194 Kasus PMK Ditemukan di DIY, Sebaran Tertinggi di Kulon Progo

Sebaran kasus PMK di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didominasi wilayah Kulon Progo

Tribun Jogja/Alexander Aprita
AMBIL SAMPEL: Proses pengambilan sampel dari sapi oleh petugas di Kalurahan Bendungan, Kapanewon Wates, Kulon Progo, Rabu (14/01/2026). Pengambilan sampel terkait dengan eskalasi kasus PMK di wilayah Kulon Progo. 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebaran kasus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) didominasi wilayah Kulon Progo yang mencatat 91 kasus, dari total 194 kasus yang menyerang ternak sapi dan kambing.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) DIY, Aris Eko Nugroho, mengatakan ratusan kasus tersebut tersebar di empat kabupaten dengan jumlah bervariasi.

Selain Kulon Progo, kasus juga ditemukan di Sleman sebanyak 78 kasus, Bantul 24 kasus, dan Gunungkidul 1 kasus.

“Paling banyak itu di Kulon Progo total ada 91 kasus,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).

Dipengaruhi Banyak Faktor

Menurut Aris, meningkatnya kasus PMK dipengaruhi beberapa faktor.

Salah satunya pelaksanaan vaksinasi pada tahun sebelumnya yang belum maksimal.

Selain itu, mobilitas hewan ternak dari luar daerah turut berkontribusi terhadap penyebaran penyakit.

Dampak dari penularan tersebut juga menyebabkan kematian ternak, meski jumlahnya masih terbatas.

“Total ada enam hewan yang terpantau mati,” bebernya.

Baca juga: DKPP Bantul Distribusikan Vaksinasi PMK Secara Bertahap di Pundong

Langkah Pengendalian

Sebagai langkah pengendalian, DPKP DIY saat ini mengintensifkan vaksinasi ternak guna menekan penularan virus.

Pemerintah daerah telah menyalurkan vaksin tahap awal ke wilayah terdampak.

“Sebanyak 30 ribu dosis vaksin tahap pertama telah dikirimkan dari provinsi ke beberapa daerah tersebut. Sebagian hewan ternak sudah divaksin. Stok vaksin pun aman,” jelasnya.

PMK merupakan penyakit akibat virus akut yang sangat menular dan menyerang hewan berkuku belah atau genap seperti sapi, kerbau, kambing, domba, dan babi.

Penyakit ini ditandai dengan gejala lepuh pada mulut atau lidah dan kuku, demam tinggi, serta liur berlebih.

Meski kasus masih ditemukan, Aris menyebut tingkat kesembuhan ternak menunjukkan perkembangan positif.

“Jika dilihat dari data, tingkat kesembuhannya saat ini sudah lebih dari 48 persen,” tandasnya. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved