Grebeg Suro Gunung Tidar Jadi Magnet Warga dan Penggerak Ekonomi Lokal
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengatakan Gerebek Suro merupakan agenda budaya yang tidak hanya memiliki nilai tradisi
Penulis: Yuki Pramudya | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Perayaan Gerebek Suro 2026 di kawasan Gunung Tidar membawa dampak ekonomi positif bagi masyarakat dan pelaku UMKM sekitar.
- Wali Kota Magelang menegaskan bahwa agenda tahunan ini sukses melestarikan tradisi budaya sekaligus memberikan manfaat nyata.
- Acara yang mengusung tema Cakra Manggilingan ini dimeriahkan oleh kirab budaya dan ditutup dengan prosesi doa bersama di puncak gunung.
TRIBUNJOGJA.COM, MAGELANG - Perayaan Gerebek Suro 2026 di kawasan Gunung Tidar tidak hanya menghadirkan kemeriahan kirab budaya dan ritual malam 1 Suro, tetapi juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat dan pelaku usaha kecil di sekitar lokasi kegiatan.
Sejak siang hingga malam, kawasan Gunung Tidar dipadati warga yang datang untuk menyaksikan rangkaian acara budaya yang digelar selama dua hari. Kepadatan pengunjung terlihat di sejumlah titik mulai kawasan Magersari hingga jalur menuju puncak Gunung Tidar.
Agenda budaya bernilai tradisi
Wali Kota Magelang, Damar Prasetyono, mengatakan Gerebek Suro merupakan agenda budaya yang tidak hanya memiliki nilai tradisi, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Setiap tahun banyak warga yang datang, termasuk dari luar daerah. Ini tradisi yang harus kita jaga bersama,” kata Damar.
Menurutnya, pelestarian budaya harus mampu memberikan manfaat yang dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar.
“Kegiatan ini tidak hanya memiliki nilai budaya dan spiritual, tetapi juga memberikan dampak ekonomi, terutama bagi pelaku UMKM di sekitar kawasan Gunung Tidar,” ujarnya.
Selain menjadi ruang ekonomi, Gerebek Suro juga menjadi wadah pertemuan pelaku seni, budayawan, dan masyarakat dalam menjaga tradisi yang telah berlangsung turun-temurun.
Kehidupan terus bergerak
Koordinator Gerebek Suro 2026, Supiyah Wahyuningsih, menjelaskan tema tahun ini, Cakra Manggilingan, dipilih sebagai pengingat bahwa kehidupan terus bergerak dan manusia perlu belajar menerima setiap proses yang dijalani.
“Cakra Manggilingan memiliki makna bahwa kehidupan manusia terus berputar. Ada masa di atas dan ada masa di bawah. Harapannya masyarakat dapat mengambil pelajaran dari setiap proses kehidupan,” ujarnya.
Menurut Supiyah, tingginya partisipasi masyarakat menjadi tanda bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat kuat di tengah perkembangan zaman.
“Yang terlibat berasal dari pelaku seni dan budayawan yang secara aktif menjaga tradisi. Ini menjadi ruang bersama untuk mempertahankan identitas budaya,” katanya.
Rangkaian Gerebek Suro tahun ini diawali kirab budaya yang melibatkan ratusan peserta dan ditutup dengan prosesi doa bersama di puncak Gunung Tidar melalui simbol empat gunungan, sembilan tumpeng, dan sembilan ingkung.
| Tingkatkan Kualitas Layanan Wisata, 80 Fotografer Borobudur Digembleng Fotografi dan Hospitality |
|
|---|
| Diduga Hendak Tawuran, 14 Remaja Diamankan Polresta Magelang |
|
|---|
| PT KAI Tegaskan Klaim Aset Sah, Warga Waringin Tunggal Tetap Tolak Skema Sewa |
|
|---|
| Grebeg Suro 2026 di Gunung Tidar Angkat Filosofi Cakra Manggilingan, Ribuan Warga Siap Kirab Budaya |
|
|---|
| Puluhan Tahun Bersengketa, Warga Blondo Tolak Klaim Aset PT KAI dan Minta Pembuktian Hukum |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Grebeg-Suro-Gunung-Tidar-Jadi-Magnet-Warga-dan-Penggerak-Ekonomi-Lokal.jpg)