Embarkasi Perdana Berbasis Hotel di DIY Siap Berangkatkan 9.320 Calon Haji
DIY untuk pertama kalinya menyelenggarakan layanan Embarkasi Haji pada musim haji tahun 2026.
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- DIY untuk pertama kalinya menyelenggarakan layanan Embarkasi Haji pada musim haji tahun 2026.
- 9.320 calon jemaah haji yang terbagi dalam 26 kelompok terbang (kloter) siap diberangkatkan menuju Tanah Suci.
- Pemerintah menerapkan skema pergerakan baru, yakni Murur dan Tanazul untuk menghadapi tingginya persentase jemaah dengan risiko tinggi (risti) yang mencapai 70 persen.
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) untuk pertama kalinya menyelenggarakan layanan Embarkasi Haji pada musim haji tahun 2026.
Sebanyak 9.320 calon jemaah haji yang terbagi dalam 26 kelompok terbang (kloter) siap diberangkatkan menuju Tanah Suci.
Menghadapi tingginya persentase jemaah dengan risiko tinggi (risti) yang mencapai 70 persen, pemerintah menerapkan skema pergerakan baru, yakni Murur dan Tanazul.
Kesiapan tersebut disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji (Kemenhaj) DIY, Jauhar Mustofa, seusai acara pelepasan calon jemaah haji DIY tahun 2026 di Bangsal Kepatihan, Yogyakarta, Rabu (15/4/2026).
Mengingat ini adalah pengalaman perdana DIY memiliki embarkasi sendiri, Kemenhaj DIY menggunakan skema embarkasi berbasis hotel yang berlokasi di area Bandara Internasional Yogyakarta (YIA).
"PPIH ini nanti petugas penyelenggara Ibadah Haji Embarkasi ini akan kita lantik dilantik oleh Pak Menteri, nanti hari Jumat secara hybrid di Embarkasi dan setelah itu akan kita adakan rapat koordinasi baik Satgas maupun PPIH untuk mempersiapkan Embarkasi betul-betul sudah siap 100 persen menerima jamaah Haji kloter pertama pada tanggal 21 April besok," papar Jauhar
"Kalau hotel kan memang tidak didesain untuk Asrama Haji, untuk Embarkasi maka kemudian kita mengadakan simulasi sampai dua kali kemarin dan juga hal-hal teknis yang lain kita menyusun SOP, menyusun peta jalan, alur, flow agar hotel yang kita tunjuk menjadi Embarkasi ini betul-betul bisa kita fasilitasi, kita gunakan, kita pergunakan untuk Embarkasi, layanan Embarkasi.
"Yang kita sterilkan satu hotel, hotel Ibis tapi yang Novotel untuk pendukung, jadi nanti PPIH berkantor di Novotel, kemudian yang Ibis kita sterilkan dari dunia luar untuk hanya untuk jamaah Haji maupun Satgas.
Waktu kedatangan jemaah di hotel akan disesuaikan dengan jadwal penerbangan ke Arab Saudi, berkisar antara 18 hingga 24 jam sebelum keberangkatan, guna menghindari pemanggilan jemaah pada larut malam kecuali dalam kondisi mendesak.
Penerbangan kloter pertama dari DIY dijadwalkan pada 21 April 2026 pukul 23.40 WIB. Berdasarkan informasi terkini, Presiden RI dijadwalkan hadir meninjau keberangkatan perdana tersebut di Yogyakarta.
Jemaah akan diberangkatkan dalam dua gelombang. Gelombang pertama (kloter 1 hingga 12) akan mendarat di Madinah, sedangkan gelombang kedua (kloter 13 ke atas) akan mendarat di Jeddah.
Terkait kapasitas embarkasi berbasis hotel tersebut, Jauhar memastikan daya tampungnya mencukupi karena menerapkan sistem rotasi ketat satu kloter per hari.
"Jadi karena kita embarkasi baru dan berbasis hotel ini memang satu-satunya sehingga memang pusat mempercayai kita untuk memberangkatkan hanya 1 kloter 1 hari sehingga bergantian, kloter 1 masuk tanggal 21, terbang malam kemudian kloter 2 baru masuk tanggal 22 terbangkan seperti itu, jadi bergantian. Jadi tidak ada 2 kloter dalam satu tempat tidak ada jadi bergantian, begitu diterbangkan kloter yang lain selanjutnya kita panggil masuk," tegasnya.
Tahun ini, calon jemaah haji tertua dari DIY tercatat atas nama Mardijiono Kartosentono yang berusia 102 tahun 3 bulan (lahir 11 Desember 1923), berasal dari Karanganom, Jatimulyo, Piyungan, Bantul, dan tergabung dalam kloter tujuh.
Jemaah termuda berusia 14 tahun
Sementara itu, jemaah termuda adalah Fania Ulaya, seorang pelajar berusia 14 tahun 2 bulan (lahir 12 Januari 2012) asal Krajan, Poncosari, Srandakan, Bantul, yang tergabung dalam kloter sembilan.
Mitigasi Jemaah Risti Melalui Murur dan Tanazul
Tantangan terbesar dalam penyelenggaraan haji tahun ini, baik di tingkat daerah maupun nasional, adalah tingginya angka jemaah berisiko tinggi.
Kondisi risti ini dikategorikan menjadi ringan (satu riwayat penyakit), sedang (dua riwayat penyakit), dan berat (tiga atau lebih riwayat penyakit seperti darah tinggi, asam urat, dan jantung).
Untuk memberikan rasa aman dan nyaman, Kementerian Haji menerapkan skema khusus di fase krusial Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina).
"Jadi hampir setahun jamaah yang risti tinggi itu lebih dari setengah kloter bahkan sampai 70 persen itu risti baik risti ringan, risti sedang maupun risti berat," ujarnya.
"Ini memang menjadi mitigasi kita Kementerian Haji yang lalu Kementerian Agama untuk memberikan pendampingan pada mereka. Makanya taglinenya tetap Haji Ramah Lansia, Haji Ramah Risti, bahkan sekarang ada Haji Ramah Wanita.
"Tahun ini kan juga pemerintah lewat Kementerian Haji dan Umroh lebih akan memberikan rasa kenyamanan bagi pelaksanaan rasa armuzna dengan menerapkan skema namanya murur itu pergerakan jamaah haji yang dari Arofah menuju Mina tanpa mabit di Muzdalifah.
"Bagi jamaah risti, bagi jamaah disabilitas, bagi jamaah yang ngangguan kesehatan, lansia berserta pendampingnya.
"Tahun ini ditambah jamaah yang obesitas. Nah, itu yang kemudian nanti 50 persen jamaah yang dari Arofah ini bergerak ke Mina tanpa mabit di Muzdalifah dan hukumnya sah karena memang sudah dibahas dan ini yang nanti akan memberikan rasa kenyamanan Karena space di Muzdalifah itu sudah semakin berkurang," ungkap Jauhar menjelaskan secara rinci.
"Maka agar jamaah tidak berdesak-desakan, jamaah lansia, risti disabilitas berdesak-desakan, maka kemudian kita masukkan program namanya Murur.
"Nah, kemudian yang kedua program Tanazul Ini juga baru di Kementerian Haji. Tanazul ini juga ingin melonggarkan space yang ada di Mina, Karena Mina setiap tahun kan seperti itu ya.
"Jadi jamaah-jamaah haji nanti yang zona lima nanti, yang berada di zona lima Ini tidak mabit di Mina Tetapi akan didorong langsung dipulangkan ke hotel. Sehingga melempar jumruhnya nanti dari hotel yang ada di wilayah sisa yang jaraknya hanya sekitar 1-2 kilometer saja. Enggak jauh Jadi malah lebih dekat mabit di hotel daripada mabit di tenda Mina. Nah, inilah upaya-upaya pemerintah dalam rangka untuk memberikan peningkatan kualitas pelayanan apalagi pada jamaah risti tadi.
Terkait situasi geopolitik di Timur Tengah yang masih bergejolak, Kemenhaj memastikan hal tersebut tidak berdampak pada jadwal penerbangan jemaah haji asal Indonesia. Berdasarkan hasil Rapat Kerja Nasional (Rakernas) antara Kemenhaj RI dan Kementerian Haji Arab Saudi, seluruh agenda keberangkatan dipastikan aman dan tidak mengalami penundaan.
"Intinya mereka baru juga pulang dari Arab Saudi Dan mengadakan persiapan terakhir Dan ketemu dengan Kementerian Haji Arab Saudi, disampaikan bahwa kondisi sekarang ini masih on schedule. Jadi semua perencanaan timeline yang disusun bersama oleh Arab Saudi dan kita Indonesia masih sesuai Karena kondisinya memungkinkan Untuk menerbangkan jamaah haji kita dari Indonesia. Oleh karenanya insyaallah meskipun Timur Tengah juga belum mereda, tetapi persiapan keberangkatan ini Jamaah haji dari Indonesia tetap kita lakukan. Enggak, enggak ada penundaan," pungkas Jauhar.
| Komentar Warga Yogyakarta soal Arah Baru MBG: Lebih Tepat Sasaran untuk Anak Kurang Gizi |
|
|---|
| Cerita Mahasiswa 20 Tahun Calon Jemaah Haji Asal Sleman Rahasiakan Keberangkatan ke Makkah |
|
|---|
| Pemkab Kulon Progo Kirimkan 24 Kafilah ke MTQ Tingkat DIY 2026 |
|
|---|
| 12 Tahun Menanti, Jemaah Sleman Ini Lepas Pelukan Buah Hati demi Ibadah Haji ke Tanah Suci |
|
|---|
| Cetak Sejarah! 3.830 Calhaj DIY Berangkat via Embarkasi Hotel Pertama di Indonesia |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Plt-Kemenhaj-DIY-Jauhar-Mustofa-ditemui-seusai-acara-pelepasan-calon-jemaah-haji-DIY-2026.jpg)