Guyonan Wakil Bupati Kulon Progo soal Penghapusan Program 'Geblek Renteng'
Banyak catatan setelah pada setahun pertama masa kerja Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko.
Penulis: Alexander Aprita | Editor: Joko Widiyarso
Ringkasan Berita:
- Ada beberapa catatan setelah pada setahun pertama masa kerja Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko.
- Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulon Progo, Aris Syarifuddin, menyebut masih ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki di Bumi Menoreh.
- Dari pekerjaan yang masih jauh dari kata rampung, hal menarik yang disinggung adalah keputusan besar duet Agung-Ambar yang menghapus jejak kepala daerah sebelumnya.
TRIBUNJOGJA.COM, KULON PROGO - Banyak catatan setelah pada setahun pertama masa kerja Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko.
Menurut Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kulon Progo, Aris Syarifuddin, masih ada sejumlah hal yang perlu diperbaiki di Bumi Menoreh.
Di antara pekerjaan yang masih jauh dari kata rampung, hal menarik yang disinggung adalah keputusan besar duet Agung-Ambar yang menghapus jejak kepala daerah sebelumnya.
Selain itu, satu hal yang disorot adalah "komunikasi fluktuatif" antara Bupati-Wakil Bupati KP sebagai lembaga eksekutif dengan DPRD sebagai lembaga legislatif.
Sebagai informasi, operasional PT Selo Adi Karto (PT SAK) akhirnya dihentikan oleh Bupati Agung dengan alasan masalah hukum.
Yang menjadi masalah adalah, keputusan itu diambil tanpa melalui pembahasan terlebih dahulu dengan legislatif, yaitu DPRD.
"Kadang-kadang suatu kebijakan dibuat bahkan tanpa komunikasi, misalnya soal PT SAK," katanya, Kamis (19/02/2026).
Untuk itu, Aris pun mendorong duet Agung-Ambar agar membangun komunikasi yang lebih baik dengan legislatif.
Keduanya juga didorong melakukan penguatan perencanaan keuangan, terutama untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Masih minim inovasi
Selain itu, Aris menilai hingga saat ini belum ada inovasi atau terobosan yang dilakukan untuk meningkatkan PAD Kulon Progo.
Ia juga menilai kebijakan-kebijakan strategis yang dibuat belum memberikan manfaat bagi masyarakat.
"Kami berharap ada penguatan perencanaan keuangan disertai kolaborasi terbuka antara legislatif dan eksekutif," jelasnya.
Tokoh Muhammadiyah Kulon Progo, Sapardiyono juga merasa kebijakan yang dibuat oleh duet Agung-Ambar cenderung memicu kritik di masyarakat. Bahkan cenderung gaduh.
Lebih lanjut, ia juga menyoroti revisi Peraturan Daerah (Perda) Kawasan Tanpa Rokok (KTR). Kebijakan itu memicu gelombang kritik dari masyarakat bahkan akademisi.
"Kebijakan-kebijakan itu justu menurunkan popularitas dan kepercayaan masyarakat pada keduanya," kata Sapardiyono.
Pria yang pernah menjadi bakal calon Bupati Kulon Progo di Pilkada 2024 ini berharap Agung-Ambar lebih fokus pada kebijakan krusial dan vital, seperti perbaikan infrastruktur.
Cara tersebut dinilai akan dapat mengembalikan kepercayaan masyarakat terhadap pemimpinnya.
Kontroversi penghapusan "Geblek Renteng"
Yang paling banyak dibicarakan adalah keputusan besar Agung-Ambar untuk menghilangkan kebijakan pemimpin sebelumnya, Hasto Wardoyo, yakni Geblek Renteng.
Menurut Aris, apa yang dilakukan Bupati dan Wakil Bupati, Agung Setyawan dan Ambar Purwoko sebagai hal yang "emosional".
Pasalnya, itu bagaikan menggantikan identitas lama batik motif Geblek Renteng Kulon Progo dengan motif Binangun Kertaharja yang diluncurkan tahun lalu.
Bahkan, segala hal yang berbau Geblek Renteng di pagar bangunan pemerintah pun juga digantikan dengan ornamen Gunungan serta warna kuning dan hijau Pare Anom.
Tak ayal, perubahan besar-besaran terhadap identitas tersebut menjadi bahan pembicaraan publik Kulon Progo di media sosial.
"Itu kebijakan yang emosional dan tidak esensial, padahal masih banyak persoalan lain yang harus disentuh, seperti perbaikan infrastruktur," jelas Aris.
Tentang Geblek Renteng
Geblek Renteng adalah motif batik khas Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, yang terinspirasi dari makanan tradisional geblek (berbentuk angka delapan) dan kuncup bunga.
Motif ini menjadi pernah simbol identitas daerah yang sempat digunakan sebagai seragam sekolah, PNS, serta instansi, sekaligus lambang kemajuan dan kemandirian ekonomi daerah.
Motif ini diciptakan oleh Ales Candra Wibawa (siswa SMA 1 Wates) melalui lomba desain batik khas Kulon Progo, populer pada era Bupati Hasto Wardoyo.
Filosofinya mencerminkan jalinan persaudaraan dan gotong royong masyarakat Kulon Progo.
Wabup Ambar menganggi kritik
Wakil Bupati Kulon Progo, Ambar Purwoko pun menanggapi kritik terkait kinerjanya bersama Bupati Kulon Progo Agung Setyawan di setahun pertama.
Itu juga termasuk merespons pernyataan dari Ketua DPRD Kulon Progo terkait kinerja selama setahun ini.
Salah satunya soal infrastruktur, yang mana masyarakat merasa belum terlihat upaya perbaikan terhadap jalan yang rusak di Kulon Progo. Ambar mengatakan perbaikan jalan sudah menjadi program prioritas.
"Kami upayakan paling tidak untuk Jalan Kabupaten di Kulon Progo tidak berlubang ke depan," katanya dihubungi pada Jumat (20/02/2026).
Ambar tak menampik bahwa banyak ruas jalan di Kulon Progo yang rusak dan tidak tersentuh perbaikan selama belasan bahkan puluhan tahun.
Ia menyatakan perbaikan infrastruktur seperti jalan jadi fokus kerja di tahun 2027 hingga 2029.
Jawaban soal Geblek Renteng
Ia turut menjawab kritikan soal perubahan identitas daerah Kulon Progo, dari Geblek Renteng menjadi Binangun Kertaharja.
Perubahannya dilakukan pada motif batik hingga ornamen di bangunan pemerintah.
Menurutnya, perubahan itu dilakukan demi mengembalikan identitas Kulon Progo yang sesungguhnya, yaitu Gunungan Binangun. Selaras dengan lima Gunungan yang mewakili setiap kabupaten/kota di DIY.
"Kami hanya ingin mengembalikan sejarah dan budaya yang ada di Kulon Progo, dan juga Geblek itu kan digoreng, bukan direnteng," kata Ambar sembari sedikit berkelakar.
Ia pun merasa komunikasi dirinya dan Bupati sebagai eksekutif dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) sebagai legislatif sudah berjalan baik.
Klaim itu didasarkan pada proses penyusunan sejumlah peraturan daerah (perda).
Ambar pun memastikan bahwa pihaknya akan lebih terbuka dalam membahas perencanaan keuangan daerah.
Salah satunya rencana untuk lebih banyak memfokuskan anggaran untuk infrastruktur mulai tahun depan.
"Kami pastikan eksekutif dan legislatif bersama-sama bekerja untuk masyarakat Kulon Progo yang lebih sejahtera, maju dan bahagia," ujarnya.
Terlepas dari berbagai kritik tersebut, Ambar menilai kinerjanya selama setahun pertama bersama Agung Setyawan sebagai Bupati sudah berjalan baik, seperti pemenuhan target terkait peningkatan akses layanan ke masyarakat.
Ia mengklaim bahwa saat ini warga Kulon Progo mendapatkan lebih banyak kemudahan dalam mengurus berbagai dokumen administrasi dan kependudukan yang penting. Perizinan pun saat ini dinilai lebih mudah, tanpa biaya, dan terbuka.
"Masyarakat Kulon Progo bisa mengakses semua layanan dengan mudah dan terbuka," kata Ambar.
Komentar warga Kulon Progo
Di sisi lain, setahun sudah duet Agung Setyawan dan Ambar Purwoko memimpin sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kulon Progo, sejak dilantik pada Februari 2025 lalu.
Warga Bumi Binangun pun memberikan beragam komentar terkait kinerja keduanya selama setahun.
Seperti Winarto, warga Kalurahan Karangwuni, Kapanewon Wates. Ia merasa tidak ada gebrakan yang dibawa oleh pasangan tersebut selama setahun memimpin.
"Saya pribadi kecewa dengan kinerjanya, rasanya tidak ada gebrakan," katanya pada Kamis (19/02/2026).
Winarto yang berprofesi sebagai nelayan juga menyoroti sejumlah proyek yang hingga kini tanpa kejelasan di bawah kepemimpinan Agung-Ambar. Seperti nasib Pelabuhan Adikarto yang kini mangkrak.
Menurutnya, Pelabuhan Adikarto sangat potensial untuk dikembangkan. Tak hanya untuk mendukung sektor perikanan dan kelautan, tapi juga sektor pariwisata sebagai salah satu destinasi.
"Kami berharap ada gebrakan positif di Kulon Progo baik dari infrastruktur, pendidikan, juga pariwisata," ujar
Winarto.
Kulon Progo tidak berkembang
Tak jauh berbeda, Tanto, warga di Kapanewon Panjatan merasa belum ada dampak positif yang dirasakan selama setahun kepemimpinan Agung-Ambar. Ia bahkan menyebut kondisi Kulon Progo cenderung stagnan.
Sorotan diberikan pada kondisi infrastruktur di Kulon Progo. Menurutnya masih banyak jalan yang kondisinya rusak dan belum terlihat adanya upaya perbaikan.
"Saya juga melihat ketidakpuasan masyarakat dari komentar yang diberikan di media sosial," ungkap Tanto.
Ia berharap Agung-Ambar segera menunjukkan hasil kerja yang nyata sesuai janji saat kampanye. Terutama di sisa kepemimpinan selama 4 tahun ke depan.
Maryanti, warga Kapanewon Kokap, justru melihat sisi lain dari pasangan Agung-Ambar selama setahun bekerja.
Ia mengapresiasi dukungan keduanya pada sektor olahraga lewat wacana pengadaan lapangan voli di tiap kalurahan.
"Begitu juga dengan dukungan untuk Karang Taruna di kalurahan, yang menunjukkan kehadiran pemerintah," katanya.
Maryanti pun berharap Agung dan Ambar benar-benar bekerja untuk menunjukkan hasil yang nyata. Termasuk tidak hanya melakukan pencitraan lewat publikasi di media sosial.
| Meraba Celah Kecurangan Pajak Kendaraan Tanpa KTP Pemilik Lama |
|
|---|
| Kisah Jemaah Haji Termuda Kulon Progo, Berangkat Gantikan Almarhum Ayah |
|
|---|
| Beli Pertalite Berulang untuk Dijual Kembali, Pedagang BBM Eceran Ditangkap Polisi Magelang Kota |
|
|---|
| Muhammad Suryo Bangun Masjid di Temon Kulon Progo untuk Kenang Mendiang Istri |
|
|---|
| Sekda DIY Pastikan Kesiapan Matang Embarkasi YIA, Janjikan Pelayanan Prima bagi Jemaah Haji |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Cerita-Pengalaman-Bupati-Kulon-Progo-Agung-Setyawan-selama-Mengikuti-Retret-di-Magelang.jpg)