Putra John Tobing Tegaskan Lagu Darah Juang untuk Bangsa Indonesia

Kepergian pencipta lagu sekaligus aktivis pergerakan Johnsony Maharsak Lumbantobing atau lebih dikenal John Tobing mengejutkan keluarga

Penulis: Miftahul Huda | Editor: Joko Widiyarso
Tribun Jogja/MIFTAHUL HUDA
SANG PUTRA - Gopas Kibar Syang Proudy putra ke tiga mendiang John Tobing saat berdiri di hadapan jenazah ayahnya, Kamis (26/2/2026). 

Ringkasan Berita:
  • Berpulangnya pencipta lagu sekaligus aktivis pergerakan Johnsony Maharsak Lumbantobing atau lebih dikenal John Tobing mengejutkan keluarga dan kawan dekat.
  • Bapak tiga anak itu pergi selamanya disaat situasi pemerintahan yang terus bergejolak sampai saat ini. 
  • Lagu Darah Juang yang dia ciptakan seakan abadi dan masih sangat pantas dikumandangkan secara lantang hari-hari ini.
 

 


TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kepergian pencipta lagu sekaligus aktivis pergerakan Johnsony Maharsak Lumbantobing atau lebih dikenal John Tobing mengejutkan keluarga dan kawan dekat.

Ayah tiga anak itu pergi selamanya disaat situasi pemerintahan yang terus bergejolak sampai saat ini. Lagu Darah Juang yang dia ciptakan seakan abadi dan masih sangat pantas dikumandangkan secara lantang hari-hari ini.

Jenazah John Tobing kini disemayamkan di Rumah Duka RS Bethesda Yogyakarta mulai Kamis pagi (26/2/2026) hingga menjelang prosesi pemakaman yang direncanakan pada Sabtu (28/2/206).

Sebelumnya, John Tobing telah menjalani perawatan di rumah sakit selama dua bulan. Informasi terkahir dia menjalani perawatan di RSA UGM karena keluhan penyakit stroke.

Kepergian yang Mendadak

Air mata Gopas Kibar Syang Proudy, anak ketiga John Tobing masih terlihat belum lama mengering, ketika ditemui pada Kamis pagi.

Dia menjadi satu dari sekian orang yang merasa kehilangan sosok aktivis pergerakan John Tobin.

“Ini mendadak, sih, sebetulnya. Memang kami dari keluarga itu pas sedang di rumah memang, karena di rumah sakit itu dimasukkan ke ruang ICU, tidak bisa ditunggu. Dan juga malam itu, kemarin jam 08.45 itu ditelepon pihak keluarga.Terus katanya memang Bapak henti jantung,” katanya saat ditemui di rumah duka.

Saat itu juga pihak keluarga bergegas menuju rumah sakit. Diakui Gopas, kepergian ayahnya itu datang secara tiba-tiba.

Gopas menjelaskan, semenjak sakit, John Tobing harus menjalani perawatan di rumah sakit selama dua bulan lamanya dan sempat membaik lalu kembali ke rumah.

“Barulah hari Rabu (25/2/2026) minggu ini, masuk lagi karena penurunan kesadaran itu. Kami belum cukup siap juga sebetulnya karena dadakan itu kan,” ujarnya. 

Gopas bersyukur memiliki sosok ayah seperti John Tobing. Dia memiliki pemikiran besar terhadap perjalanan panjang demokrasi kala itu. Lagu Darah Juang yang diciptakan tetap abadi sampai sekarang. 

“Jujur, saya sendiri sebagai anaknya, saya sangat menganggap ayah saya itu idola saya. Saya baru sadar karena memang dia itu kalau di rumah tidak semenonjol itu, jadi seperti layaknya bapak-bapak biasa,” ungkapnya.

Hal yang dikenang tentang sosok ayahnya menurut Gopas momen ketika keduanya menyayikan lagu kesukaan.

John juga turut memberikan pesan-pesan penting kepeda anak-anaknya dalam menjalani hidup.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved