Cerita Rixie, Penyandang Low Vision Hadapi Asumsi Negatif dalam Mencari Kerja
Menggunakan tongkat identifikasi, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu mengunjungi satu per satu booth perusahaan.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Rixie, seorang lulusan difabel low vision, menghadiri jobfair di UNY untuk diobservasi dan mencari trik agar bisa diterima kerja.
- Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah stigma dan asumsi negatif pemberi kerja terhadap kemampuan kerja para penyandang disabilitas.
- Jobfair yang digelar Disnakertrans DIY ini melibatkan 43 perusahaan dan diharapkan mampu menyerap hingga 75 persen pencari kerja.
Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Asumsi negatif terhadap penyandang disabilitas membuat Rixie (25) sedikit kesulitan dalam memperoleh pekerjaan. Ia adalah penyandang disabilitas low vision yang mengalami gangguan penglihatan. Meski masih bisa melihat, namun pengelihatannya sangat terbatas.
Untuk memperoleh informasi lowongan pekerjaan, ia sengaja datang ke jobfair yang digelar Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY di Auditorium UNY, Rabu (10/6/2026). Ia mengunjungi sekitar tujuh booth perusahaan pemberi kerja.
Gunakan tongkat identifikasi
Menggunakan tongkat identifikasi, alumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu mengunjungi satu per satu booth perusahaan. Ia berhenti dan menanyakan beberapa hal kepada petugas. Ia juga mencatat beberapa hal penting di gawainya.
Kedatangannya ke jobfair bukan langsung untuk melamar pekerjaan, namun melakukan observasi.
"Jadi motivasinya ke jobfair ini lebih ke tanya-tanya soal apa yang membuat pelamar gagal, terus apa yang bikin perusahaan ragu untuk nerima orang itu apa. Lebih ke mencari trik agar bisa diterima ke perusahaan," katanya, Rabu (10/6/2026).
Menurut dia, saat ini banyak lowongan pekerjaan tersedia. Sebelum datang ke jobfair pun ia sudah melamar ke beberapa perusahaan, namun belum mendapatkan panggilan.
Tantangan
Tantangan yang ia hadapi ialah asumsi pemberi kerja terhadap kemampuan kerja disabilitas.
"Aku pribadi yang susah adalah meyakinkan orang lain kalau aku bisa kerja. Ketika nemuin orang difabel itu ada asumsi, wah anak cacat nih, kayaknya nggak bisa kerja deh. Itu yang bikin repot, karena sudah ada asumsi duluan di kepalanya," jelasnya.
Sebagai lulusan Komunikasi Penyiaran tahun 2025 lalu, ia memiliki ketertarikan pada pengelolaan media sosial. Pada jobfair kali ini, ia mengincar posisi sosial media spesialist. Pendidikannya pun dipandang relevan dengan posisi yang ia incar.
Terpisah, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY, Ariyanto Wibowo menerangkan ada 43 perusahaan pemberi kerja yang terlibat. Ada 394 jabatan yang tersedia dengan kebutuhan SDM mencapai 2.671 orang.
Menurut dia, jobfair memiliki peran strategis dalam menekan angka pengangguran di DIY. Pasalnya jobfair dapat menyerap sekitar 70 persen pencari kerja yang datang. Pada jobfair kali ini, ia berharap jobfair dapat menyerap 75 persen pelamar yang mendaftar. Berdasarkan data sementara ada sekitar 1.400 pencari kerja yang mendaftar.
"Melalui jobfair ini kami berharap memperluas akses informasi pasar kerja, mempercepat penempatan tenaga kerja, serta memperkuat hubungan pencari kerja dengan dunia usaha dan dunia industri," terangnya. (maw)
| Open House HUT Ke-79 Pemkot Yogya, Warga Keluhkan Bising Diskotek hingga SPPG Tak Berizin |
|
|---|
| Harga BBM Nonsubsidi Tembus Rp 16.250, Pemda DIY Kencangkan Ikat Pinggang |
|
|---|
| Update Laporan Aktivitas Kegempaan Gunung Merapi Rabu 10 Juni 2026 Siang |
|
|---|
| Resmi Tinggalkan PSIM Yogyakarta, Ikhsan Chan Pilih Pulang Kampung |
|
|---|
| Pertamax Melejit, Warga Jogja Menjerit: Lebih Meresahkan Dibanding Zaman Covid-19! |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Rixie-Penyandang-Low-Vision-Hadapi-Asumsi-Negatif-dalam-Mencari-Kerja.jpg)