Harga Pertamax Naik

Warga Khawatir Kenaikan Harga BBM Pertamax Picu Efek Domino Ekonomi

Kenaikan yang terbilang drastis sontak memukul isi dompet warga, terutama yang selama ini mengandalkan Pertamax untuk mobilitas harian.

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu N | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Alexander Aprita
ISI BBM - Aktivitas pengisian BBM di SPBU Wates, Kulon Progo, pada Rabu (10/06/2026). Pertamina telah menaikkan harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 mulai 10 Juni 2026. 

Pasalnya, sebelum banderol BBM dikerek naik, ia dan keluarganya sudah lebih dulu megap-megap menghadapi lonjakan harga barang-barang kebutuhan pokok di pasar.

"Ya sebelum Pertamax naik saja harga bahan-bahan pokok sudah melejit. Istriku sudah sambat (mengeluh) dari kemarin-kemarin itu, apa-apa naik, kebutuhan sehari-hari semakin mahal. Belum lagi token listrik rasanya kok lebih cepat habis sekarang," tuturnya.

Burhanadi bilang, melemahnya nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini diakuinya sudah menjadi alarm awal yang menakutkan bagi masyarakat kelas pekerja. 

Efek domino dari kenaikan BBM pun diprediksi bakal membuat harga barang-barang lain semakin tak terjangkau dan disebutnya lebih meresahkan dibandingkan dengan masa-masa sulit pandemi Covid-19 silam.

"Apalagi pemerintah kesannya kayak menyepelekan ya, seolah enggak peduli dengan gejolak di masyarakat bawah. Sudah banyak ekonom yang memperingatkan, tolong bisa ditindaklanjuti. Setidaknya bikin harga-harga kebutuhan itu stabil, jangan sampai tidak terjangkau lagi oleh masyarakat kecil," cetusnya.

Namun begitu, ia mengaku tidak terpikir untuk beralih ke Pertalite yang lebih murah. 

Ia memprediksi bahwa kenaikan harga Pertamax ini justru akan membuat antrean konsumen Pertalite semakin menggila. 

“Terus, takutnya Pertalite malah jadi langka juga di lapangan," pungkasnya. 

Kecewa

Warga Tridadi, Sleman, Akhir Supriyanto, sebagai pengguna setia Pertamax untuk seluruh kendaraan operasional keluarganya, khawatir kenaikan harga BBM ini memicu efek domino ke harga kebutuhan pokok.

"Kami selaku peminat Pertamax sangat kecewa, karena kenaikannya sampai kayak gitu. Apalagi, nantinya, ibaratnya ekonomi akan berubah. (Harga) kebutuhan rumah tangga akan semakin meningkat juga," keluhnya, ditemui seusai isi BBM di SPBU Pangukan, Rabu.

Ia biasanya mengalokasikan anggaran BBM satu sepeda motornya Rp30.000 setiap tiga hari sekali. 

Dengan total tiga unit sepeda motor yang digunakan untuk aktivitas harian,- seperti antar-jemput anak sekolah,--ia terpaksa harus merogoh kocek lebih dalam untuk memenuhi kebutuhan transportasi.

Meski harga melonjak tajam, ia mengaku enggan beralih ke BBM bersubsidi jenis Pertalite. Faktor efisiensi waktu dan performa kendaraan menjadi alasan utamanya bertahan. 

"Saya tidak mau pindah ke Pertalite karena antreannya terlalu lama," kata Supriyanto, sembari berharap harga BBM bisa disesuaikan kembali agar lebih terjangkau.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved