BPBD Bantul Gandeng Tim Geologi, Cek Lima Titik Tanah Gerak

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Mujahid Amruddin, menyebut, gerakan tanah di Pajangan terjadi di dua titik.

Tayang:
Tribun Jogja/Neti Istimewa Rukmana
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Mujahid Amruddin. 
Ringkasan Berita:
  •  BPBD Bantul bersama tim Geologi UGM meneliti gerakan tanah di Pajangan, termasuk dua titik terdampak serius di Triwidadi.
  • Total lima lokasi di Bantul mengalami gerakan tanah akibat hujan terus-menerus, dengan kondisi terparah di perumahan Guwo yang membahayakan warga.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Bantul telah menggandeng tim Geologi Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengecek kondisi gerakan tanah yang terjadi di Kapanewon Pajangan.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Mujahid Amruddin, menyebut, gerakan tanah di Pajangan terjadi di dua titik. Pertama ada gerakan tanah di Gampeng, Kalurahan Triwidadi, berupa tanah turun sekitar 1,5 meter.

"Di situ ada rumah di atas. Tapi rumahnya masih aman, strukturnya masih aman. Terus di bawahnya ada tiga rumah yang posisi saat ini tidak ada tambahan gerakan tanah," katanya kepada wartawan, Selasa (10/3/2026).

Membahayakan warga

Selanjutnya ada di Guwo, Kalurahan Triwidadi. Kondisi tanah bergerak itu ada di perumahan dan sekitar 20 rumah sudah tidak ditempati dan mengungsi ke tempat yang lebih aman yakni ke rumah asalnya.

"Karena itu memang sudah membahayakan warga dan struktur bangunan sudah pada patah. Dan pengembang juga masih punya tanggung jawab," urai dia.

Dikatakannya, pihak pengembang sudah mengeluarkan ekskavator untuk melakukan perbaikan jalan dan akses fasilitas umum. Sebab, lokasi terdampak itu terdapat beberapa fasilitas umum.

Total lima titik tanah gerak

Lebih lanjut, Mujahid menyampaikan sebenarnya gerakan tanah tidak hanya terjadi di dua lokasi tersebut, melainkan terjadi di beberapa titik.

"Totalnya ada lima gerakan tanah belum lama ini. Itu tersebar di Sompok dan Wunut (Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri), Gampeng dan Guwo (Kalurahan Triwidadi), serta Kalurahan Argosari dan Kalurahan Argorejo (Kepanewon Sedayu)," jelasnya.

Walau begitu, untuk lokasi kejadian gerakan tanah di Kalurahan Argosari dan Kalurahan Argorejo merupakan area perumahan. Hanya saja lokasi kejadian gerakan tanah berada di dua kalurahan tersebut.

"Itu semua baru pertama kali terjadi karena cuaca hujan terus menerus. Tapi, kalau gerakan tanah yang di perumahan Kalurahan Argosari-Argorejo itu diduga karena dulu tanah timbunan, lalu ada  faktor kurang pemadatan tanah," ucap dia.

Untuk perkembangan gerakan tanah di Guwo, Kalurahan Triwidadi, kata Mujahid, masih perlu penelitian lagi lebih mendalam. Sebab, selain kontur tanah lokasi itu tebing, ternyata ada retakan tanah yang cukup memanjang.

"Iya yang paling parah gerakan tanah di perumahan. Kalau melihat kondisi pergerakan tanah semua kita atensi tinggi. Tapi, kalau yang di Wunut karena lokasi kejadian dekat di pinggir Sungai Oya, sehingga ada faktor abrasi," tandasnya. 

Sekadar informasi, kondisi hujan berlangsung di Kabupaten Bantul sejak beberapa waktu terakhir. Dampak dari intensitas hujan, sejumlah wilayah di Kabupaten Bantul mengalami kejadian gerakan tanah termasuk longsor dan abrasi.(nei)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved