Kesaksian Korban Keracunan MBG di Jetis Bantul: Perut Terasa Mules

Korban keracunan menu program MBG di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, hingga saat ini masih merasakan sakit perut dan diare

Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Suasana sekolah di SMP Negeri 3 Jetis, Kabupaten Bantul, Rabu (15/4/2026).Siswa yang mengalami gejala keracunan belum masuk sekolah karena masih menjalani pemulihan 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Korban keracunan menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta, hingga saat ini masih merasakan sakit perut dan diare. 

Salah satu guru SMP Negeri 3 Jetis yang turut menjadi korban keracunan, RAW mengaku dirinya langsung makan menu nasi ayam setelah paket makanan tersebut didistribusikan ke sekolah pada Senin (13/4/2026).

Kala itu, ia tidak mencium bau menyengat dalam makanan.

Begitu pula saat mengkonsumsi menu yang disediakan, RAW mengaku tidak merasakan keanehan atau perbedaan rasa pada makanan tersebut. 

"Rasanya enggak apa-apa. Aman-aman saja. Enak-enak saja," katanya, saat dijumpai di SMP Negeri 3 Jetis, Rabu (15/4/2026).

Malam harinya, MAW mengaku mulai merasakan gejala keracunan berupa mules dan sakit perut.

Rasa mules itu bahkan masih dirasakan oleh RAW hingga Rabu pagi.

"Kemarin malam masih mules, siang masih mules. Tadi malam mules, tadi pagi juga masih terasa mules," tutur dia.

"Saya enggak terlalu sering bolak balik ke kamar mandi. Tapi, teman saya ada yang sering bolak balik kamar mandi karena mules," jelasnya.

RAW mengaku tidak mengonsumsi obat khusus, hanya saja menyempatkan diri minum racikan teh jahe hangat  untuk meminimalisasi diduga keracunan MBG.

"Saya enggak periksa. Saya hanya minum racikan teh jahe hangat sama yakult. Sudah gitu saja," ucap RAW.

Baca juga: Korban Keracunan MBG di SMPN 3 Jetis Belum Masuk, Kepsek : Fokus Pemulihan Stamina dan Psikis

RAW mengaku meski mengalami gejalan keracunan, dirinya tetap masuk sekolah.

Bahkan sempat mengantar siswa yang mengalami gejala keracunan pulang ke rumahnya.

"Saya kemarin sempat mengantarkan siswa yang diduga keracunan untuk pulang ke rumah. Waktu itu ada siswa yang sampai badannya gemetar. Jalannya saja sampai susah. Dia demam, keringet dingin, mules, pusing gitu," tutur dia.

RAW berharap kejadian keracunan massal ini tidak terulang kembali dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk dapat menyajikan menu sesuai standar operasional. 

"Terus menunya juga kan sering kurang variasi dan rasanya kurang (enak)," ujar dia.

Sementara itu Koordinator penerima MBG sekaligus wakil kepala SMP Negeri 3 Jetis, NIK, menyampaikan, sekolahannya sudah menerima MBG dari SPPG Patalan, Kapanewon Jetis, sejak akhir Januari 2026 dengan jumlah 713 penerima MBG yang terdiri atas 658 siswa dan 55 guru.

"Sebelumnya kan Kaila Catering. Terus karena penuh, jadi dipecah dan kita dapat SPPG Patalan. Yang SPPG sebelumnya itu distribusi MBG ke sekolah kami berlangsung pada Agustus sampai Oktober 2025," terangnya.

Sementara itu, Kepala SPPG Patalan, Hanifsaka, memilih tidak memberikan banyak penjelasan terkait kejadian tersebut.

"Pokoknya nanti saja ya. Mohon maaf. Pokoknya nanti kami berikan keterangan resmi melalui akun sosial media kami," katanya.

Diberitakan sebelumnya, sejumlah siswa dan guru di Kapanewon Jetis, Kabupaten Bantul diduga mengalami keracunan usai konsumsi MBG. 

Korban tersebut telah mendapatkan penanganan kesehatan di Puskesmas Jetis 2. Sejauh ini tidak ada korban yang menjalani rawat inap. 

Keadaan para korban mulai membaik, sehingga diperbolehkan pulang dan hanya mendapatkan rawat jalan.(nei)
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved