Media Ekspresi Nonverbal Hingga Validasi Emosi Untuk Pemulihan Kekerasan Anak
Sentuhan fisik seperti pelukan, usapan, dan kehadiran yang hangat juga berperan besar dalam mengembalikan rasa aman anak.
Penulis: Christi Mahatma Wardhani | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Christi Mahatma Wardhani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kasus kekerasan yang terjadi di Daycare Little Aresha Yogyakarta menyisakan dampak mendalam, terutama bagi anak-anak yang menjadi korban.
Pemulihan tidak hanya menyangkut kondisi fisik, tetapi juga aspek psikologis.
Ketua Program Studi Psikologi Universitas ‘Aisyiyah (Unisa) Yogyakarta, Andhita Dyorita Khoiryasdien, mengatakan perubahan perilaku dan emosi menjadi gelaja trauma jangka pendek.
Namun, dampak jangka panjang justru perlu diwaspadai karena dapat muncul bertahun-tahun kemudian dalam bentuk gangguan psikologis.
“Trauma itu bukan tentang melupakan kejadian, tapi bagaimana membangun kembali rasa aman. Anak perlu memahami bahwa yang terjadi dulu itu tidak benar, dan yang benar adalah perlakuan aman yang dia terima sekarang,” katanya melalui keterangan tertulis, Jumat (1/5/2026).
Peran Penting Orangtua
Dalam hal ini, orangtua memainkan peran penting dalam pemulihan.
Orangtua dituntut untuk melakukan deteksi dini.
Regresi merupakan salah satu tanda perubahan perilaku yang paling umum.
Regresi adalah kemunduran kemampuan yang sebelumnya dikuasai.
“Misalnya anak yang sudah bisa ke toilet sendiri tiba-tiba kembali ngompol, atau yang sebelumnya lancar berbicara menjadi kesulitan berkomunikasi,” terangnya.
Gangguan tidur seperti mimpi buruk, teriak saat tidur, hingga kesulitan beristirahat juga patut diwaspadai.
Anak juga bisa menunjukkan perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, menjadi lebih agresif, atau memainkan tema kekerasan secara berulang dalam aktivitas bermainnya.
Reaksi ketakutan berlebihan, terutama saat berpisah dengan orangtua atau pengasuh terdekatnya di rumah juga menjadi indikator penting.
Namun, jika gejala belum terlihat signifikan, orangtua tetap dapat berperan aktif dalam membantu pemulihan anak.
| 31 Daycare di Kota Yogyakarta Terpantau Tak Berizin, Pemkot Dampingi Pemenuhan Aspek Legalitas |
|
|---|
| Sebagian Korban Little Aresha Daycare Alami Gangguan Tumbuh Kembang |
|
|---|
| Polisi Dalami Rekam Jejak Korupsi Rp 1,1 Miliar Ketua Yayasan Daycare Little Aresha |
|
|---|
| Nasib Dosen FIB UGM di Ujung Tanduk, Dekan Pastikan Tak Ada Perlindungan Hukum Institusi |
|
|---|
| Cegah Kekerasan Anak di Daycare, Dosen UGM Dorong Pemerintah Berikan Perlindungan Jelas Bagi Pekerja |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/20260105-Andhita-Dyorita-Khoiryasdien.jpg)