Pemotongan Sapi Lokal Diperkirakan Meningkat, Guru Besar UGM Dorong Penguatan Populasi Sapi Nasional

Ketahanan pangan Indonesia, khususnya komoditas daging sapi, masih rentan terhadap gejolak eksternal seperti nilai tukar rupiah dan kondisi geopolitik

Tayang:
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
HEWAN KURBAN - Deretan hewan ternak sapi yang tersedia di UD Segar Farm di Pakuncen, Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, Jumat (8/5/2026). 

Keberlangsungan usaha penggemukan sangat penting karena sektor ini berperan menambah nilai ekonomi, menyerap tenaga kerja, dan menjaga kesinambungan pasokan. 

“Kalau memang tidak turun, setidaknya nilai tukar harus stabil sehingga pelaku usaha bisa menghitung biaya usahanya dengan pasti,” ungkapnya.

Sedangkan strategi jangka panjangnya harus difokuskan pada peningkatan populasi sapi nasional melalui program pembiakan (breeding) secara masif.

Salah satu pendekatan yang dinilai paling realistis adalah memanfaatkan lahan perkebunan sawit, kelapa, maupun hutan tanaman industri. 

“Strategi jangka panjangnya yaitu dengan meningkatkan populasi melalui program breeding serta integrasi sapi dengan perkebunan dan kehutanan. Dengan cara ini, suatu saat industri penggemukan hewan (feedlot) tidak perlu lagi bergantung pada sapi bakalan impor dari Australia,” ujarnya.

Ia menambahkan dengan startegi yang konsisten dan dukungan kebijakan jangka panjang, Indonesia memiliki potensi besar untuk membangun industri peternakan yang lebih mandiri.

“Ketahanan pangan, khususnya daging sapi, hanya bisa benar-benar kuat jika kita mampu meningkatkan populasi dan mengurangi ketergantungan pada impor,” imbuhnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved