Pangkas Alur Debarkasi, Pemda DIY Siapkan Skema Jemput Haji di YIA

Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah mematangkan skema debarkasi jemaah haji di Yogyakarta International Airport

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
TRIBUN JOGJA/Alexander Ermando
BANDARA YIA - Suasana Lobi Terminal di Area Keberangkatan Yogyakarta International Airport (YIA) di Kapanewon Temon, Kulon Progo, belum lama ini. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) tengah mematangkan skema debarkasi jemaah haji di Yogyakarta International Airport (YIA).

Langkah ini diambil untuk memangkas rantai mobilitas saat kepulangan jemaah agar lebih efisien dan tidak menguras fisik.

Meski demikian, niat menghadirkan bus penjemputan langsung ke area kedatangan bandara masih berbenturan dengan regulasi keamanan dan tata ruang penerbangan.

Rencana penataan layanan ini bermula dari tinjauan Sekretaris Daerah (Sekda) DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, ke YIA.

Evaluasi mendasar dari Pemda DIY adalah proses kepulangan jemaah haji yang selama ini terpusat di Asrama Haji Donohudan, Boyolali, kerap memakan waktu dan tenaga karena adanya proses transit yang berulang.

Pemerintah daerah menargetkan agar YIA dapat memfasilitasi proses embarkasi maupun debarkasi yang lebih ramah lansia dan efisien secara logistik.

"Embarkasinya sudah clear. Ini untuk debarkasi / kedatangan jemaah itu. Kemarin rencananya kami ingin melayani jemaah dengan sebaik-baiknya, jadi tidak harus berpindah. Biasanya kan kalau di Donohudan itu, jemaah dijemputnya di Bandara Adi Soemarmo pakai busnya Garuda. Terus berhenti di Asrama Haji Donohudan. Terus pindah lagi bus lain untuk penjemputan ke daerah," ujar Ni Made.

"Nah, kami maunya itu pesawat landing, jemaah turun, pemeriksaan imigrasi, langsung bisa naik bus menuju daerahnya masing-masing. Jadi tidak naik turun, naik turun. Bisa langsung," tambahnya.

Baca juga: Wabup Bantul Sidak Komoditas di Pasar Imogiri: Harga Cabai Turun, Harga Daging Ayam Mulai Naik

Namun, skema simplifikasi layanan ini dihadapkan pada tantangan regulasi tata operasi bandara.

Menghadirkan bus angkutan daerah langsung ke area kedatangan berbenturan dengan standar keamanan operasional, di mana area tersebut merupakan zona terbatas (restricted area) yang mensyaratkan perizinan ketat bagi kendaraan non-otoritas.

Terkait kompleksitas aturan ini, Ni Made menjelaskan bahwa pihaknya sedang menjalin komunikasi intensif dengan Kementerian Agama (Kemenag) dan Kantor Wilayah (Kanwil) Urusan Haji agar menemukan jalan tengah yang tidak melanggar aturan penerbangan internasional, namun tetap berpihak pada kenyamanan jemaah.

"Nah, kalau kemarin dilihat secara gambar mungkin orang mikir, 'Oh berarti sudah siap'. Sebenarnya tidak juga seperti itu. Karena ini kita bicaranya masuk di area restricted ya, area penerbangan yang diatur ketat. Jadi bus angkutan itu tidak bisa keluar masuk tanpa ada syarat-syarat yang diberlakukan. Ini yang sedang kami koordinasikan. Karena opsi sebelumnya, kalau pakai bus Garuda, dia langsung ke Masjid Agung. Jadi dua kali turun juga kan, kasihan. Kami berharapnya kalau jemaah sudah landing dan selesai imigrasi, langsung naik kendaraan menuju daerahnya masing-masing. Itu yang kemarin kami diskusikan dengan Kanwil Haji," tambahnya. (*)
 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved