia tak sekadar menjadi pasar bagi teknologi impor.

“Kurikulum harus sinkron dengan kebutuhan pabrik. Green jobs hanya lahir bila engineer, teknisi, hingga operator dipersiapkan sejak di universitas, politeknik, maupun SMK,” ujarnya dalam forum Jejak Hijau Tribun Jogja, literasi digital untuk bumi yang berkelanjutan.

Sarjiya menilai, hilirisasi mineral kritis, regulasi hidrogen hijau, hingga kerja sama riset internasional memang penting.

Namun, yang tak kalah krusial adalah membangun laboratorium uji berstandar industri untuk panel surya, baterai, maupun komponen jaringan.

Baca juga: Transisi Energi Bukan Sekadar Teknologi, Tapi Strategi Industrialisasi

“Kalau tidak ada fasilitas uji, kualitas perangkat hijau sulit terjaga. Padahal ini syarat agar industri lokal bisa tembus ekspor,” jelasnya.

Ia juga menyoroti minimnya anggaran riset di Indonesia. Skema konsorsium dan lisensi teknologi dari mitra asing, menurutnya, bisa menjadi jalan pintas agar Indonesia tidak mulai dari nol.

“Yang penting kita masuk di tengah, lalu naik kelas. Itu butuh konsistensi pembiayaan,” tambahnya.

Agar industri mau terlibat, pemerintah diminta menyiapkan insentif berbasis hasil, mulai dari keringanan pajak hingga dukungan pembiayaan untuk proyek yang menghasilkan Hak Kekayaan Intelektual (HKI), publikasi bersama, atau inkubasi startup teknologi.

“Industri akan datang bila ekosistem inovasi jelas dan terukur,” tegasnya.

Di balik semua itu, ia mengingatkan bahwa transisi energi tak boleh melupakan sisi sosial. Manfaat ekonomi hijau harus merata dan melindungi kelompok rentan.

“Transisi energi bukan hanya soal karbon, tapi juga keadilan pembangunan,” ujarnya.

Sarjiya menutup dengan pesan sederhana: kontribusi warga juga menentukan. Hemat listrik di rumah atau kantor adalah bagian nyata dari dekarbonisasi.

“Jangan kira peran masyarakat kecil. Efisiensi energi itu kontribusi langsung,” tandasnya.

Melalui Jejak Hijau Tribun Jogja, Tribun Jogja mengajak publik melihat transisi energi bukan hanya urusan teknologi canggih, melainkan juga bagaimana SDM dan industri lokal dibentuk untuk menopang masa depan energi bersih Indonesia. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved