JOGJA HARI INI : Geng Pelajar, Tabir Gelap yang Harus Disingkap

seorang pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) berinisial AA (17) tewas akibat luka senjata tajam yang disabetkan oleh anggota geng pelajar

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: HAS | Editor: Hari Susmayanti
Tribun Jogja/Tribun Jogja
GENG PELAJAR: Foto ilustrasi hasil olah kecerdasan buatan (AI). Hasil interogasi sementara menunjukkan mereka merupakan anggota geng pelajar Voster, sementara korban AA adalah anggota geng Trah Gendeng 
Ringkasan Berita:
  • Geng pelajar di Yogyakarta makin mengkhawatirkan dengan aksi terstruktur, kepatuhan pada doktrin senior, transaksi taruhan uang jika kalah, hingga jatuhnya korban jiwa akibat senjata tajam.
  • Geng pelajar menerapkan rekrutmen ekstrem serta memiliki aturan baku dalam tawuran jalanan yang biasanya dilakukan pada dini hari.
  • Polda DIY beserta Polres jajaran menerapkan langkah preemtif, preventif, dan represif melalui patroli, program SSDP, serta gerakan "Ibu Memanggil" untuk membatasi jam malam anak.

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Fenomena geng pelajar di Yogyakarta benar-benar sangat mengkhawatirkan. 

Pemuda yang semestinya menjadi harapan bangsa justru bertindak di luar kendali di jalanan, terlebih saat dini hari. Sebagian dari anggota geng pelajar itu tak segan menganiaya, bahkan menghabisi lawannya..

Terbaru, seorang pelajar sekolah menengah kejuruan (SMK) berinisial AA (17) tewas akibat luka senjata tajam yang disabetkan oleh anggota geng pelajar, pada Minggu(17/5/2026) dini hari.

Peristiwa penganiayaan menggunakan senjata tajam itu bukan cerita fiksi.

Itu nyata dilakukan oleh anggota geng. Korbannya pun seorang pelajar. Penganiayaan juga diawali dari pernyataan saling tantang antara dua geng.

Tribunjogja berkesempatan mewawancarai salah satu pelajar SMA swasta berinisial A yang dulunya pernah menyelami dunia geng.

Dia sempat bergaul di satu geng pelajar tidak lebih dari satu bulan.

Baginya, pengalaman itu menjadi tamparan keras yang nyaris menghabiskan masa emasnya di jurang kegelapan.

Dia mengatakan setiap geng memiliki pola rekrutmen berbeda-beda.

Misalnya, geng yang sempat diikutinya menerapkan pola rekrutmen dengan menyerang anggota geng lawan.

Ada pula yang menerapkan perpeloncoan dengan cara memaksa calon anggota untuk merebut kunci motor milik salah satu anggota lawan ketika berada di markas atau di sekolah lawan.

Tentu saja risikonya geng lawan akan bereaksi dan bisa timbul pengeroyokan terhadap calon anggota geng yang sedang melaksanakan ujian seleksi. Kunci tersebut boleh dibuang atau ditunjukan ke anggota geng sebagai bukti bahwa dia telah berhasil selamat ketika merebut kunci motor dari geng lawan.

“Ada yang kayak di jalan itu diberhentiin terus diminta ribut. Kalau enggak OF (satu lawan satu) berantem,” ucapnya kepada Tribun Jogja, Selasa (19/5/2026).

Selama bergaul di lingkungan salah satu geng pelajar, A sempat merasakan adrenalin naik dari biasanya.

Dia berkeliling mengendarai motor bersama rekan-rekan satu geng tanpa tujuan.

Tiba pada suatu ketika, A ditawari temannya untuk bergabung. Namun dia tersadar bahwa bergabung dengan geng pelajar adalah keputusan konyol.

“Saya tolak ajakan itu, ya, alasannya mau pikir-pikir dulu. Karena saya sering kan dulu nongkrong sama mereka, keliling-keliling gitu,” jelasnya.

Seusai menolak ajakan itu, A perlahan menjauh dari kelompok tersebut. Mengasingkan diri supaya tidak terpengaruh dengan aktivitas mereka.

Namun persoalan tidak berhenti disitu. Selama tidak ada kabar, A terus dicari oleh anggota geng tersebut.

“Aku ditelepon terus, sempat mau dijadikan bank (mesin uang). Aku ditelepon mau ada acara, aku disuruh kasih ke mereka 200 ribu. Betul, kayak diperas gitu,” ungkapnya.

Karena tidak memiliki uang sebanyak yang diminta, A hanya memberikan uang Rp50 ribu, lalu memblokir nomor anggota geng tersebut.

Diakuinya, mayoritas geng pelajar ada campur tangan dari para senior.

Menurutnya para senior mengkoordinasi para pengurus serta para anggota geng pelajar.

Setiap keputusan geng menurut dia harus diketahui para senior. Bahkan setiap ada permasalahan internal juga tidak boleh diselesaikan dengan sepihak atau main hakim sendiri.

Dalam kata lain, para senior memiliki relasi kuasa yang tinggi dan bertanggung jawab pada geng pelajar tersebut. 

“Ya, kalau senior itu setiap geng mesti ada, kami yang di bawahnya itu harus izin seniornya dulu. Sebenarnya kalau saya bilangnya ACC, terus kalau ada masalah juga enggak langsung main hakim sendiri, harus izinkan seniornya, setiap anggota harus tahu,” jelasnya.

Baca juga: Sri Sultan HB X Buka Jalan PSIM Yogyakarta Kembali ke Mandala Krida, Status Hukum Stadion Tuntas

Transaksi uang

Keganasan geng pelajar di Yogyakarta nyatanya membikin siapa pun tercengang. Setiap aksi kejahatan yang dilakukan para anggotanya begitu terstruktur.

Penuh strategi dan dilakukan penuh kehati-hatian yang matang, layaknya sebuah operasi rahasia.

Tak hanya itu, di balik keganasan setiap aksi, ada transaksi rupiah yang harus dibayar setiap geng pelajar yang mengalami kekalahan.

Entah darimana sumbernya, setiap geng pelajar harus menyediakan uang sesuai kesepakatan antar geng.

“Ya, sebelumnya udah rembukan dulu dengan geng sekolah lain berapa. Nanti geng yang kalah bayar ke yang menang,” ungkapnya.

Namun, dia tidak mengetahui secara pasti berapa jumlah uang yang harus dibayarkan kepada geng pelajar yang menang.

Uang kemenangan itu menurut A digunakan untuk keperluan recovery entah itu kerusakan motor anggota dan keperluan lainnya.

“Jumlahnya kurang tahu, tapi lebih dari 1 juta,” ujar pelajar putih abu-abu ini.

Aturan main

Selain ada kesepakatan transaksional, para anggota geng juga memiliki aturan main setiap melakukan pertarungan.

Dari sepengetahuan A, masing-masing perwakilan geng harus menyepakati aturan main tersebut.

Mulai dari jumlah anggota yang terlibat, ada berapa motor, jenis sajam yang digunakan, jumlah sajam yang digunakan, serta aturan baku bahwa joki atau pengendara motor tidak boleh disentuh.

“Udah diatur jadwalnya jam segini, nanti ketemu di sini, berapa motor, berapa sajam. Ada rules-nya biasanya, yang joki enggak boleh kena sajam,” tuturnya.

Aturan lainnya setiap gladiator atau petarung di jok belakang tidak boleh turun maupun tidak sengaja terjatuh.

Setiap mereka yang turun dari motor atau terjatuh, itu artinya geng tersebut dinyatakan kalah.

Untuk meyakinkan bukti kekalahan itu, salah satu dari mereka juga ada juru rekam visual menggunakan ponsel yang siaga saat pertarungan terjadi.

“Kalau di motor biasanya yang jatuh itu kalah. Seperti kalau turun sih, kan biasanya ada yang turun, ada di atas motor, kalau yang turun tuh, ya sama jatuh berarti kalah. Aturannya seperti itu, kan udah ada saksinya yang merekam, pasti ada salah satunya,” jelasnya.

Dia menyebut setiap geng pelajar juga memiliki tempat khusus menyimpan persenjataan.

Misalnya di rumah salah satu anggota geng yang strategis dan aman tidak terendus.

Ketika tiba waktu untuk melakukan penyerangan, barulah senjata-senjata tajam itu dikeluarkan untuk digunakan.

Mereka seringkali berkeliaran sekitar pukul 02.00 hingga menjelang subuh.

“Ada tempat tersendiri memang, itu biasanya cuma di kamar sih, di kamar rumah teman. Sekaligus markas, biasanya yang tinggal sendiri atau orang tuanya enggak ada,” ucapnya.

Pengalaman A bergaul di sebuah geng pelajar ini bukan untuk menginspirasi para pelajar lain. 

Kisah ini semata-mata hanya untuk pengingat sekaligus menungkap fakta dunia geng pelajar yang selama ini seolah-olah tertutup rapat.

Realita geng pelajar di Yogyakarta yang cukup terstruktur ini menjadi tamparan keras bagi aparat kepolisian, pemerintah, serta masyarakat pada umumya.

Bagaimana pun tindakan kriminal para pelajar yang tergabung di sebuah geng tidak dibenarkan. Keluarga semestinya menjadi pihak pertama yang bertanggung jawab mengawasi setiap tindakan anak-anaknya.

Baca juga: Berdalih untuk Berjaga-jaga, 8 Pelajar yang Bawa Sajam dan Miras Diciduk Patroli URC di Yogyakarta

Perlu Ketegasan Sikap

Polisi merespons fenomena geng pelajar di Yogyakarta yang memiliki pola rekrutmen, serta perhitungan yang matang di setiap aksi pertarungan.

Kapolresta Yogyakarta, Kombes Pol Eva Guna Pandia, mengaku prihatin atas fenomena geng pelajar di wilaah yang masyhur dengan sebutan Kota Pelajar ini.

Polisi sudah melakukan upaya pencegahan dan penindakan hukum terhadap pelaku penganiayaan yang dilakukan geng pelajar.

“Tetapi kami di sini juga butuh kerja sama di sekolah guru harus berperan aktif terutama yang ada geng, harusnya guru ambil sikap tegas karena Jogja kota pelajar. Tugas anak belajar, mereka tidak boleh ikutan geng sekolah,” tegas kapolresta saat ditemui, Rabu (20/5/2026).

Pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas pendidikan untuk menemukan solusi memberantas keberadaan geng pelajar ini.

Dia berharap pihak sekolah serta orang tua bersikap tegas dan selalu mengawasi anak-anaknya.

“Ini solusinya gimana kalau anak ikut geng, diharapkan pihak sekolah berikan sanksi tegas. Orang tua juga, kita ada program ibu memanggil di mana jam delapan (20.00) apabila anak belum pulang orrang tua segera telepon anak atau hubungi 110,” jelas Eva Pandia.

Dari segi pencegahan, pihaknya juga telah memperkuat patroli rutin baik dari Samapta, Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan, serta seluruh fungsi satuan telah dilakukan.

“Tetapi peran orang tua harus benar-benar mengawasi anak, bukan melarang mereka pergi, tapi harus tahu anak bergaul sama siapa, karena rata-rata mereka minum pil sapi, ini yang membuat mereka salah pergaulan sehingga sering ikut geng-geng pelajar,” ungkapnya.

Persoalan lainnya menurut Pandia, keberadaan geng pelajar di Yogyakarta bersifat tertutup. Mereka termakan doktrin oleh para seniornya untuk melindungi keberadaan geng pelajar yang diikuti.

“Kami sudah koordinasi dengan kepsek. Kami tanya siapa ketuanya, mereka memang enggak pernah menceritakan karena memang doktrin tadi, tapi kami mencari keterlibatan mereka siapa yang terlibat akan kami proses,” tegas Eva.

Pihaknya pun mengimbau masyarakat bersama-sama menjaga keamanan dan kenyamanan Kota Yogyakarta. 

Penanganan

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Pol. Ihsan mengatakan, penanganan fenomena ini tidak bisa dilakukan secara parsial.

Empat strategi yang kini diterapkan Polda DIY meliputi langkah preemtif, preventif, represif, dan kerja sama.

Strategi preemtif dijalankan dengan berfokus pada pembinaan karakter remaja di lingkungan pendidikan.

Polisi aktif mendata kelompok-kelompok geng sekolah serta menggalakkan program 'Ibu Memanggil' dengan melibatkan stakeholder maupun intansi terkait.

"Kami menjalankan Program Satu Sekolah Dua Polisi (SSDP) dan Program Polisi Jadi Pembina Upacara (SINARA) untuk memberikan pembinaan dan penyuluhan di sekolah," ujar Ihsan, Rabu (20/5/2026). 

Untuk strategi preventif, pengawasan diperketat lewat Kegiatan Rutin Yang Ditingkatkan (KRYD) berupa penjagaan dan patroli skala besar.

Razia selektif di tempat rawan tawuran, razia minuman keras (miras) dan obat terlarang mingguan, serta patroli siber di media sosial juga intens dilakukan.

Namun, jika aksi kriminalitas tetap terjadi, tindakan hukum tanpa pandang bulu siap menanti.

"Strategi represif akan diambil berupa penegakan hukum yang tegas dan profesional terhadap pelaku yang terlibat tindak pidana," tegas Ihsan.

Polda DIY menyadari upaya ini harus didukung oleh seluruh lapisan masyarakat agar berjalan maksimal. Karena itu, strategi kerja sama dijalankan dengan merangkul orang tua, sekolah, dinas pendidikan, pemerintah daerah, hingga tokoh masyarakat agar pencegahan bisa berjalan efektif.

"Pencegahan merebaknya geng pelajar, tentunya tidak akan maksimal jika hanya dilakukan oleh polri, sehingga Polda DIY terus bekerja sama dengan pihak-pihak terkait seperti orang tua, sekolah, dinas pendidikan, pemda, dan tokoh masyarakat," urai Ihsan. 

Peta titik rawan

Strategi meredam aksi geng pelajar juga dijalankan Polresta Sleman.

Kasi Humas Polresta Sleman, Iptu Argo Anggoro mengatakan, peran keluarga melalui pembatasan jam malam anak sangat penting untuk memutus mata rantai tawuran dan kejahatan jalanan yang seringkali melibatkan pelajar.

Sebab itu, gerakan ibu memanggil terus digalakkan di Bumi Sembada. Anak-anak pukul 22.00 sampai dengan 04.00 WIB wajib di rumah. 

"Jadi orangtuanya mengontrol, apakah anaknya pada jam tersebut di luar atau di mana nanti orangtua mengawasi. Intinya kami mengajak seluruh warga DIY, khususnya Sleman agar mengaplikasikan gerakan tersebut untuk menjaga anak-anak kita jangan sampai menjadi korban, atau bahkan menjadi pelaku kejahatan," kata dia. 

Polresta Sleman juga rutin menggelar patroli KRYD setiap malam Sabtu dan malam Minggu.

Langkah ini untuk menjaga kondusivitas wilayah dari aksi balap liar, klitih, maupun tawuran geng pelajar.

Personel polisi akan disebar di sejumlah titik-titik rawan yang telah dipetakan, di antaranya kawasan Ring Road Utara hingga Jalan Godean. 

Meskipun gerakan khusus untuk mencegah geng di tiap sekolah belum merata, edukasi di sekolah juga terus dijalankan melalui jajaran Bhabinkamtibmas dan Satlantas yang menyasar siswa SMP dan SMA.

Petugas datang ke sekolah dibekali materi edukasi mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh para siswa.

Polisi juga menyebar flyer imbauan terkait apa bahaya tawuran bagi pelajar dan pasal apa yang bisa diterapkan bagi pelaku tawuran atau penganiayaan.

"Insyaallah dengan kehadiran petugas (di sekolah) ini bisa meredam dan memberikan imbauan kepada adik kita, yang masih pelajar untuk tidak mengikuti geng atau tawuran yang berakibat fatal pada masa depan mereka," kata Argo. (hda/rif)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved