Dishub DIY Gelar Bimtek Kelistrikan bagi Pengemudi Becak Listrik dan Andong
Bimtek ini diselenggarakan dalam dua angkatan, di mana masing-masing angkatan diikuti oleh sekitar 45 peserta pengemudi becak dan andong
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Untuk menyiasati hal ini, para pengemudi untuk sementara waktu diarahkan ke bengkel-bengkel lokal yang sudah memahami teknis kelistrikan armada tersebut.
"Sebenarnya dari masing-masing vendor penyedia kemarin tuh sudah kita minta untuk mereka semacam ada layanan purna jual lah. Cuma memang saat ini, secara bengkel resmi yang ada di DIY kan belum ada. Jadi mereka biasanya ke tempatnya Pak Dul ini atau ke tempat Pak Win, yang memang secara harian mereka cukup tahu lah terkait kendaraan elektrikal ini," ungkap Sapto.
Pihak Dishub DIY mencatat bahwa operasional becak listrik sejauh ini berjalan cukup lancar.
Kendala yang dialami oleh para pengemudi masih tergolong kerusakan minor yang umumnya disebabkan oleh kesalahan prosedur pengisian daya atau kekeliruan dalam perawatan harian, dan belum ditemukan kasus kerusakan yang bersifat fatal.
Minim Bengkel dan Suku Cadang
Sejumlah pengemudi becak listrik di kawasan wisata Malioboro, Kota Yogyakarta, mengeluhkan minimnya fasilitas perbaikan dan sulitnya mendapatkan suku cadang (onderdil) di pasaran.
Meskipun penggunaan becak bertenaga listrik dinilai jauh lebih nyaman secara operasional, keterbatasan infrastruktur pendukung masih menjadi kendala utama bagi para penyedia jasa transportasi tradisional tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Mardiono, salah seorang pengemudi becak listrik yang sehari-hari mencari penumpang di kawasan Malioboro.
Pria yang telah mengoperasikan becak listrik sekira 2 tahun ini menyebutkan bahwa perbaikan mesin dan kelistrikan menjadi masalah utama jika terjadi kerusakan mendadak.
"Kalau masalah operasional becak listrik sebenarnya nyaman dan tidak ada kendala berarti. Namun, jika ada kerusakan seperti masalah kelistrikan, kami cukup kerepotan karena bengkelnya jauh dari pusat kota," ujar Mardiono.
Lebih lanjut, Mardiono menjelaskan bahwa ketersediaan bengkel khusus becak listrik masih sangat terbatas.
Saat ini, hanya terdapat dua bengkel rujukan yang lokasinya berada di luar pusat kota Yogyakarta, yakni di Condongcatur (Kabupaten Sleman) dan di Kabupaten Bantul. Jarak tempuh dari Malioboro menuju lokasi bengkel tersebut dinilai menyulitkan, terlebih jika becak dalam kondisi mogok.
Selain masalah lokasi bengkel, kelangkaan suku cadang juga menjadi tantangan. Menurut Mardiono, suku cadang becak listrik tidak dijual bebas di bengkel umum.
"Alat-alat dan onderdilnya belum tersedia secara luas di pasaran. Jadi, kalau kami butuh perbaikan atau ganti suku cadang, harus datang langsung ke tempat bengkel khusus tersebut," keluhnya.
Walaupun dihadapkan pada kendala perawatan, inovasi moda transportasi becak listrik di Yogyakarta ini tetap dirasakan manfaat positifnya oleh para pengemudi untuk mengurangi beban fisik di jalan.
Mereka berharap ke depannya pemerintah atau pengelola terkait dapat mempermudah akses ketersediaan suku cadang dan bengkel di area yang lebih terjangkau dari pusat kota. (*)
| Saatnya Yogyakarta Bertransformasi Menuju Kota Hijau Rendah Emisi |
|
|---|
| Rencana Malioboro Bebas Asap Kendaraan Bermotor, Ini Langkah Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta |
|
|---|
| Pemda DIY Buka Ruang Kolaborasi dengan BUMN dan Swasta untuk Pengadaan Becak Listrik di Yogyakarta |
|
|---|
| Sri Sultan HB X: Produksi Berkelanjutan Becak Listrik Malioboro Tunggu Masukan Publik |
|
|---|
| KAI Daop 6 Yogyakarta Serahkan Bantuan 50 Becak Listrik di Kota Yogyakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261706-Bimtek-pengemudi-becak-listrik.jpg)