Sri Sultan HB X Hadiri Simposium, Tegaskan Pembangunan Yogyakarta Tak Boleh Lepas dari Budaya

Kehadiran Sri Sultan HB X mempertegas komitmen bahwa visi pembangunan Yogyakarta di masa depan tidak bisa dilepaskan dari akar budaya

Tayang:
Tribun Jogja/Hanif Suryo
Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X 

Hal ini dikupas tuntas oleh sejarawan seni dan arsitektur, Dr. Hélène Njoto Feillard, dalam keynote speech pembuka sesi arsitektur.

Ia menyoroti eksistensi Alun-Alun Selatan yang menjadi pembeda mencolok Kesultanan Yogyakarta dengan kerajaan-kerajaan pendahulunya.

“Keberadaan Alun-Alun Selatan merupakan perspektif baru pada era Kesultanan Yogyakarta. Pada masa sebelumnya seperti Majapahit, Demak, maupun Mataram, konsep ini belum hadir. Alun-Alun Selatan menjadi bagian dari legitimasi kekuasaan,” jelasnya.

Eksplorasi Lanskap hingga Pengelolaan Ruang Strategis

Untuk memastikan diskursus tata ruang ini komprehensif, sesi arsitektur dipandu oleh Rektor Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Dr.-Ing. Wiyatiningsih.

Sesi ini membedah riset M Yaser Arafat mengenai ragam hias makam di kawasan Pasareyan Kagungan Dalem, serta kajian Rahmadi Fajar Himawan terkait transformasi memori kolektif di Alun-Alun Utara. 

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakhsmi Pratiwi, turut melengkapinya dengan paparan riil upaya pelestarian karakter arsitektur kawasan cagar budaya DIY.

Sementara itu, pada sesi akhir yang berfokus pada tata ruang dan lanskap, panduan diskusi diambil alih oleh Sari Murti Widiyastuti dengan keynote speech dari Bakti Setiawan.

Beragam perspektif tata ruang modern yang dikawinkan dengan kearifan lokal turut dipaparkan oleh para ahli. Irina Safitri Zen dari International Islamic University Malaysia membandingkan manajemen Sumbu Filosofi Yogyakarta dengan kota-kota bersejarah di dunia.

Di sisi lain, Nuzuli Ziadatun menawarkan strategi placemaking yang aplikatif melalui metode walking tour di kawasan Jeron Beteng.

Dari kacamata regulasi, Kepala Dinas Pertanahan dan Tata Ruang DIY, Adi Bayu Kristanto, menjabarkan skema pengelolaan Satuan Ruang Strategis sesuai amanat Perda Nomor 10 Tahun 2023.

Rangkaian simposium yang padat ini ditutup dengan proyeksi ke depan.

GKR Bendara secara resmi mengumumkan tema simposium untuk tahun mendatang, yakni “Tata Nilai dan Pendidikan di Kasultanan Yogyakarta”.

“Kami berharap para peneliti dapat mempersiapkan kajian sejak dini, sehingga ketika call for paper dibuka, sudah hadir gagasan yang kuat dan mampu memperkaya khazanah budaya Jawa,” pungkasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved