Ramadan 2026

PWNU DIY Soal Awal Ramadan 2026 yang Berpotensi Beda

PWNU DIY menegaskan kembali komitmennya menggunakan metode rukyatul hilal (observasi bulan secara langsung) dalam menentukan awal Ramadan

Mohd RASFAN / AFP
MENANTI RAMADAN - (Arsip) Petugas menggunakan teleskop untuk melakukan "rukyah", penampakan bulan baru untuk bulan suci puasa Ramadhan, di Putrajaya, Malaysia pada 2021. Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menegaskan kembali komitmennya menggunakan metode rukyatul hilal (observasi bulan secara langsung) dalam menentukan awal Ramadan 1445 Hijriah. 

”Pesan kami: Kita tetap jaga persatuan agar kita bisa fokus pada ibadah. Tidak perlu dibincangkan perbedaan. Yang maha tahu hakikat kebenaran hanya Allah Swt. Kita jangan melebihi kewenangan Allah untuk mengklaim kebenaran tunggal,” ucap Zuhdi.

Ke depan, PWNU DIY mendorong adanya dialog yang lebih intensif untuk mendekatkan berbagai pandangan (taqribu bainal ara') di kalangan umat Islam.

Hal ini dinilai krusial, terutama untuk ibadah-ibadah yang memiliki dampak sosial luas. Diskusi tersebut diharapkan tidak hanya melibatkan organisasi massa Islam di dalam negeri, tetapi juga mencakup kriteria yang disepakati negara-negara tetangga.

”Ke depan kita berharap terjadi taqribu bainal ara' (pendekatan berbagai pendapat) di kalangan umat Islam, sehingga untuk ibadah-ibadah yang mengandung dimensi sosial besar dapat dicarikan titik-titik temu lebih baik lagi,” kata Zuhdi.

Mengenai gambaran praktik pendekatan tersebut, Zuhdi mencontohkan perlunya diskusi ulang mengenai kriteria teknis visibilitas hilal. ”Misalnya kriteria wujudul hilal (wujudnya bulan tanggal 1) dan imkanur rukyat, mungkin perlu didiskusikan lagi berapa derajad. Ya tidak hanya itu, kaitannya dengan negara-negara Asia Tenggara juga (Mabim),” pungkasnya.
 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved