Bupati Sleman Wanti-wanti Pelaku Usaha Jangan Ada Nuthuk Harga
Mengikuti arahan Ngarso Dalem, Bupati meminta seluruh pengelola destinasi dan kuliner di Sleman memasang daftar harga transparan
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Bupati Sleman, Harda Kiswaya memberikan imbauan kepada pelaku wisata di Bumi Sembada agar tidak melakukan praktik nuthuk atau menaikkan tarif di luar batas kewajaran menjelang libur Lebaran 1447 H/2026.
Mengikuti arahan dari Ngarso Dalem Sri Sultan HB X, Bupati meminta kepada seluruh pengelola destinasi dan kuliner di Sleman untuk memasang daftar harga secara transparan untuk memberi kenyamanan bagi wisatawan yang datang ke Sleman.
Sampaikan pesan Sri Sultan HB X
"Soal nuthuk harga? Kami ingatkan betul. Dibantu juga imbauan dari Ngarso Dalem, beliau menyampaikan agar masalah tarif ini dipasang," kata Harda, tempo hari.
Harda menegaskan bahwa momen Lebaran harus menjadi ajang pembuktian bahwa Sleman adalah destinasi yang ramah dan siap bagi pemudik maupun pelancong. Selain soal harga, Bupati juga menyoroti aspek fasilitas dasar dan kelancaran arus lalu lintas. Ia meminta Dinas Perhubungan melakukan antisipasi agar tidak terjadi kemacetan parah, serta memastikan sarana prasarana seperti toilet di tempat wisata tetap bersih.
"Kami minta Dinas Pariwisata untuk menjaga pelayanan kebersihan tempat-tempat wisata. Sarana prasarana tolong dicek betul, toilet dan sebagainya harus bersih. Kemudian berkaitan dengan jalan, lalulintas kami minta dinas perhubungan antisipasi. Jangan ada yang macet. Jika ada keluhan maka artinya kita tidak siap menyambut orang datang ke Sleman," katanya.
Target 400 Ribu Wisatawan
Di periode libur lebaran tahun ini, Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman memproyeksikan pergerakan wisatawan di Bumi Sembada menembus angka 250 ribu hingga 400 ribu orang. Jumlah tersebut dicatat mulai periode 14 hingga 29 Maret 2026. Kepala Bidang Pemasaran Dispar Sleman, Kus Endarto mengatakan bahwa rata-rata belanja wisatawan di libur lebaran tahun ini diperkirakan di angka Rp500 ribu hingga Rp1,5 juta per kunjungan.
"Komponen pengeluaran terbesarnya ada pada akomodasi, konsumsi, tiket masuk dan belanja oleh-oleh. Lama tinggal sekitar 1,75 hingga 2 hari," katanya.
Untuk menjamin kenyamanan, Dispar Sleman kata dia telah menerbitkan Surat Edaran yang menekankan penguatan aspek Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE). Melalui edaran tersebut Dinas Pariwisata mewajibkan pengelola melakukan uji petik kelaikan wahana secara berkala, khususnya untuk jip wisata di kawasan Merapi dan Tebing Breksi. Pelaku usaha juga diimbau tidak menaikkan harga di luar batas kewajaran.
"Harga layanan dipasang di tempat yang dapat dilihat dengan mudah oleh wisatawan," kata dia.(*)
| Sleman Tak Buru-buru WFH, Tunggu Singkronisasi dengan Instansi Vertikal |
|
|---|
| KAI Daop 6 Yogyakarta Catat 133 Barang Penumpang Tertinggal Selama Masa Angkutan Lebaran 2026 |
|
|---|
| 133 Barang Penumpang Tertinggal di KAI Daop 6 Selama Lebaran 2026, Taksiran Capai Rp 129 Juta |
|
|---|
| Awalnya Ogah, Kini Pemkab Sleman Ikuti Skema WFH untuk Menghemat Energi |
|
|---|
| Tak Seramai Tahun Lalu, Belanja Wisatawan Libur Lebaran 2026 di Sleman Turun |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Rencana-Bupati-Sleman-Lanjutkan-Studi-S-3-di-UGM-Ini-Kata-Harda-Kiswaya.jpg)