Wali Murid Pertanyakan Menu Ramadan Program MBG di DIY Mirip Snack Rapat

Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Daerah Istimewa Yogyakarta selama bulan Ramadan menuai sorotan publik.

Tayang:
Tribun Jogja/IST
VIRAL MBG RAMADAN - Paket Makan Bergizi Gratis (MBG) dibagikan kepada siswa di Daerah Istimewa Yogyakarta saat bulan Ramadan, Senin (23/2). Menu yang disesuaikan menjadi penganan kering seperti telur rebus, buah, onde-onde, roti, susu, gorengan, dan keripik tempe menuai sorotan publik. 

Ringkasan Berita:
  • Sejumlah foto yang beredar memperlihatkan paket makanan yang diterima siswa di DI Yogyakarta lebih menyerupai kotak kudapan rapat daripada sajian padat gizi.
  • Dalam visual yang dibagikan warganet, paket tersebut tampak berisi kombinasi beragam penganan seperti telur rebus, buah (salak atau jeruk), onde-onde, aneka gorengan, roti keju, susu kotak, kurma, hingga keripik tempe.
  • Komposisi inilah yang menjadi pangkal pertanyaan, apakah esensi pemenuhan nutrisi anak tetap menjadi prioritas utama.

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis di Daerah Istimewa Yogyakarta selama bulan Ramadan menuai sorotan publik.

Perubahan format dari makanan utama menjadi paket penganan untuk berbuka puasa memicu diskursus mengenai kesesuaiannya dengan standar gizi dan tujuan awal program untuk pemenuhan nutrisi anak sekolah.

Kebijakan penyesuaian menu selama bulan puasa, di mana siswa tidak makan di sekolah, menjadi latar belakang perubahan ini.

Program yang semula menyediakan makanan berat kini beralih ke format paket penganan kering yang bisa dibawa pulang. Namun, modifikasi ini justru menimbulkan keresahan di kalangan orang tua murid.

Kegelisahan tersebut mengemuka dan menjadi perbincangan hangat di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @merapi_uncover pada Senin (23/2).

Sejumlah foto yang beredar memperlihatkan paket makanan yang diterima siswa lebih menyerupai kotak kudapan rapat daripada sajian padat gizi.

Dalam visual yang dibagikan warganet, paket tersebut tampak berisi kombinasi beragam penganan seperti telur rebus, buah (salak atau jeruk), onde-onde, aneka gorengan, roti keju, susu kotak, kurma, hingga keripik tempe.

Komposisi inilah yang menjadi pangkal pertanyaan publik, apakah esensi pemenuhan nutrisi anak tetap menjadi prioritas utama.

Kekhawatiran mengenai nilai gizi paket makanan tersebut disuarakan secara langsung oleh para wali murid di berbagai kabupaten/kota di DIY.

Mereka pada dasarnya mengapresiasi keberlanjutan program, tetapi menyoroti komposisi menu yang dinilai belum sejalan dengan tujuan awal.

Pertanyaan para ibu

Dian (38), seorang wali murid di Sleman, dapat memahami adanya penyesuaian selama Ramadan. Namun, isi paket yang ia lihat membuatnya ragu.

“Saya memahami ada penyesuaian karena Ramadan, jadi anak-anak tidak makan di sekolah. Tapi ketika melihat isi paketnya seperti gorengan dan roti bahkan ada juga yang isinya keripik tempe, saya jadi bertanya apakah itu sudah sesuai standar gizi. Harapannya tetap mengacu pada tujuan awal program, yaitu pemenuhan nutrisi anak,” ujarnya.

Hal senada diungkapkan Dwi (27), warga Prambanan, Sleman. Ia mengapresiasi program yang tetap berjalan, tetapi menginginkan transparansi mengenai kandungan nutrisinya.

“Kami tentu mengapresiasi program Makan Bergizi Gratis ini tetap berjalan selama puasa. Anak saya membawa pulang telur rebus, buah, susu, dan beberapa kudapan. Namun, sebagai orang tua, saya ingin ada penjelasan mengenai komposisi gizinya agar kami yakin kebutuhan anak tetap terpenuhi,” kata Dwi.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved