Api Misterius Sleman, Dosen UGM: Kebakaran Terjadi Jika Ada Bahan Bakar, Oksigen, Sumber Api

Rumah di Sleman mengalami 40 kali kebakaran sejak 23 Mei 2026. Dugaan awal berasal dari kebocoran gas metana di septictank, namun api tetap muncul

Tayang:
Penulis: IWE | Editor: Iwan Al Khasni
Istimewa/Tangkapan layar video
Titik api muncul lagi membakar tumpukan kayu di belakang rumah Agus Yani di Kasuran, Seyegan, Sleman, Kamis malam. 

 

Ringkasan Berita:Rumah di Sleman mengalami 40 kali kebakaran sejak 23 Mei 2026. Dugaan awal berasal dari kebocoran gas metana di septictank, namun api tetap muncul meski saluran diperbaiki. Pakar UGM menilai kebakaran bisa dipicu campuran gas berbahaya, uap kimia, hingga faktor listrik.

 

Tribunjogja.com Sleman -- Sebuah rumah di Kasuran, Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menjadi sorotan publik setelah mengalami kebakaran sebanyak 40 kali sejak Sabtu (23/5/2026). 

Peristiwa ini bukan hanya mengejutkan warga sekitar, tetapi juga menimbulkan rasa takut karena api terus muncul meski saluran septictank telah diperbaiki.

Awalnya, dugaan mengarah pada kebocoran gas metana dari septictank. Gas ini dikenal mudah terbakar bila terjebak di ruang tertutup. Namun, setelah dilakukan perbaikan, api tetap muncul, seolah ada “teror api” yang tak kunjung berhenti.

Analisis Pakar

Menurut Prof. Chandra Wahyu Purnomo, Dosen Teknik Kimia UGM, kebakaran hanya bisa terjadi jika terpenuhi unsur segitiga api: bahan bakar, oksigen, dan sumber api. 

Ia menilai, kasus di Sleman kemungkinan bukan hanya melibatkan gas metana, melainkan campuran gas lain.

“Kalau metan terkumpul di ruang tertutup lalu tersulut, biasanya ledakan. Tetapi di rumah itu ada aktivitas pemotongan ayam, kemungkinan ada campuran gas lain,” jelasnya.

Gas lain yang mungkin terbentuk antara lain amonia (NH3) dan hidrogen sulfida (H2S). Kedua gas ini biasanya berbau menyengat, sehingga bisa terdeteksi. 

Namun, kombinasi dengan bahan kimia rumah tangga seperti peroksida atau klorin dapat menambah potensi kebakaran.

Potensi Slow Ignition

Prof. Chandra menambahkan, penggunaan desinfektan yang mengalir ke septictank bisa memicu reaksi kimia kompleks. 

Campuran gas dan uap kimia tersebut dapat menyebabkan slow ignition, yakni pembakaran lambat yang kemudian memicu api berulang.

Selain faktor gas, jalur listrik juga patut dicurigai. Kabel yang mengelupas atau lembab bisa menjadi pemicu kebakaran kecil yang berulang. Kombinasi antara gas mudah terbakar dan korsleting listrik menjadikan rumah tersebut seperti “bom waktu”.

Misteri yang Menarik Diteliti

Fenomena kebakaran berulang ini dinilai menarik untuk diteliti lebih lanjut. 

“Menarik sebenarnya untuk diteliti, tetapi kalau personal dosen harus ada mekanisme, termasuk pendanaan. Mungkin bisa lewat pengabdian masyarakat,” ujar Prof. Chandra.

Kasus ini membuka wacana bahwa kebakaran rumah tidak selalu sederhana. Ada kemungkinan interaksi kompleks antara limbah domestik, bahan kimia, dan faktor lingkungan yang menciptakan kondisi unik.

Dampak Sosial

Warga sekitar merasa resah dengan kejadian ini. Bayangan api yang muncul berulang kali menimbulkan ketakutan, sekaligus rasa penasaran. 

Tidak sedikit yang menganggap rumah tersebut “angker” karena kebakaran terus terjadi meski sudah diperbaiki.

Namun, dari sisi ilmiah, kasus ini adalah contoh nyata bagaimana limbah rumah tangga dan instalasi listrik bisa berinteraksi secara berbahaya.

Baca juga: Teror Api Muncul Lagi Bakar Tumpukan Kayu, Keluarga di Seyegan Terus Berjaga

Langkah Pencegahan

Untuk mencegah kejadian serupa, masyarakat disarankan:

  • Memeriksa instalasi listrik secara berkala.
  • Menggunakan detektor gas sederhana di rumah.
  • Mengelola limbah rumah tangga agar tidak bercampur dengan bahan kimia berbahaya.
  • Menghindari penggunaan desinfektan berlebihan yang bisa memicu reaksi kimia. (maw)
Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved