Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Hari ke-17 Teror Api Seyegan: Keluarga Korban Berharap Pendampingan Nyata dari Pemerintah

Keluarga korban terdampak kini berada dalam kondisi cukup memprihatinkan, baik secara psikologis maupun finansial.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Kondisi rumah di Seyegan Sleman yang masih terus mendapat teror api. 

Ringkasan Berita:
  • Fenomena teror api di rumah Agusyani di Kasuran telah berlangsung 17 hari dengan total 113 kejadian kebakaran acak.
  • Kebakaran berulang melumpuhkan usaha keluarga, menguras kondisi psikologis, dan memaksa sebagian besar barang rumah tangga dipindahkan ke luar rumah.
  • Keluarga berharap bantuan pemerintah dan kepastian ilmiah dari penelitian para ahli untuk mengungkap penyebab fenomena tersebut.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Memasuki hari ke-17, fenomena langka berupa teror api acak yang melanda rumah Agusyani, di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman belum juga mereda. Hingga kini, rentetan kebakaran berulang, - baik letupan kecil maupun besar, - telah mencapai 113 kali kejadian. Bahkan kemunculan titik api ini sudah merembet hingga ke rumah tetangga.

Di tengah ancaman bahaya yang terus mengintai, keluarga korban terdampak kini berada dalam kondisi cukup memprihatinkan, baik secara psikologis maupun finansial. Mereka berharap ada uluran tangan serta pendampingan nyata dari pemerintah.

Berharap pemerintah membantu

Salah satu penghuni rumah, Mutfiana mengungkapkan harapan keluarganya yang kini harus bertahan hidup di tengah situasi yang serba terbatas. Ia berkeyakinan, kebakaran berulang ini murni merupakan fenomena alam, bukan kasus kebakaran biasa, sehingga penanganannya di luar kendali kemampuan keluarga.

"Harapan kami pemerintah membantu, mendampingi, kan kita juga ini fenomena alam bukan kami yang pengen, tapi ini terjadi dengan adanya alam itu sendiri. Jadi karena alam, kami minta tolong untuk bantuannya, dan untuk didampingi," kata Mutfiana, Senin (8/6/2026). 

Harapan akan hadirnya uluran tangan nyata dari pemerintah ini bukan tanpa alasan. Sebab rentetan kebakaran yang muncul selalu tak menentu, kapan dan di mana.

Lumpuhkan usaha, melelahkan

Imbas kondisi ini, melumpuhkan usaha pemotongan ayam yang merupakan tumpuan roda ekonomi keluarga. Aktivitas usaha mereka terhenti, membuat pendapatan keluarga merosot hingga hanya tersisa 15 persen dari kondisi normal.

Belum lagi dampak psikis, banyak barang perabotan yang tiba-tiba terbakar. Penghuni rumah dibantu relawan dan warga juga harus terus siap siaga, berjaga sepanjang 24 jam.

Hari hari yang sangat melelahkan. Air, handuk basah dan alat pemadam ringan (APAR) menjadi senjata utama untuk memadamkan setiap letupan api yang muncul. Kini, Mutfiana dan keluarga didera kelelahan tak berujung. Entah sampai kapan. 

Kondisi lantai dasar rumah pun kini hampir terbengkalai. Barang-barang telah keluarkan. Hal ini untuk meminimalisir api muncul. Keluarga telah mengosongkan hampir seluruh isi perabotan rumah.

"Sedikit demi sedikit barang di dalam rumah sudah mulai dikosongkan. Paling hanya tinggal 15 persen (yang ada di dalam). Sisanya terpaksa kami letakkan di luar, karena kami sendiri belum memiliki tempat penampungan sementara," ujarnya. 

Api juga muncul di rumah tetangga

Titik api yang tiba-tiba muncul bukan hanya terjadi di rumah Agusyani. Api telah membakar barang di rumah tetangga yang berada di sebelah utara, tepatnya rumah yang ditinggali Laila Putri Rahma Dewi. 

Properti yang terbakar milik tetangga Agusyani tersebut adalah kain kerudung yang sedang dijemur, tumpukan kayu dan selembar handuk yang hangus dilalap api pada Jumat dini hari.

Pola kejadiannya pun persis, tercium bau menyengat terlebih dahulu sebelum api tiba-tiba menyala. 

Saat ini, meski intensitas kemunculan api sempat menurun dalam beberapa hari terakhir, namun ancaman itu nyatanya belum benar-benar hilang.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved