Misteri Api di Rumah Warga Sleman

Kisah Keluarga di Seyegan Sleman 10 Hari Hadapi Teror Api yang Tak Berhenti

Dalam sehari, setidaknya ada tujuh hingga delapan letupan api misterius yang meneror rumah Mutfiana dan Agusyani di Kasuran, Seyegan, Sleman

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
TERBAKAR - Agusyani sedang menata barang-barang miliknya yang hangus terbakar dalam sepuluh hari terakhir. 
Ringkasan Berita:
  • Sehari, setidaknya ada tujuh hingga delapan kali letupan api misterius yang meneror rumah Mutfiana dan Agusyani di Kasuran, Margomulyo, Seyegan, Sleman
  • Teror ini tak mengenal waktu, sering kali justru dimulai saat jam-jam istirahat di tengah malam, memaksa seisi rumah terjaga dalam ketakutan. 
  • Relawan sengaja menyampirkan sebuah kaus di dalam kamar mandi pada Minggu (31/5) malam. Tak butuh waktu lama, Senin (1/6) dinihari kain tersebut sudah hangus terbakar. 

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kantung mata Mutfiana terlihat berat. Wajah letihnya tak bisa berbohong. Tapi ia memaksakan badan tetap berjaga.

Sepuluh hari terakhir, perempuan 29 tahun itu kurang tidur karena hanya terlelap tak lebih dari dua jam sehari. Itupun bergantian dengan enam anggota keluarga lainnya.

Sebab, rumah yang seharusnya menjadi tempat aman untuk merebahkan kepala, kini berubah menjadi arena melawan 'musuh' yang tak kasat mata yakni api yang tiba-tiba menyala.

"Kejadian (api menyala) acak 15 sampai 20 menit, terus ada yang 2 -3 jam, jadinya ya ketika lengah, lalu muter (buat mengontrol) sekitar rumah langsung ada api," kata Fia, Senin (1/6/2026). 

Fia adalah anak dari Agusyani, pemilik rumah di Dusun Mriyan X, Kasuran, Kalurahan Margomulyo, Seyegan, Kabupaten Sleman yang lebih dari sepekan terakhir mendapatkan teror api.

Ya, kemunculan api secara tiba-tiba yang membakar berbagai perabotan di dalam dan diluar di rumah ini sangat meresahkan. 

Dalam sehari, setidaknya ada tujuh hingga delapan kali letupan api misterius yang meneror rumah dua lantai mereka.

Teror ini tak mengenal waktu, sering kali justru dimulai saat jam-jam istirahat di tengah malam, memaksa seisi rumah terjaga dalam ketakutan. Bahkan, kejadian terbaru, fenomena langka ini sempat diuji oleh seorang relawan yang penasaran. 

Relawan sengaja menyampirkan sebuah kaus di dalam kamar mandi pada Minggu (31/5) malam. Tak butuh waktu lama, Senin (1/6) dinihari kain tersebut sudah hangus terbakar. 

Api yang membakar kaus di kamar mandi ini merupakan letupan ke-70. Di kamar mandi, api sudah membakar tiga kali. Setelah itu, letupan api terus muncul membakar kaus di kamar tengah. 

Kaus tersebut langsung dipadamkan menggunakan Alat Pemadam Api Ringan (APAR). Namun, selang beberapa waktu berikutnya, api kembali menyala. Total hingga Senin (1/6) sore, sudah 73 kali api muncul dan membakar berbagai barang di rumah Agusyani ini. 

Menguras tenaga dan finansial.

Sepuluh hari ini bukan sekadar tentang api yang membakar kain tikar, helm, boneka, sofa, bedcover, ataupun gulungan kabel. Bagi keluarga Agusyani, ini adalah sepuluh hari yang menguras fisik, psikis, dan finansial.

Rumah mereka bukan hanya tempat tinggal, melainkan juga ruang usaha pemotongan ayam. Kini, roda ekonomi itu macet. Konsumen didera ketakutan untuk datang dan mendekat ke area tersebut.

"Ibaratnya, biasa per hari kami bisa menerima uang Rp 100 ribu sampai Rp 200 ribu, sekarang (pemasukan) hanya Rp 8 ribu saja. Bayangkan, uang Rp 8 ribu untuk tujuh orang di rumah ini bagaimana caranya?" ujar Mutfiana.

Secara kalkulasi kasar, kerugian material yang diderita keluarga Agusyani dalam sepuluh hari ini telah mencapai di kisaran Rp 40 juta. 

Uang jutaan rupiah tersebut habis untuk upaya mandiri menyelamatkan rumah dari nyala api. Misalnya dengan menguras septic tank, yang semula diduga menjadi biang kerok kebocoran gas metana

Lalu mengganti saluran pipa paralon yang diduga mengalami kebocoran, hingga meninggikan jalur pernapasan saluran pembuangan. Belum lagi barang-barang berharga, pakaian, hingga tas dan seragam sekolah anak-anak yang hangus terbakar saat dijemur.

Tekanan beban psikologis keluarga Agusyani kian berat. Di dunia maya, narasi mistis dan penghakiman sepihak peristiwa ini dari netizen terus bermunculan. 

"Satu keluarga terus terang kami sudah tidak memegang hape lagi. Kami takut membaca komentar netizen (yang menghakimi)," akunya. 

Saat ini, keluarga hanya bisa melakukan tindakan spontan. Membuka lebar pintu dan jendela. Mengosongkan lantai dasar dari barang-barang yang memungkinkan bisa terbakar.

Jika api muncul, mereka siram. Selebihnya, mereka harus mengungsi, menumpang tidur di sebuah ruko kosong di sebelah utara rumah demi hidup lebih tenang dan menyelematkan nyawa.

Beragam upaya lain juga telah dilakukan. Termasuk rencana membongkar lantai rumah dan menambalnya dengan material yang lebih kokoh, namun keluarga terkendala biaya yang terlampau besar. 

Saat ini, langkah sementara, selain memindahkan barang barang yang mudah terbakar, keluarga berupaya mencari tempat penyewaan mesin blower guna mengurai konsentrasi gas yang terjebak di dalam kamar.

"Sejauh ini, segala biaya operasional masih ditanggung keluarga secara mandiri. Kami sangat bersyukur warga sekitar juga peduli dan sangat membantu kami," kata Mutfiana. 

Keberadaan gas alami 

Saat ini, di tengah beban berat itu, harapan perlahan muncul seiring turun tangannya para ahli lintas sektor, mulai dari ahli dari UGM, UPN "Veteran" Yogyakarta, BPPTKG, maupun personel dari BPBD Sleman. Misteri kemunculan api di rumah Agusyani ini mulai dikupas secara rasional, menjauhkan keluarga dari stigma mistis.

Wakil Dekan FTME UPN "Veteran" Yogyakarta, Dr. Ardian Novianto, S.T., M.T., menjelaskan bahwa tim yang telah turun ke lokasi menemukan indikasi kuat keberadaan gas alami di sekitar rumah Agusyani. 

Di aliran sungai Konteng, atau Bendung Slokan Gembung Krusuk, yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah korban, ditemukan gelembung-gelembung gas yang keluar perlahan dari air tapi secara kontinyu.

Namun belum bisa dipastikan gas tersebut, apakah sama dengan yang dirumah Agusyani atau tidak. Saat ini baru sebatas indikasi awal. 

"Indikasi awal ini adalah biogenic gas.  Gas biogenic adalah gas yang dihasilkan dari pembusukan. Disekitar sini (kemungkinan) ada rawa dan tersimpan menjadi metana, dan melebihi kemampuan, sehingga gas keluar secara alami," jelas Dr. Ardian. 

Gas yang tersimpan di dalam rawa purba ini diduga telah melebihi kapasitasnya untuk keluar secara alami ke permukaan.

Gas tersebut disinyalir bermigrasi mencari jalan keluar dengan menembus rekahan atau patahan kecil di dalam tanah, hingga akhirnya muncul berada tepat di bawah kediaman Agusyani.

Gas yang terjebak di material berpori rumah lalu bereaksi dengan suhu ruangan hingga memicu percikan api spontan.

"Semua yang terjadi bisa dijelaskan secara ilmiah. Ini baru langkah awal, nanti kita lihat apakah ada retakan retakan atau kekar yang bisa kami identifikasi di permukaan. Mungkin setelah kami diskusi lebih lanjut, geofisika, untuk mengidentifikasi ini," katanya. 

Analisis tentang keberadaan rawa purba dan biogenic gas dari tim ahli UPN ini diperkuat dengan cerita masyarakat setempat. 

Warga Nepen, Jingin Margomulyo, Sihono mengungkapkan bahwa sekira setahun lalu ada kebakaran hebat di sekitar rumpun bambu di tepian sungai jembatan Nepen tersebut. Warga saat itu belum mengetahui mengapa api tiba-tiba bisa muncul. 

"Iya dulu pernah ada kebakaran. Mungkin tahun lalu, di tepian sungai, api tiba-tiba mulad (menyala) sendiri," katanya. 

Peristiwa sama sebelumnya

Warga lain, Setiyani mengungkapkan hal yang sama. Menurutnya di sebelah timur pos ronda dusun Nepen, juga pernah ada kebakaran lahan tanpa diketahui penyebabnya. 

Kebakaran terjadi di waktu maghrib. Ia yang rumahnya berdekatan dengan pos ronda tersebut saat itu mengira ada yang membakar. Tapi aneh juga mengapa membakar lahan di waktu menjelang petang. 

"(Kejadian kebakaran) sekitar empat bulan yang lalu. Lalu sumur saya juga kering dan mau dikeduk (dibuat lebih dalam) baunya gas," kata dia. 

Jika analisis tentang rawa purba dan gas itu benar, sembari menunggu hasil penelitian lebih mendalam, Dr. Ardian merekomendasikan agar rumah Agusyani sementara waktu tidak ditinggali demi keselamatan. 

Tetapi masalahnya, bagi keluarga Agusyani, pindah bukanlah perkara mudah. Mereka sangat membutuhkan bantuan semacam hunian sementara dari Pemerintah dangan lokasi pengungsian yang tak jauh dari rumah agar mereka tetap bisa menjaga asa dan merintis kembali usaha yang menjadi urat nadi kehidupan keluarga.

Analisis tentang keberadaan gas ini, diperkuat hasil penelitian sementara dari BPPTKG. Penyelidik Bumi Muda BPPTKG, Aris Dwi Nugroho menjelaskan, mengapa fenomena kebakaran ini hanya terkonsentrasi di rumah Agusyani. 

Menurut Aris bahwa sejarah tapak tanah rumah tersebut menjadi kunci. Area yang kini menjadi rumah tinggal Agusyani dulunya merupakan area lahan persawahan.

Secara geologis, di bawah tanah wilayah itu terbentuk struktur kekar atau rekahan batuan (shear join) lokal yang membentang dari arah tenggara menuju barat laut.

"Kebetulan kalau lihat maps, rumah ini lebih ke arah tenggara Barat laut sehingga memang dia (gas) keluar disini, karena memang dia sesuai dengan shear (rekahan) yang ada dibawah (tanah),"ujar Aris. 

Selain di bawah rumah, jejak-jejak gas serupa dalam skala kecil juga ditemukan di sekitar rumpun bambu dekat Jembatan Nepen, sungai Konteng. Hal ini disebut memperjelas bahwa peristiwa aneh ini adalah fenomena struktur geologi lokal, bukan regional.

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved