Aktivitas Gunung Merapi Selasa 17 Maret 2026: Ada 23 Kali Guguran Lava, Jarak Luncur 1800 Meter

Gunung Merapi teramati mengalami 23 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1800 meter, Selasa (17/3/2026)

Penulis: Tribun Jogja | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/magma.esdm.go.id
Aktivitas Gunung Merapi, Selasa (17/3/2026) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gunung Merapi teramati mengalami 23 kali guguran lava ke arah Kali Krasak dengan jarak luncur maksimum 1800 meter.

Hal itu berdasarkan hasil pemantauan BPPTKG Yogyakarta sepanjang periode pengamatan hari ini, Selasa (17/3/2026), pukul 00.00-06.00 WIB.

Untuk pengamatan kegempaan, tercatat 38 kali gempa Guguran dengan amplitudo 2-30 mm dan lama gempa 40.19-231.59 detik.

Serta 25 kali gempa Hybrid/Fase Banyak dengan amplitudo 2-30 mm, S-P 0.4-0.8 detik dan lama gempa 15.92-64.25 detik.

Hingga saat ini, Balai Penyelidikan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) masih menetapkan Level III (Siaga) untuk gunung berapi aktif di perbatasan DIY dan Jawa Tengah tersebut.

Untuk pengamatan visual, Gunung Merapi tertutup kabut 0-III. 

Baca juga: Cuaca DIY Hari Ini Selasa 17 Maret 2026: Waspada Potensi Hujan Petir di Sleman Utara

Dari sisi klimatologi, cuaca di kawasan puncak Merapi cerah berawan hingga mendung, angin tenang ke arah timur.

Suhu udara sekitar 17.9-20.4°C. Kelembaban 97.2-100 persen. Tekanan udara 873-916.5 mmHg.

Lebih lanjut, BPPTKG Yogyakarta menyampaikan rekomendasi terkait potensi bahaya saat ini berupa guguran lava dan awan panas pada sektor selatan-barat daya meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 km, Sungai Bedog, Krasak, Bebeng sejauh maksimal 7 km.

Pada sektor tenggara meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 km dan Sungai Gendol 5 km.

Sedangkan lontaran material vulkanik bila terjadi letusan eksplosif dapat menjangkau radius 3 km dari puncak.

Data pemantauan menunjukkan suplai magma masih berlangsung yang dapat memicu terjadinya awan panas guguran di dalam daerah potensi bahaya.

Masyarakat pun diimbau agar tidak melakukan kegiatan apapun di daerah potensi bahaya dan mewaspadai bahaya lahar serta awan panas guguran (APG), terutama saat terjadi hujan di seputar Gunung Merapi.

Jika terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, maka tingkat aktivitas Gunung Merapi akan segera ditinjau kembali. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved