Pasar Jamu Yogyakarta, Ikhtiar Memperkuat "Wellness Tourism" Lewat Warisan Nusantara
Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta menawarkan sebuah alternatif gaya hidup yang memadukan kesehatan, budaya, dan pariwisata.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Bosan dengan rutinitas akhir pekan yang hanya diisi dengan menyeruput kopi sembari menggulir layar media sosial?
Pada akhir pekan tanggal 18 hingga 19 April 2026 ini, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta menawarkan sebuah alternatif gaya hidup yang memadukan kesehatan, budaya, dan pariwisata.
Berkolaborasi dengan pelaku jamu, perbankan seperti BSI dan Bank BPD DIY, serta mitra strategis yang meliputi Dewan Jamu, Jumbuh, dan Jogja Husada Sehat, gelaran Pasar Jamu 2026 resmi menghentak Pasar Ngasem.
Mengusung tema besar "Ngobrol Sehat", acara ini menyuguhkan belasan stan jamu pilihan yang merentang dari racikan klasik autentik hingga inovasi jamu kekinian yang ramah di lidah Generasi Z.
Semangat dari perhelatan ini ditegaskan oleh Pemerintah Kota Yogyakarta melalui akun media sosial resminya yang menyatakan bahwa acara ini bukan sekadar soal minum jamu, melainkan sebuah ruang untuk kembali mengenal budaya dengan cara yang lebih dekat dan relevan.
Di hari pertama gelaran, panggung perbincangan menghadirkan tokoh-tokoh penting di balik pelestarian jamu, di antaranya adalah Praktisi Pariwisata sekaligus perwakilan Dewan Jamu, Tasbir Abdullah, serta Ahli Manajemen Kesehatan, Dr. dr. Bondan Agus Suryanto, S.E., M.A.
Bagi Tasbir, jamu bukan sekadar minuman penghangat tubuh, melainkan tonggak sejarah dan produk budaya yang memiliki daya jual tinggi dalam konsep pariwisata kebugaran atau wellness tourism.
Ia memaparkan bahwa Yogyakarta memiliki budaya yang sangat kuat dengan hal-hal yang berkaitan dengan rempah, mulai dari perawatan, luluran, hingga minuman.
"Mempercantik, merawat badan, kemudian ada yang diminum untuk kesehatan dan sebagainya. Itu warisan yang sangat luar biasa dari budaya kita," tegas Tasbir.
Lebih jauh, ia mengingatkan kembali ingatan historis bangsa mengenai betapa berharganya rempah di mata dunia yang menjadi alasan kedatangan bangsa Eropa.
"Londo-Londo itu, orang Eropa itu, sampai menjajah kita. Kenapa dia menjajah kita? Akhirnya datang mencari ini, berdagang ini. Tadinya dia hanya berdagang, karena ini tidak ada di Eropa. Tidak mungkin ada cengkih di Eropa. Penjajahan dimulai dari rempah. Bukan ambil minyak di sini, bukan ambil batu bara. Ambilnya adalah rempah, karena itu, kita akan branding Pasar Ngasem ini sebagai pusat jamu," ungkapnya lugas.
Baca juga: Sengketa Pesangon PT MTG: Disnaker Sleman Beri Deadline 30 Hari Sebelum ke Pengadilan
Dari kacamata medis, Dr. Bondan Agus Suryanto turut meluruskan pandangan masyarakat mengenai posisi jamu dalam dunia kesehatan modern.
Ia menekankan bahwa jamu adalah warisan berharga berkat kekayaan alam Indonesia.
"Jamu ini ramuan yang diarahkan untuk pemulihan dan penyehatan, yang berasal dari bahan alam. Bahan alam itu bisa tumbuh-tumbuhan, mungkin beras, dan lain-lain. Dan kita tahu bahwa Indonesia itu mempunyai biodiversitas terbesar di dunia. Ada 30 ribu jenis tumbuh-tumbuhan. Sembilan ribu itu bisa berpotensi untuk obat-obatan. Nenek moyang kita tahu ramuan yang paling bagus mungkin beratusan atau ribuan tahun yang lalu," papar Dr. Bondan.
Ia juga merinci secara komprehensif bagaimana ilmu pengetahuan saat ini telah memvalidasi khasiat rempah Nusantara menjadi beberapa tingkatan klinis.
| Wisatawan Serbu Pasar Ngasem saat Libur Lebaran demi Berburu Kuliner Viral |
|
|---|
| Ini Dia 4 Warung Jamu Legendaris di Jogja, Lengkap dengan Harga dan Keunggulannya |
|
|---|
| 3 Wisata Budaya di Bantul yang Wajib Dikunjungi, Bernuansa Tradisi Jawa |
|
|---|
| 9 Destinasi Wisata Terpopuler di Jogja |
|
|---|
| Rekomendasi 9 Destinasi Wisata Ikonik dan Populer di Kota Jogja: Selalu Ramai Pengunjung |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Pasar-Jamu-Yogyakarta-Ikhtiar-Memperkuat-Wellness-Tourism-Lewat-Warisan-Nusantara.jpg)