Hadapi Kemarau Kering, Pemkab Sleman Optimalkan Bantuan Sumur Bor dan Pompa Air
bantuan pembangunan sumur bor irigasi perpompaan kini dipercepat agar para petani memiliki cadangan air sebelum puncak kekeringan
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Ringkasan Berita:
- Pemkab Sleman mempercepat pembangunan 14 unit sumur bor melalui skema swakelola untuk menghadapi puncak kemarau ekstrem yang diprediksi terjadi pada Agustus 2026.
- Selain sumur baru, petani diminta mengecek kembali 100 unit pompa bantuan tahun lalu serta melakukan rehabilitasi jaringan irigasi guna menjaga produktivitas lahan.
- Pemerintah menerbitkan surat edaran agar petani mempercepat masa tanam menggunakan varietas padi tahan kekeringan dan menyesuaikan pola tanam dengan ketersediaan air.
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bayang-bayang kemarau yang diprediksi lebih panjang dan kering pada tahun ini membuat Pemerintah Kabupaten Sleman waspada.
Melalui skema swakelola, bantuan pembangunan sumur bor irigasi perpompaan kini dipercepat agar para petani memiliki cadangan air sebelum puncak kekeringan menghantam pada Agustus mendatang.
Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman Siti Rochayah Dwi Mulyani mengatakan sebanyak 14 unit sumur bor irigasi perpompaan dengan kedalaman lebih kurang 30 meter telah disiapkan.
Proyek yang didanai APBN ini akan dikerjakan langsung oleh kelompok tani melalui sistem swakelola tipe empat.
Proses administrasi ditargetkan rampung pada akhir April ini sehingga dana bantuan bisa segera dicairkan dan pekerjaan dimulai awal Mei.
"Minggu akhir (April) itu pembukaan rekening. Nanti di awal Mei uang sudah ditransfer ke kelompok tani dan bisa dikerjakan oleh mereka untuk membuat sumur," terang dia, Rabu (15/4/2026).
Pihaknya berharap sumur-sumur bantuan pemerintah ini sudah dapat difungsikan untuk menghadapi puncak kemarau yang diperkirakan terjadi pada bulan Agustus.
Bukan hanya mendampingi penyaluran bantuan pembuatan sumur, Pemkab Sleman juga melakukan optimalisasi bantuan 100 unit pompa air yang telah dibagikan kepada para petani tahun 2025.
Siti meminta kepada petani untuk mengecek kembali kondisi pompa, yang mungkin tahun lalu belum dimanfaatkan dengan optimal karena kondisi curah hujan tinggi.
Baca juga: Polisi Gerebek Dua Lokasi Penjualan Miras Ilegal di Sewon Bantul, Belasan Botol Oplosan Disita
"Pompa ini kami minta untuk dicek lagi sehingga pada saatnya nanti dibutuhkan, alat itu siap untuk digunakan," ujar dia.
Lebih lanjut Siti mengatakan, selain bantuan alat, pihaknya juga mengimbau kepada petani untuk mengecek kondisi saluran irigasi.
Tahun ini, ia mengaku memberikan pendampingan terhadap 27 rehabilitasi jaringan irigasi tersier (RJIT) untuk meningkatkan produktivitas pertanian.
Pada tahun ini, bantuan pompa juga tersedia meskipun hanya 10-an unit.
Menurutnya masih ada peluang untuk bisa pengajuan tambahan bantuan, baik dari pemerintah pusat maupun melalui aspirasi dewan tetapi hingga kini belum ada informasi perihal itu.
"Sampai sekarang belum ada informasi (tambahan bantuan), tapi bantuan Pompa tahun kemarin sudah banyak. Kami mengingatkan saja agar bisa dicek, dicoba," kata Siti.
Ia berharap sektor pertanian di Sleman tetap mampu bertahan di tengah ancaman kemarau yang diprediksi mendekati kondisi ekstrem tahun ini.
Sebagai langkah antisipasi, DP3 Kabupaten Sleman juga telah mengeluarkan surat edaran terkait antisipasi dampak musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering.
Surat bernomor 500.6/781 tertanggal 31 Maret 2026 itu ditujukan kepada para pemangku wilayah hingga kelompok tani untuk segera mengambil langkah strategis menjaga produksi pertanian.
Kebijakan ini merujuk pada surat Menteri Pertanian serta hasil sosialisasi prakiraan musim dari BMKG Stasiun Klimatologi DIY yang menyebutkan potensi kemarau lebih kering di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, termasuk Sleman.
Sementara itu, Plt Kepala DP3 Sleman, Rofiq Andriyanto mengatakan kesiapsiagaan sejak dini untuk meminimalkan risiko gagal panen akibat kekeringan sangat penting dilakukan.
Langkah strategis diminta segera dilakukan, melalui optimalisasi pengelolaan air dengan rehabilitasi jaringan irigasi, pemanfaatan embung, sumur dangkal, hingga penggunaan pompanisasi dan sistem perpipaan.
Tak kalah penting adalah pemetaan wilayah rawan kekeringan serta pembangunan sistem peringatan dini.
"Kami juga mendorong percepatan masa tanam di wilayah potensial dengan penggunaan varietas padi yang tahan kekeringan dan berumur genjah, seperti Inpago 4-13, Inpari 38-46, Situbagendit, Situpatenggang, Pajajaran, Cakrabuana dan lainnya," kata dia.
Petani diminta menyesuaikan pola tanam dengan kondisi iklim dan ketersediaan air di masing-masing wilayah.
Sekadar informasi, berdasarkan prediksi BMKG, awal musim kemarau di Kabupaten Sleman diperkirakan mulai pada dasarian III April 2026 untuk wilayah Prambanan serta sebagian Minggir dan Moyudan.
Sementara sebagian besar wilayah lainnya diprediksi memasuki kemarau pada dasarian I Mei 2026.
Durasi musim kemarau diperkirakan berlangsung selama 19 hingga 21 dasarian, dengan akhir musim kemarau diprediksi terjadi pada dasarian I November 2026.(*)
| Prediksi Awal dan Puncak Musim Kemarau Menurut BMKG |
|
|---|
| Musim Kemarau di DIY Diprediksi Lebih Lama karena El-Nino, Sebabkan Suhu Udara Tinggi |
|
|---|
| Sleman Bersiap Jadi Tuan Rumah MTQ DIY 2026, Usung Target Tri Sukses |
|
|---|
| SDN Nglarang Sleman Bakal Direlokasi Karena Terdampak Proyek Tol, Lahan Pengganti Mulai Disiapkan |
|
|---|
| Prediksi BMKG soal Awal Musim Kemarau di DIY dan Potensi Fenomena El Nino |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Wabup-Sleman-panen-jagung-12112025.jpg)