Api Abadi Mrapen Grobogan Padam Sejak 1 Januari 2026 Lalu, Begini Langkah ESDM Jateng

Adapun tim dari ESDM Jateng sudah mendatangi Api Abadi Mrapen untuk menindaklanjuti padamnya api abadi tersebut pada Selasa (3/1/2026).

Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JATENG/DOK ESDM JATENG
CEK API - Tenaga teknis dari Dinas ESDM Jateng memeriksa Api Abadi Mrapen yang padam sejak awal Januari lalu di Grobogan, Selasa (3/2/2026). 
Ringkasan Berita:
  • Api Abadi Mrapen padam sejak 1 Januari 2026: Dinas ESDM Jateng menemukan penyebab padamnya api adalah sumbatan lumpur yang menghambat aliran gas di sumur.
  • Upaya pemulihan: Tim ESDM akan membersihkan sumbatan menggunakan teknik flushing, diharapkan api bisa kembali menyala dalam waktu satu minggu.
  • Sejarah dan tantangan: Api Abadi Mrapen penting secara budaya dan wisata; sebelumnya juga pernah padam pada 2020 akibat proses alam dan aktivitas pengeboran, meski cadangan gas masih ada.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, SEMARANG - Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)  Jawa Tengah akan melakukan pembersihan lumpur untuk mengatasi sumbatan yang menyebabkan api di sumur gas Api Abadi Mrapen Desa Manggarmas, Kecamatan Godong, kabupaten Grobogan padam sejak 1 Januari 2026 silam.

Rencananya, tim akan menggunakan teknik flusing untuk membersihkan sumbatan lumpur yang menghalangi aliran gas.

Diharapkan, dengan pembersihan ini, aliran gas akan kembali lancar sehingga Api Abadi Mrapen bisa menyala kembali.

Adapun tim dari ESDM Jateng sudah mendatangi Api Abadi Mrapen untuk menindaklanjuti padamnya api abadi tersebut pada Selasa (3/1/2026).

Dikutip dari Tribun Jateng, Kepala Bidang Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Dinas ESDM Jateng, Dwi Suryono mengungkap, hasil kajian timnya di lapangan,  sumur gas Api Abadi Mrapen tertutup lumpur sehingga api tersebut padam.

"Intinya gas ini tertutup sama lumpur, jadi terhambat jalannya gas itu," jelasnya.

Menurut Dwi, sumber gas penyuplai api abadi mrapen itu masih mencukupi.

Pihaknya optimis setelah sumbatan dibersihkan, gas akan mengalir kembali sehingga api bisa menyala kembali.

Proses pengerjaan pembersihan ini ditargetkan bakal rampung selama satu minggu.

"Nanti pakai teknik flushing yakni pembersihan agar lumpur-lumpur yang menyumbat bisa terangkat, gasnya bisa mengalir kembali," terangnya.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jawa Tengah,  Agus Sugiharto sebelumnya mengaku sudah menerjunkan tim ke Grobogan untuk meneliti penyebab api abadi padam.

Api Abadi Mrapen merupakan tempat wisata yang menyuguhkan sumber api alami yang muncul dari aktivitas alamiah gas bumi di kawasan tersebut.

Tempat itu  tersohor lantaran menjadi sumber nyala api obor pesta olahraga nasional seperti Pekan Olahraga Nasional (PON).

Bagi warga sekitar, api Mrapen juga dikaitkan dengan cerita persinggahan Sunan Kalijaga dan dikaitkan dengan Empu Supo, seorang ahli pembuat keris sakti di zaman Majapahit.

Tempat itu dianggap sakral sehingga besar meredupnya api abadi Mrapen selalu dikaitkan sebagai pertanda bahaya seperti munculnya bencana alam.

"Iya, kami terjunkan tim hari ini ke Mrapen Grobogan untuk menyelidiki penyebab Kematian api tersebut," ujarnya.

Agus menjelaskan, api abadi Mrapen bisa saja padam karena rekahan-rekahan sebagai penyalur gas ke  reservoir atau tempat sumber gas terhambat oleh sedimen atau kerak di antaranya lumpur.

Ia juga menyebut, sumber gas dalam reservoir tersebut dimungkinkan juga berkurang karena telah berusia ratusan tahun.

Terlebih, di sekitar Mrapen sebelumnya ada aktivitas penggalian sumur yang mempercepat berkurangnya gas dalam reservoir.

"Kami sedang mengupayakan mencari sumber penyumbatannya tersebut, semisal tersumbat oleh sedimen lumpur kami masih cari titik lokasinya di mana agar nanti kami perbaiki," jelasnya.

Ia tidak memungkiri sumber gas abadi Mrapen juga bisa habis. Kejadian matinya sumber api ini juga pernah terjadi pada September 2020.

Kala itu, penyebab padamnya Mrapen karena ada proses pelapukan secara fisika maupun kimia di rekahan-rekahan yang menjadi tempat saluran gas ke api Mrapen.

Pihaknya kini masih mencari sumber gas lainnya semisal sumber gas Mrapen ini nantinya sudah habis.

"Di dunia itu tidak ada keabadian yang abadi itu ketidakabadian itu sendiri.  Artinya semuanya itu faktor alam. Tahu sendiri yang namanya gas itu kan sumber energi yang tidak terbarukan," katanya.

Baca juga: Dampak Perluasan Penggerobak dan Mas JOS, Kasus Pembuangan Sampah Liar di Kota Yogya Melandai

Pernah Padam Delapan Bulan

Berdasarkan catatan Tribun, Api Abadi Mrapen pernah padam total pada September 2020 silam.

Delapan bulan kemudian api Abadi Mrapen sudah kembali menyala selepas ditangani oleh tim Geologi.

"Api Abadi Mrapen kembali  dibuka setahun ini selepas selepas dihantam pandemi dan matinya sumber api," ujar  Tenaga Teknis Api Abadi Mrapen, Davi Dyanto (40) kepada Tribun Jateng, Senin (21/11/2022) silam.

Nyala api abadi Mrapen diklaim sekarang lebih besar dibandingkan dengan nyala api sebelum padam dua tahun lalu.

Padamnya Api Abadi Mrapen diduga akibat adanya aktivitas pengeboran sumur yang berjarak hanya 200 meter.

Pengeboran dilakukan oleh perusahaan ritel yang hendak membuka toko minimarket.

Pengeboran diduga berdiameter lebih luas sehingga mengakibatkan api Mrapen padam.

"Tapi kandungan gas metana di api abadi Mrapen masih ada sehingga masih bisa nyala," jelasnya.

Ia mengatakan, api abadi Mrapen kembali menyala selepas dilakukan pengeboran kembali.

Selepas menemukan sumber gas baru, secara bersamaan dipasang pula alat bantu berupa tabung yang menekan gas yang keluar dari tanah.

Maka ketika terdapat kelebihan gas keluar dapat ditekan, sebaliknya ketika gas keluar kecil dapat dinaikan.

"Alat tabung itu membantu untuk mengatur nyala api Mrapen," beber Davi.

Selepas kejadian itu, ia menuturkan, warga sekitar ketika ada pengeboran harus  ada pemberitahuan atau izin ke pihak ESDM sehingga nantinya didampingi.

Namun aktivitas pengeboran  kian jarang ditemukan lantaran warga sekitar menggunakan PDAM.

Berbeda halnya di area persawahan di sekitar Mrapen yang seringkali muncul sumber gas alami yang ditandai dengan gelembung air disusul bau gas yang menyengat.

"Air lumpur di persawahan sini ketika ditemukan gas juga sedotan lumpurnya lebih dalam," katanya.

Artikel ini sudah tayang di Tribun Jateng

Sumber: Tribun Jateng
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved