Menyesap Nostalgia di Pasar Beringharjo, Kala Wingko dan Bakpia Ngasem Jadi Primadona Baru Wisatawan
Aroma gurih kelapa bakar dan manisnya adonan ketan menyeruak di antara keriuhan lantai dua Pasar Beringharjo
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Aroma gurih kelapa bakar dan manisnya adonan ketan menyeruak di antara keriuhan lantai dua Pasar Beringharjo, Kota Yogyakarta.
Di bagian tengah pasar, yang jadi sentra kuliner khas, kepulan asap tipis keluar dari tungku-tungku berbahan bakar arang yang dipertahankan secara tradisional.
Tangan terampil Wasiran pun tampak lincah membolak-balik bulatan-bulatan pipih di atas panggangan berbentuk persegi panjang di bagian depan kios.
Itulah Wingko dan Bakpia Ngasem, kuliner yang belakangan ini menjadi buah bibir dan buruan utama para pelancong yang singgah di jantung Kota Yogyakarta.
"Ini memang cabang dari Pasar Ngasem. Di sini baru buka sekitar tiga minggu, sejak pertengahan Ramadan kemarin," ungkap Wasiran, Kamis (9/4/2026).
Kehadiran kudapan khas di Pasar Beringharjo ini, seolah jadi oase bagi wisatawan yang kerap mengantre panjang di lokasi asalnya di Pasar Ngasem.
Oleh sebab itu, meski berstatus pendatang baru di Beringharjo, antusiasme pembeli tak bisa dipandang sebelah mata, khususnya saat akhir pekan.
"Kalau hari Jumat sampai Minggu itu paling ramai. Bisa habis 20 sampai 24 boks, satu kotaknya isi 150 biji. Kalau ditotal, ya bisa ribuan. Harganya tetap terjangkau, Wingko Rp3.000 dan Bakpia Rp2.500 per biji," jelasnya.
Salah satu daya tarik utama yang membuat wisatawan rela mengantre dan menanti adalah konsep "fresh from the oven", baik bakpia maupun wingko.
Pengunjung praktis bisa melihat langsung proses pembuatan dari adonan tepung ketan, kelapa, dan gula yang dimasak menggunakan tungku arang.
Toni, seorang wisatawan asal Solo, Jawa Tengah, mengaku sengaja bergeser ke Pasar Beringharjo setelah mendapati antrean di Pasar Ngasem sudah terlalu mengular.
Pria yang bertamasya ke Kota Yogyakarta bersama rombongan komunitasnya tersebut, memang sudah ngebet mencicipi Wingko dan Bakpia Ngasem.
"Tadi pagi ke Ngasem antre banget, lalu dikasih tahu kalau buka di sini. Saya suka karena dimasak dadakan, jadi masih panas. Apalagi masaknya pakai tungku tradisional, rasanya khas," ungkapnya.
Baca juga: Langkah Serius Pemda DIY Sikapi Kekerasan Jalanan: Perkuat Pendidikan Karakter hingga Hukuman Tegas
Sementara, Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, Veronica Ambar Ismuwardani, mengatakan, berbagai upaya ditempuh untuk menggeliatkan pasar rakyat.
Menarik kuliner viral seperti Wingko dan Bakpia Ngasem ke Beringharjo pun jadi langkah strategis untuk memecah kepadatan sekaligus menambah daya tarik.
| Harga Plastik Melejit, Pedagang di Pasar Beringharjo Ajak Pelanggan Bawa Tas Belanja Sendiri |
|
|---|
| Pecah! Event 'Pesta Bakpia' Semarakkan Aktivitas Wisatawan di Teras Malioboro |
|
|---|
| Produksi Bakpia Rahmat di Kulon Progo Banjir Pesanan saat Lebaran, Bisa Sampai 10 Ribu Dus |
|
|---|
| Menkeu Purbaya Sebut Belum Ada Hitungan untuk Menaikkan Harga BBM, Kas Negara Masih Aman |
|
|---|
| Menkeu Purbaya Belanja Batik di Beringharjo, Tepis Anggapan Pasar Tradisional ”Mati Suri” |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Menyesap-Nostalgia-di-Pasar-Beringharjo-Kala-Wingko-dan-Bakpia-Ngasem-Jadi-Primadona-Baru-Wisatawan.jpg)