PMII DIY Ajak Mahasiswa Suarakan Hak Rakyat Tanpa Aksi Anarkis
Mahasiswa mengemban tanggung jawab moral yang besar sebagai penyambung lidah masyarakat kelas bawah yang kerap terhimpit ketidakadilan.
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- PMII DIY mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada satu narasi dan mampu mengkaji isu nasional secara mendalam.
- Mahasiswa dinilai memiliki tanggung jawab moral untuk menyuarakan kepentingan masyarakat serta mengawal isu secara komprehensif.
- PMII DIY mendorong gerakan mahasiswa yang persuasif dan konstitusional melalui penguatan pemahaman kebijakan publik.
TRIBUNJOGJA.COM - Pergerakan mahasiswa dalam merespons berbagai isu nasional yang kian menghangat kini dituntut adaptif dan mengedepankan substansi.
Mahasiswa pun diharapkan tidak hanya terjebak dalam pusaran opini permukaan, melainkan mampu membaca situasi secara mendalam dan lebih seksama.
Hal tersebut ditegaskan Ketua PC Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) DIY, Muh. Faisal, di sela agenda Sekolah Kebijakan Publik bertajuk "Dari Jalanan ke Kebijakan" yang digelar di Balai Diklat Industri Yogyakarta, Jumat (12/6/26).
Ia mengungkapkan, di tengah dinamisnya kondisi tanah air, tantangan terbesar mahasiswa saat ini adalah konsistensi dalam mengawal isu secara komprehensif tanpa kehilangan arah.
"Kami di internal PMII pun selalu membaca situasi dan kondisi isu nasional hari ini. Dan tentu kami takut dalam satu hal yang sering terjadi pada mahasiswa, yaitu terjebak dalam satu isu, terjebak pada satu narasi. Itu yang kami hindari," ujarnya.
Tanggung jawab moral mahasiswa
Faisal menandaskan, isu-isu krusial mulai dari sektor ekonomi hingga bayang-bayang militerisme memerlukan pembacaan yang lebih mendalam dari kalangan intelektual muda.
Baginya, mahasiswa mengemban tanggung jawab moral yang besar sebagai penyambung lidah masyarakat kelas bawah yang kerap terhimpit ketidakadilan.
"Mahasiswa adalah bagian yang paling bertanggung jawab atau berperan penting untuk menyuarakan hal itu. Kami di PMII selalu berkomitmen menyuarakan demikian," ungkapnya.
Menyikapi metode penyampaian aspirasi yang kerap diwarnai ketegangan di lapangan, Ia menilai gerakan yang berujung pada tindakan anarkis sudah tidak relevan dengan urgensi hari ini.
Menurutnya, gerakan yang bersifat spontanitas tanpa dasar yang kuat justru seringkali melahirkan paradoks dan merugikan masyarakat luas.
Faisal menganalogikan gerakan tanpa metodologi yang matang tersebut bak "menjala angin", atau dapat diartikan melelahkan namun tanpa hasil nyata.
"Peran mahasiswa adalah sebagai agent of change. Tentu perubahan itu harus dilakukan. Tapi, melalui cara dan metodologi yang berbeda hari ini. Pendekatan persuasif dan gerakan konstitusional jauh lebih memungkinkan karena kita hidup di negara hukum," jelasnya.
Oleh sebab itu, melalui Sekolah Kebijakan Publik, PC PMII DIY mencoba menggodok kapasitas kadernya supaya tidak hanya cakap di atas podium jalanan, namun juga paham bagaimana sebuah regulasi dilahirkan.
Agenda kaderisasi nonformal tersebut diikuti oleh lebih kurang 45 peserta yang berasal dari Yogyakarta dan beberapa daerah di Jawa Tengah.
| Gelombang Demontrasi Meluas, Prof Masduki: Ini Akumulasi Kecewa Kinerja Prabowo-Gibran |
|
|---|
| Pertamax Naik, DEMA UIN SUKA Yogyakarta: Kesehatan Fiskal Tak Boleh Abaikan Daya Beli Masyarakat |
|
|---|
| Jambore dan Olimpiade Bela Negara: Persaudaraan Dalam Bingkai Kebhinekaan |
|
|---|
| SEMA UGM Siap Turun ke Jalan |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik, Pemkot Yogyakarta Lakukan Penyesuaian Anggaran Operasional Kendaraan Dinas |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/PMII-DIY-Ajak-Mahasiswa-Suarakan-Hak-Rakyat-Tanpa-Aksi-Anarkis.jpg)