Curah Hujan Tinggi, Dinkes Sleman Minta Warga Waspada Leptospirosis

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat untuk waspada Leptospirosis di musim hujan

Tayang:
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
ist
Ilustrasi Leptospirosis 
Ringkasan Berita:
  • Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat untuk waspada Leptospirosis. 
  • Sepanjang tahun 2025, penyakit ini menjangkit 423 kasus dengan 9 kematian di Sleman
  • Dinas Kesehatan Sleman telah melakukan langkah - langkah integrasi untuk penangan penyakit ini melalui deteksi dini

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Kasus Leptospirosis cenderung mengalami peningkatan seiring tingginya curah hujan dan resiko munculnya banjir genangan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sleman mengimbau masyarakat untuk waspada Leptospirosis. 

Mengingat, sepanjang tahun 2025, penyakit kencing tikus menjangkit 423 kasus dengan 9 kematian di Sleman yang membuat penyakit infeksi akut dari bakteri Leptospira ini sebagai ancaman serius saat musim penghujan. 

"Leptospirosis di Sleman memang memerlukan kewaspadaan ekstra, terutama karena karakteristik wilayahnya yang memadukan area persawahan luas dengan pemukiman padat," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinkes Sleman, Khamidah Yuliati, Rabu (11/2/2026). 

Fluktuasi kasus leptospirosis 

Menurut Yuli, dalam satu tahun terakhir trend kasus leptospirosis di Sleman menunjukkan fluktuasi kasus yang cenderung meningkat di awal tahun. Utamanya pada musim pancaroba atau masa peralihan. Kasus tertinggi berada di wilayah Moyudan, Minggir, Prambanan dan Ngemplak.

Kasus cenderung tinggi di wilayah-wilayah ini karena memiliki karakteristik lahan pertanian yang luas serta memiliki irigasi aktif. Namun bukan hanya pada wilayah lahan pertanian luas, penyakit kencing tikus juga berkembang di wilayah padat penduduk seperti Depok, Ngaglik, Mlati dan Pakem. 

Kasus meningkat signifikan saat musim penghujan. Sebab genangan air hujan atau banjir membawa urin tikus yang terinfeksi bakteri Leptospira ke lingkungan manusia. Sedangkan di lingkungan padat kasus meningkat biasanya karena pengelohan sampah belum optimal terutama sampah organik yang merupakan sumber makanan tikus. 

"Kalau faktor utama penyebaran penyakit ini karena kontak langsung kulit, terutama yang memiliki luka dengan air atau tanah yang tercemar, serta populasi tikus di lingkungan pemukiman dan persawahan yang tidak terkendali," katanya. 

Deteksi dini

Dinas Kesehatan Sleman telah melakukan langkah - langkah integrasi untuk penangan penyakit ini melalui deteksi dini. Petugas Puskesmas di Sleman telah dibekali Rapid Diagnostic Test (RDT) agar diagnosis tidak perlu menunggu lama. Petugas surveilans juga aktif melakukan penyelidikan epidemiologi maksimal 24 jam setelah laporan kasus masuk.

Program pengendalian tikus juga dilaksanakan dengan gerakan pemasanga trapping secara serentak dan gropyokan tikus secara periodik di lahan pertanian berkoordinasi dengan Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan (DP3) Sleman serta edukasi pemasangan jebakan tikus di rumah tangga.

"Bagi warga yang beraktivitas di area risiko seperti petani, peternak, atau warga di area banjir kami imbau menggunakan APD. Bisa menggunakan sepatu bot dan sarung tangan saat ke sawah atau membersihkan selokan," ujar dia.(*) 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved