Ada Warga Sempat Suspek, Dinkes Sleman Perketat Kewaspadaan Hantavirus

Langkah preventif gencar dilakukan Dinkes Sleman menyusul temuan warga yang sempat berstatus suspek pada awal tahun 2026 ini.

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Ahmad Syarifudin
Kepala Tim Kerja Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman, dr Lina Nur Islamiyyah Yunus 

Dinkes juga melakukan survei roden berupa pemasangan perangkap tikus di dalam rumah, pekarangan, hingga area sungai, khususnya di wilayah dengan kerawanan tinggi seperti Kapanewon Depok. 

Sejauh ini, sampel tanah dan tikus yang diuji menunjukkan hasil negatif Hantavirus

Kendati demikian, kewaspadaan tetap dilakukan. Mengingat angka kasus Leptospirosis di Sleman sepanjang tahun 2026 ini cukup signifikan.

Berdasarkan data Dinkes, tercatat ada 59 kasus positif Leptospirosis, 52 berstatus suspek, dan 1 kasus meninggal dunia di wilayah Gamping. Pola penularan kini juga bergeser. 

"Tidak lagi didominasi di area persawahan.  Kalau dulu kan banyak kasus di wilayah yang banyak persawahan. Tetapi sekarang sudah merambah ke kawasan permukiman padat penduduk," kata dia. 

Jangan Remehkan Gejala

Sementara itu, Sekretaris Dinkes Sleman, Esti Kurniasih, meminta masyarakat untuk tidak meremehkan gejala demam, terutama jika disertai nyeri otot.

Mengingat kedua penyakit ini, baik Leptospirosis maupun Hantavirus, penanganan medis harus dilakukan secepat mungkin.

"Jika sudah demam. Apalagi disertai nyeri otot segera  secepat mungkin ke faskes. Karena Leptospirosis dan Hantavirus ini penangannya kita berpacu dengan waktu. Bisa menyebabkan gagal ginjal yang mengancam nyawa,"ujar dia.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved