Muhammadiyah Tetapkan Lebaran Jumat 20 Maret 2026, Haedar Nashir: Saling Menghargai Jika Berbeda

Haedar mengingatkan pentingnya kedewasaan dalam beragama. Ia meminta agar perbedaan tanggal tidak menjadi persoalan di tengah umat.

Tayang:
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
TRIBUNJOGJA.COM/ HANIF SURYO
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir. 
Ringkasan Berita:
  • Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkan Idulfitri 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026, serta mendorong penggunaan ruang publik untuk salat Id.
  • Muhammadiyah mengajak umat Islam saling menghargai jika terjadi perbedaan penetapan Idulfitri dengan pemerintah.

 

TRIBUNJOGJA.COM - Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mendorong pemanfaatan ruang publik secara luas untuk pelaksanaan salat Idulfitri yang jatuh pada Jumat (20/3/2026). 

Selain mengimbau penggunaan lapangan terbuka, Muhammadiyah menekankan pentingnya aksesibilitas fasilitas umum bagi seluruh umat Islam untuk beribadah, terlepas dari adanya perbedaan teknis penentuan waktu Idulfitri di tengah masyarakat.

"Atas nama Pimpinan Pusat Muhammadiyah kami menyampaikan bahwa Idulfitri 1 Syawal 1447 Hijriah akan jatuh pada hari Jumat tanggal 20 Maret 2026," ujar Haedar Nashir di kantor PP Muhammadiyah, Kota Yogyakarta, Senin (16/3/2026).

Penetapan Idulfitri oleh Muhammadiyah tahun ini berpotensi berbeda dengan ketetapan pemerintah. Sebagai informasi, Pemerintah baru akan menggelar sidang isbat untuk menentukan awal Syawal pada Kamis (19/3/2026).

Saling menghargai

Menyikapi potensi tersebut, Haedar mengingatkan pentingnya kedewasaan dalam beragama. Ia meminta agar perbedaan tanggal tidak menjadi persoalan di tengah umat.

"Manakala ada perbedaan dalam Idulfitri kami menghargai dan kami mohon untuk saling menghargai," tegas Haedar.

Ia juga berharap agar fasilitas publik tetap tersedia bagi warga yang merayakan Lebaran, tanpa memandang perbedaan hari pelaksanaannya. "Dan semua tempat-tempat publik untuk dapat dijadikan tempat untuk Idulfitri, baik bagi Muhammadiyah maupun warga kaum muslimin yang berbeda waktu salatnya," imbuhnya.

Terkait pelaksanaan ibadah, Haedar mengimbau warga Muhammadiyah dan umat Islam untuk memprioritaskan lapangan terbuka. Namun, apabila kondisi tidak memungkinkan, salat Id dapat dilaksanakan di masjid atau tempat lain yang memungkinkan.

Toleransi

Selain itu, Haedar memberikan instruksi khusus bagi warga Muhammadiyah dan umat Islam di Bali. Mengingat Idulfitri 1447 H berbarengan dengan Hari Raya Nyepi, toleransi menjadi prioritas utama guna menghormati umat Hindu yang sedang menjalankan ibadah.

"Dan khusus untuk warga Muhammadiyah dan takmir-takmir masjid Muhammadiyah di Bali, atas nama toleransi, untuk tidak melakukan takbir keliling atau takbir yang menggunakan pengeras suara, boleh lah untuk takbir kali ini dilakukan di rumah masing-masing," imbaunya.

Lebih dari sekadar persoalan teknis penanggalan, Haedar menekankan bahwa esensi dari hari raya adalah pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata. Ia mengajak seluruh pihak untuk menjadikan momen ini sebagai penggerak pencerahan di berbagai lini kehidupan.

“Pada substansinya, mari Idulfitri ini, baik dalam kesamaan maupun perbedaan, kita jadikan momentum untuk menggali dan mengimplementasikan sumber-sumber pencerahan agama bagi kehidupan kita—baik dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, berbangsa, bernegara, hingga kehidupan global,” pungkas Haedar.

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved