Dishub DIY Gelar Bimtek Kelistrikan bagi Pengemudi Becak Listrik dan Andong
Bimtek ini diselenggarakan dalam dua angkatan, di mana masing-masing angkatan diikuti oleh sekitar 45 peserta pengemudi becak dan andong
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Perhubungan (Dishub) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menyelenggarakan Bimbingan Teknis (Bimtek) bagi para pengemudi becak listrik dan andong di wilayah Yogyakarta.
Pelatihan ini difokuskan pada edukasi teknis kelistrikan, perawatan kendaraan, serta peningkatan wawasan pariwisata guna menunjang kelancaran operasional 340 unit becak listrik yang kini telah mengaspal di DIY.
Kepala Bidang Angkutan Dinas Perhubungan (Dishub) DIY, Wulan Sapto Nugroho, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pendistribusian becak listrik kepada para pengemudi.
Bimtek ini diselenggarakan dalam dua angkatan, di mana masing-masing angkatan diikuti oleh sekitar 45 peserta yang terdiri dari pengemudi becak dan andong yang telah menerima unit kendaraan.
"Jadi kami, Dinas Perhubungan DIY, melakukan Bimtek ya untuk teman-teman, khususnya pengemudi becak listrik. Ini kaitannya tindak lanjut kemarin, kami dari dinas sudah ada banyak sekali becak listrik. Teman-teman pengemudi ini perlu juga dapat informasi, baik itu secara teknis elektrikal seperti ini, ataupun juga dari misalkan seperti semacam pelatihan bahasa Inggris. Kemudian, bisa untuk menjelaskan bahwa adanya sejarah Sumbu Filosofi dan sejarah Kota Yogyakarta. Intinya untuk meningkatkan kemampuan mereka lah dalam melayani masyarakat, khususnya wisatawan," papar Sapto di temui di Kompleks Kepatihan, Rabu (17/6/2026).
Fokus Utama
Salah satu fokus utama dalam pelatihan ini adalah mengedukasi pengemudi mengenai tata cara pengisian daya baterai (charging).
Berbeda dengan kendaraan listrik modern lainnya, spesifikasi becak listrik yang beroperasi di DIY belum mendukung fitur pengisian daya cepat fast charging).
Sapto menekankan adanya potensi bahaya jika pengemudi menukar alat pengisi daya antar-vendor.
"Karena mereka belum tahu ngecasnya itu seperti apa. Kemudian kenapa kok lama? Ya ternyata karena memang ini speknya kan tidak seperti motor atau mobil yang ada fast charging ya, ini kan casnya cas biasa jadi memang perlu waktu sekitar 3 sampai 4 jam. Kemudian dalam mengecas juga tadi disampaikan jangan ditukar-tukar, karena kebetulan di kita ini kan ada beberapa jenis becak dari vendor yang berbeda. Nah, ternyata itu ada masing-masing speknya. Ini yang tidak boleh saling tukar, nanti takutnya ada sesuatu hal yang berbahaya gitu. Ini yang kami sampaikan biar mereka tahu," tegas Sapto.
Terkait dengan fasilitas pengisian daya, Pemda DIY telah menyediakan satu Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) yang berlokasi di area Parkir Ketandan dan telah beroperasi sejak tahun 2024.
Meskipun demikian, Sapto memastikan bahwa pengisian daya becak listrik juga dapat dilakukan menggunakan instalasi listrik rumah tangga tangga, sehingga pengemudi tidak mutlak bergantung pada fasilitas SPKLU khusus.
Ke depan, Dishub DIY merencanakan penambahan fasilitas pengisian daya yang lebih dekat dengan kawasan Malioboro.
Hingga saat ini, total armada becak listrik yang beroperasi di DIY mencapai 340 unit.
Jumlah tersebut merupakan gabungan dari pengadaan Pemda DIY sebanyak 90 unit, program Corporate Social Responsibility (CSR) dari PT KAI sebanyak 50 unit, serta Bantuan Presiden sebanyak 200 unit.
Baca juga: UMY Izinkan Mahasiswa Turun ke Jalan, Imbau Dosen Fleksibel Soal Perkuliahan
Perawatan dan Perbaikan
Dalam hal perawatan dan perbaikan, Dishub DIY mengakui bahwa bengkel resmi khusus becak listrik belum tersedia secara komprehensif di DIY.
Untuk menyiasati hal ini, para pengemudi untuk sementara waktu diarahkan ke bengkel-bengkel lokal yang sudah memahami teknis kelistrikan armada tersebut.
"Sebenarnya dari masing-masing vendor penyedia kemarin tuh sudah kita minta untuk mereka semacam ada layanan purna jual lah. Cuma memang saat ini, secara bengkel resmi yang ada di DIY kan belum ada. Jadi mereka biasanya ke tempatnya Pak Dul ini atau ke tempat Pak Win, yang memang secara harian mereka cukup tahu lah terkait kendaraan elektrikal ini," ungkap Sapto.
Pihak Dishub DIY mencatat bahwa operasional becak listrik sejauh ini berjalan cukup lancar.
Kendala yang dialami oleh para pengemudi masih tergolong kerusakan minor yang umumnya disebabkan oleh kesalahan prosedur pengisian daya atau kekeliruan dalam perawatan harian, dan belum ditemukan kasus kerusakan yang bersifat fatal.
Minim Bengkel dan Suku Cadang
Sejumlah pengemudi becak listrik di kawasan wisata Malioboro, Kota Yogyakarta, mengeluhkan minimnya fasilitas perbaikan dan sulitnya mendapatkan suku cadang (onderdil) di pasaran.
Meskipun penggunaan becak bertenaga listrik dinilai jauh lebih nyaman secara operasional, keterbatasan infrastruktur pendukung masih menjadi kendala utama bagi para penyedia jasa transportasi tradisional tersebut.
Hal itu diungkapkan oleh Mardiono, salah seorang pengemudi becak listrik yang sehari-hari mencari penumpang di kawasan Malioboro.
Pria yang telah mengoperasikan becak listrik sekira 2 tahun ini menyebutkan bahwa perbaikan mesin dan kelistrikan menjadi masalah utama jika terjadi kerusakan mendadak.
"Kalau masalah operasional becak listrik sebenarnya nyaman dan tidak ada kendala berarti. Namun, jika ada kerusakan seperti masalah kelistrikan, kami cukup kerepotan karena bengkelnya jauh dari pusat kota," ujar Mardiono.
Lebih lanjut, Mardiono menjelaskan bahwa ketersediaan bengkel khusus becak listrik masih sangat terbatas.
Saat ini, hanya terdapat dua bengkel rujukan yang lokasinya berada di luar pusat kota Yogyakarta, yakni di Condongcatur (Kabupaten Sleman) dan di Kabupaten Bantul. Jarak tempuh dari Malioboro menuju lokasi bengkel tersebut dinilai menyulitkan, terlebih jika becak dalam kondisi mogok.
Selain masalah lokasi bengkel, kelangkaan suku cadang juga menjadi tantangan. Menurut Mardiono, suku cadang becak listrik tidak dijual bebas di bengkel umum.
"Alat-alat dan onderdilnya belum tersedia secara luas di pasaran. Jadi, kalau kami butuh perbaikan atau ganti suku cadang, harus datang langsung ke tempat bengkel khusus tersebut," keluhnya.
Walaupun dihadapkan pada kendala perawatan, inovasi moda transportasi becak listrik di Yogyakarta ini tetap dirasakan manfaat positifnya oleh para pengemudi untuk mengurangi beban fisik di jalan.
Mereka berharap ke depannya pemerintah atau pengelola terkait dapat mempermudah akses ketersediaan suku cadang dan bengkel di area yang lebih terjangkau dari pusat kota. (*)
| Saatnya Yogyakarta Bertransformasi Menuju Kota Hijau Rendah Emisi |
|
|---|
| Rencana Malioboro Bebas Asap Kendaraan Bermotor, Ini Langkah Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta |
|
|---|
| Pemda DIY Buka Ruang Kolaborasi dengan BUMN dan Swasta untuk Pengadaan Becak Listrik di Yogyakarta |
|
|---|
| Sri Sultan HB X: Produksi Berkelanjutan Becak Listrik Malioboro Tunggu Masukan Publik |
|
|---|
| KAI Daop 6 Yogyakarta Serahkan Bantuan 50 Becak Listrik di Kota Yogyakarta |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261706-Bimtek-pengemudi-becak-listrik.jpg)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.