Sri Sultan HB X Sebut PBTY XXI di Bulan Ramadan Jadi Ruang Perjumpaan Nilai dan Toleransi
Ruang publik di Ketandan pun disiapkan sebagai tempat menunggu berbuka dalam suasana yang hangat dan tertata.
Penulis: Hanif Suryo | Editor: Yoseph Hary W
Ringkasan Berita:
- Ramadan tahun ini memberi warna berbeda bagi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XXI 2026
- PBTY tahun ini dirancang dengan konsep yang lebih inklusif karena bertepatan dengan Ramadan 1447 H.
- Masyarakat bisa ngabuburit menunggu buka puasa di Pecinan Jalan Ketandan dan Suryatmajan
- Demi kenyamanan selama Ramadan, panitia menerapkan aturan zonasi tegas area halal dan non-halal
- Sultan menegaskan PBTY bukan sekadar agenda tahunan. Melainkan momentum perjumpaan nilai
TRIBUNJOGJA.COM - Ramadan tahun ini memberi warna berbeda bagi Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta XXI 2026. Perayaan yang biasa berlangsung meriah pada malam hari itu kini dimulai lebih awal, menyesuaikan ritme warga yang menanti waktu berbuka puasa.
Ngabuburit di Pecinan Jogja
Event tahunan yang masuk dalam Calendar of Event DIY tersebut digelar selama tujuh hari, 25 Februari hingga 3 Maret 2026, di kawasan Pecinan Ketandan dan Jalan Suryatmajan. Mengusung tema “Warisan Budaya Kekuatan Bangsa”, PBTY tahun ini dirancang dengan konsep yang lebih inklusif karena bertepatan dengan Ramadan 1447 H.
Alih-alih membuka rangkaian acara pada malam hari, panitia memajukan waktu kegiatan untuk memfasilitasi masyarakat yang ingin ngabuburit. Ruang publik di Ketandan pun disiapkan sebagai tempat menunggu berbuka dalam suasana yang hangat dan tertata.
Festival kuliner tetap menjadi magnet utama dengan 172 stan terpilih dari 300 pendaftar, tersebar di sepanjang Jalan Ketandan dan Suryatmajan. Proses kurasi dilakukan untuk menjaga kualitas sajian.
Zonasi tegas area halal non halal
Untuk menjaga kenyamanan selama Ramadan, panitia menerapkan aturan zonasi yang lebih tegas. Area halal dan non-halal dipisahkan secara jelas serta diberi penanda. Stan di zona halal diimbau mulai berjualan pukul 17.00 WIB guna melayani kebutuhan berbuka puasa, sementara zona non-halal baru diperbolehkan buka setelahnya.
Perubahan juga tampak pada tata panggung. Jika sebelumnya terpusat di area parkir eks-UPN, tahun ini panggung utama bergeser ke Jalan Suryatmajan, di kawasan pertigaan Ketandan–Melia Purosani.
Panggung pun turut dirancang dengan teknologi yang dapat dinaik-turunkan sehingga tidak mengganggu arus lalu lintas pada pagi hingga siang hari.
Sepanjang pelaksanaan, pengunjung dapat menjelajahi pameran seni dan budaya yang mengangkat sejarah Pandu Tionghoa dan Wayang Cina Jawa di Rumah Budaya Ketandan.
Atraksi Liong dan Naga Barongsai setiap hari
Panggung utama diisi pentas seni harian, sementara Wayang Po Tay Hee digelar setiap pukul 19.00–22.00 WIB di Teras Ketandan.
Atraksi Liong dan Naga Barongsai tampil setiap hari. Puncak acara, Malioboro Imlek Carnival atau Karnaval Budaya, dijadwalkan Sabtu, 28 Februari 2026, pukul 20.00–22.30 WIB, dengan rute dari Gedung DPRD DIY hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Momentum perjumpaan nilai
Dalam sambutan pembukaan, Gubernur DIY, Hamengku Buwono X, menempatkan perayaan ini sebagai ruang perenungan nilai.
“Setiap perayaan budaya sejatinya adalah ruang batin peradaban. Sebuah ruang di mana nilai luhur dihidupkan kembali, kesadaran ditinggikan, dan tekad ditempa untuk memuliakan kehidupan dalam keseimbangan dan kebermanfaatan. Di Ketandan, di lorong-lorong kampung tua yang sarat sejarah, di panggung-panggung budaya yang malam ini kembali menyala, kita menyaksikan bagaimana masyarakat menyapa masa lalu, menata masa kini, dan mengirim pesan kepada masa depan. Dan dalam ikut mensyukuri Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili, baik dalam kapasitas sebagai Gubernur maupun secara pribadi, saya mengucapkan: ‘Gong Xi Fa Cai’. Selamat tahun baru, semoga rezeki dan keberkahan,menyertai kita semua," kata Sri Sultan, Rabu (24/2) malam.
Sultan menegaskan bahwa PBTY bukan sekadar agenda tahunan. Melainkan momentum perjumpaan nilai, bukan sekadar pertemuan tradisi tetapi pertemuan kesadaran.
"Dalam nilai kebijaksanaan Tiongkok, dikenal konsep ‘Yin dan Yang’: keseimbangan antara terang dan teduh, antara gerak dan diam, antara kekuatan dan kelembutan. Kehidupan tumbuh bukan di satu sisi, melainkan dalam keselarasan dua kutub, yang saling melengkapi. Dalam peradaban Jawa, dikenal falsafah ‘Hamemayu Hayuning Bawana’, yang bermakna merawat keindahan dan menjaga harmoni dunia. Dua nilai moral dari bahasa yang berbeda ini, bertemu dalam satu pesan yang sama: bahwa keseimbangan adalah fondasi peradaban. Dan ketika keseimbangan menjadi landasan, energi perubahan pun harus diarahkan dengan bijaksana," kata Sultan.
| KPAI Ungkap Trauma Ekstrem Korban Daycare Little Aresha Jogja: Anak Minta Tali Seusai Dimandikan |
|
|---|
| Trauma Korban Daycare Little Aresha: Anak Minta Diikat Setelah Dimandikan |
|
|---|
| PSIM Yogyakarta Berpeluang Finish 10 Besar Klasemen Akhir jika Kalahkan Madura United dan Arema FC |
|
|---|
| Aktivitas Gunung Merapi Rabu 13 Mei 2026 Pagi Ini: Teramati 15 Kali Guguran Lava |
|
|---|
| UAJY Tambah Dua Guru Besar Baru dari Fakultas Teknik dan Hukum |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Sri-Sultan-HB-X-Sebut-PBTY-XXI-di-Bulan-Ramadan-Jadi-Ruang-Perjumpaan-Nilai-dan-Toleransi.jpg)