Harga Pertamax Naik
Warga Khawatir Kenaikan Harga BBM Pertamax Picu Efek Domino Ekonomi
Kenaikan yang terbilang drastis sontak memukul isi dompet warga, terutama yang selama ini mengandalkan Pertamax untuk mobilitas harian.
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Hari Susmayanti
“Karena ini kan isu global, tidak hanya tentang ojol. Kami memang sudah ada koordinasi dengan teman-teman lain. Kami menilai sekarang pemerintah sudah ugal-ugalan banget, enggak mikirin rakyatnya,” terang dia
Rie megatakan, pascapengumuman kenaikan harga Pertamax, saat ini orderan dinilai sangat menurun drastis, dipengaruhi daya beli masyarakat yang ikut menurun.
Untuk mengatasi kesulitan itu, Rie bersama teman-teman ojol lainnya melakukan pendataan SPBU yang menyedikan layanan Mypertamina jalur khusus.
Kaget
Rina Haryati, warga Wates, Kulon Progo, mengaku kaget atas selisih kenaikan harga Pertamax yang terbilang tinggi.
Ia mengetahui naiknya harga Pertamax dari media sosial serta dari status WhatsApp rekan-rekannya.
Adapun kemarin ia mengisi motornya dengan Pertamax senilai Rp25.000.
Biasanya, Rina bisa mendapat sampai dua liter Pertamax untuk motornya, tapi kali ini kurang dari itu.
Ia pun sampai bertanya ke petugas guna memastikan apakah harganya benar-benar naik.
"Sebenarnya saya sudah tahu, cuma tetap kaget karena ternyata harga Pertamax beneran naik," kata Rina ditemui seusai mengisi Pertamax di SPBU 44.55.602 Wates, Rabu siang.
Meski begitu, ia belum ingin pindah ke Pertalite dengan alasan penggunaan Pertamax akan membuat mesin motornya terjaga dengan baik.
Namun, ke depannya ia akan lebih berhemat untuk membeli Pertamax.
Kepala Unit SPBU 44.55.602 Wates, Linda Kusdahliyana mengatakan info kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 baru diterima pada Selasa (9/6/2026), jelang tengah malam.
Biasanya, informasi perubahan harga disampaikan sekitar pukul 22.00 WIB, sehari sebelum penerapan.
Lantaran baru mendapat informasi jelang tengah malam, ia mengatakan tidak ada penumpukan kendaraan yang hendak membeli Pertamax kemarin.
Rabu kemarin juga belum terlihat dampak yang signifikan seusai kenaikan harga. Ia memperkirakan akan ada migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite.
"Kemungkinan akan ada lonjakan untuk pendaftaran barcode di aplikasi Pertamina agar bisa membeli Pertalite," ujarnya.
Linda pun memastikan kenaikan harga tidak berpengaruh terhadap pasokan BBM. Sebab sejauh ini distribusinya tetap lancar, baik untuk BBM bersubsidi maupun nonsubsidi.
Konsumsi harian Pertalite di SPBU Wates mencapai 9.000-9.500 liter. Sedangkan untuk Solar, konsumsi hariannya bisa mencapai 7.000-8.000 liter.
"Pertamax konsumsi hariannya sekitar 2.000-2.500 liter," jelas Linda.
Stok
Area Manager Communication, Relation, & CSR Pertamina Patra Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan, mengatakan stok BBM di wilayah DIY saat ini terbilang aman.
Ketersediaan Pertalite saat ini 12 kali lipat dari konsumsi normal, Solar mencapai 20 kali lipat konsumsi normal, Pertamax mencapai 18 kali lipat konsumsi normal, dan Pertamina Dex sebesar 18 kali lipat konsumsi normal.
"Stok aman banget di Rewulu dan di SPBU," katanya, Rabu.
Ia menerangkan, konsumsi masyarakat di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh produk subsidi yang tidak mengalami perubahan harga.
Pada segmen gasoline, konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dan Pertamax 25,9 persen, sementara Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen.
Sedangkan pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mencapai 96,6 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen.
Dengan komposisi tersebut, produk-produk yang mengalami penyesuaian harga, yakni Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, hanya mencakup sekitar 1,7 persen dari total konsumsi BBM di wilayah Jawa Bagian Tengah.
Sementara, lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang tidak mengalami penyesuaian harga.
Dengan demikian dampak penyesuaian harga terhadap masyarakat secara luas sangat terbatas.
Untuk mengantisipasi antrean panjang di SPBU, pihaknya akan melakukan evaluasi berkala pascaperubahan harga tersebut.
“Pertamina sebagai operator menjalankan penyesuaian harga BBM nonsubsidi sesuai ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku, dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat,” imbuhnya. (aka/rif/hda/alx/maw)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20261006-Pengisian-BBM-di-SPBU-di-Kulon-Progo.jpg)