Padre Marco Solo: Refleksi Perdamaian Paus Leo XIV Melawan Perang
Paus Leo XIV dan Gereja Katolik mempersembahkan doa khusus memohon perdamaian
Penulis: Hari Susmayanti | Editor: Hari Susmayanti
Surat Ensiklik Fratelituti dari Paus Fransiskus nomor 225. Memang ada sebuah arsitektur perdamaian yang mana berbagai lembaga masyarakat berkontribusi masing-masing sesuai dengan bidang keahliannya sendiri. Tetapi ada juga sebuah seni perdamaian yang melibatkan kita. Dikutip juga dari ensiklik Fratelituti Paus Fransiskus nomor 231.
Saudara-saudari terkasih, marilah kita pulang ke rumah setelah berkomitmen untuk berdoa tanpa henti dan tanpa lelah. Sebuah komitmen untuk pertobatan hati yang mendalam. Gereja adalah umat yang besar yang melayani rekonsiliasi dan perdamaian.
Gereja maju tanpa ragu-ragu. Bahkan ketika menolak logika perang dapat menyebabkan kesalahpahaman dan penghinaan. Gereja mewartakan Injil perdamaian dan menanamkan ketaatan kepada Tuhan daripada otoritas manusia manapun. Terutama ketika martabat inheren manusia lain terancam oleh pelanggaran hukum internasional yang terus-menerus di seluruh dunia. Diharapkan setiap komunitas menjadi rumah perdamaian, tempat orang belajar bagaimana meredakan permusuhan melalui dialog, tempat keadilan dipraktikkan dan pengampunan dihargai.
Sekarang lebih dari sebelumnya kita harus menunjukkan bahwa perdamaian bukanlah utopia. Dikutip dari pesan Paus Leo ke-14 sendiri untuk hari perdamaian dunia ke-69, 1 Januari 2026. Saudara-saudari dan setiap bahasa, bangsa dan negara, kita adalah satu keluarga yang menangis, berharap, dan bangkit kembali. Tidak ada lagi perang. Perjalanan tanpa kembali. Tidak ada lagi perang. Lingkaran setan kesedihan dan kekerasan. Kutipan dari Santo Paus Yohanes Paulus. Doa untuk perdamaian 2 Februari 1991.
Sahabat-sahabat terkasih, damai sejahtera bagi kalian semua. Ini adalah damai sejahtera Kristus yang bangkit, buah dari pengorbanan kasih-Nya di kayu salib. Karena alasan inilah kita memanjatkan doa kepadanya berikut ini.
Tuhan Yesus, Engkau menaklukkan maut tanpa senjata atau kekerasan. Engkau menghancurkan kekuatan-Nya dengan kekuatan damai sejahtera. Berikanlah kepada kami damai sejahteraMu seperti yang Engkau berikan kepada perempuan-perempuan yang penuh keraguan pada pagi hari Paskah. Seperti yang Engkau berikan kepada para murid yang bersembunyi dalam ketakutan.
Utuslah Roh-Mu nafas yang memberi hidup dan mendamaikan, yang mengubah musuh dan lawan menjadi saudara dan saudari. Ilhamilah kami untuk percaya kepada Maria, ibumu yang berdiri di kaki salibmu dengan hati yang hancur, teguh dalam iman bahwa Engkau akan bangkit kembali.
Semoga kegilaan perang berakhir dan bumi dijaga dan dibudidayakan oleh mereka yang masih tahu bagaimana menumbuhkan, melindungi dan mencintai kehidupan. Dengarkanlah kami ya Tuhan kehidupan. Salam damai sejahtera bagimu semua, bagi bangsa dan negara, bagi dunia kita. Amen. (*)
| Delegasi UMY Bertemu Kardinal Vatikan, Sepakati Koalisi Organisasi Keagamaan Lawan Perang Ekonomi |
|
|---|
| Pertama Dibuat di Indonesia: Patung St Yusuf Arimatea untuk Paus Leo XIV |
|
|---|
| Kisah Haru di Balik Gema Bahasa Indonesia yang Kini Resmi di Vatikan |
|
|---|
| Kisah Karya Indonesia Hiasi Pameran '100 Persepi in Vaticano' untuk Pertama Kalinya |
|
|---|
| SVD Berbagi Pengalaman Tentang Peran Komunikasi Dalam Mewujudkan Perdamaian |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Padre-Marco-Solo-Refleksi-Perdamaian-Paus-Leo-XIV-Melawan-Perang.jpg)