Arus Mudik 2026

217 Rumah Ibadah Lintas Agama di DIY Jadi 'Posko Mudik' Lebaran 2026

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), lelahnya perjalanan para musafir akan disambut oleh sejuknya semangat gotong royong dan toleransi beragama.

Tayang:
Tribun Jogja/ Almurfi Syofyan
POSKO MUDIK - (Ilustrasi) Pemudik bermotor saat melintas di Simpang Tiga TWC Prambanan perbatasan Jateng-DI Yogyakarta, Rabu (19/4/2023). Tahun 2026 ini, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY menghadirkan oase tersebut melalui program "Rumah Ibadah Ramah Pemudik". 

Ringkasan Berita:
  • Tahun 2026 ini, Kanwil Kemenag DIY menghadirkan program "Rumah Ibadah Ramah Pemudik".
  • Para musafir akan disambut oleh sejuknya semangat gotong royong dan toleransi beragama.
  • Ratusan rumah ibadah dari berbagai lintas keyakinan telah bersiap membuka pintu, menawarkan oase peristirahatan yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang tengah menempuh perjalanan jauh.
 

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Tradisi mudik tidak hanya melulu soal kemacetan dan panjangnya jalan menuju kampung halaman.

Di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), lelahnya perjalanan para musafir akan disambut oleh sejuknya semangat gotong royong dan toleransi beragama.

Ratusan rumah ibadah dari berbagai lintas keyakinan telah bersiap membuka pintu, menawarkan oase peristirahatan yang aman dan nyaman bagi siapa saja yang tengah menempuh perjalanan jauh.

Tahun 2026 ini, Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) DIY menghadirkan oase tersebut melalui program "Rumah Ibadah Ramah Pemudik".

Program ini dirancang untuk memastikan kelancaran arus mudik sekaligus memberikan ruang bagi masyarakat untuk memulihkan tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Kepala Kanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, menegaskan bahwa kehadiran ratusan rumah ibadah ini merupakan wujud nyata pelayanan publik yang inklusif. Pelayanan ini tidak memandang latar belakang para pemudik yang singgah.

“Pada tahun 2026 ini, Kementerian Agama DIY menyiapkan 217 rumah ibadah ramah pemudik yang terdiri dari 195 masjid, 12 gereja Katolik, 7 gereja Kristen, 2 vihara dan 1 pura. Ini merupakan bentuk pelayanan keagamaan yang inklusif sekaligus kontribusi nyata Kemenag dalam mendukung kelancaran arus mudik,” jelas Ahmad Bahiej.

Rumah-rumah ibadah yang ditunjuk tersebut berada di titik-titik strategis yang mudah dijangkau, baik di sepanjang jalur utama maupun jalur alternatif lintas daerah. Harapannya, pemudik tidak perlu kesulitan mencari tempat beristirahat yang layak.

“Rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga bisa menjadi ruang istirahat sementara bagi para pemudik. Kami berharap kehadiran rumah ibadah ramah pemudik ini dapat membantu masyarakat agar perjalanan mudik menjadi lebih aman, nyaman, dan tetap bernilai ibadah,” ujarnya.

Wujud Nyata Kerukunan dan Kolaborasi Lintas Iman

Daya tarik utama dari program ini adalah keterlibatan aktif tempat ibadah non-Muslim.

Pemudik yang melintas di kawasan Sleman, Kulonprogo, hingga Gunungkidul dapat menepi dan beristirahat di fasilitas yang disediakan oleh saudara-saudara lintas iman.

Beberapa di antaranya adalah Vihara Dharma Wijaya di Berbah (Sleman), Vihara Giri Dharma di Jatimulyo (Kulonprogo), serta Pura Girinata yang berlokasi di Jalan Wonosari–Yogyakarta Km 7, Gading (Gunungkidul).

Kepala Bagian Tata Usaha Kemenag DIY yang juga menjabat sebagai Plt. Pembimas Kristen, Abd. Suud, menuturkan bahwa inisiatif ini mencerminkan kuatnya kohesi sosial di Yogyakarta.

“Tidak hanya masjid, tetapi juga gereja, vihara dan pura turut ambil bagian dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat yang sedang melakukan perjalanan mudik,” sebutnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved