Masjid Era Kolonial di Sleman Ini Genap Satu Abad, Konon Pernah Disinggahi Pangeran Diponegoro
Masjid tersebut diberi nama Daarunna'iim, yang konon sudah ada sejak 1926 Masehi atau 19 tahun sebelum Indonesia merdeka.
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sebuah masjid yang berdiri sejak era kolonial Belanda di Padukuhan Kleben, Caturharjo, Kabupaten Sleman genap berusia satu abad.
Masjid tersebut diberi nama Daarunna'iim yang konon sudah ada sejak 1926 masehi atau 19 tahun sebelum Indonesia merdeka.
Untuk memperingati usia satu abad masjid tersebut, warga setempat menggelar kirab budaya sekaligus membuka rangkaian agenda keagamaan.
Ada empat gunungan besar dan satu gunungan kecil yang diarak keliling padukuhan bersama ribuan warga setempat.
Gunungan itu berisi bahan pangan hasil bumi, serta beberapa makanan siap santap.
Ada Kaitan Masjid Pathok Negoro
Tokoh masyarakat setempat, Sudjito, mengatakan berdasarkan sejarah, masjid Daarunna'iim kemungkinan besar berkaitan dengan beberapa masjid Pathok Negoro Yogyakarta.
Dia meyakini hal itu lantaran bangunan awal dari masjid tersebut dari segi arsitekturnya menyerupai masjid Pathok Negoro.
"Ini berdiri sejak 1926 kalau di peta era Belanda, terus kemudian dipugar. Bentuk awalnya dulu seperti Masjid Pathok Negoro. Informasi sejarahnya begitu," katanya.
Beberapa ornamen masjid yang hingga kini masih dipertahankan ialah tiang penopang atau sokoguru (Joglo).
"Harapan ke depan kami selaku generasi penerus mudah-mudahan masjid ini lebih makmur, jadi bisa menjadi jariahnya para penduduk-penduduk kami," ujarnya.
Baca juga: 69 Anak Terlantar di Sleman Difasilitasi Akta Kelahiran
Nur Jamil Dimyati, selaku Imam Masjid Daarunna'iim, mengatakan kirab budaya pada Minggu siang menjadi momentum bersyukur sekaligus menyambut bulan suci Ramadan.
“Ini menjadi refleksi juga termasuk dalam rangka menyongsong bulan suci Ramadan. Kalau untuk menyongsong bulan suci Ramadan ini rutin setiap tahun berjalan alhamdulillah, nah, sekarang ini kebetulan pas genap seratus tahun lebih di masjid kami,” terang Jamil.
Selain kirab, lanjut Jamil, pihaknya juga menggelar aneka pentas seni religi di antaranya kesenian hadroh, pentas seni badui, hapalan Alquran dan doa bersama.
Disinggahi Pangeran Diponegoro
Dia menambahkan, yang membuat masjid tersebut menjadi istimewa lantaran para pendirinya merupakan para tokoh hebat pada masanya.
“Dulu Mbah Surodoksono Ini tokoh masyarakat disini, kalau dari cerita-cerita saya tidak tahu persis, namun ada peninggalan yang menunjukkan ini sebagai sejarah konon katanya Pangeran Diponegoro pun pernah singgah di sini Ini kaitannya dengan kampung yang namanya Kampung Kerisan,” ungkapnya.
Panewu Sleman, Drs Rasyid Ratnadi, berharap masyarakat di dua padukuhan Kleben dan Keceme yang merayakan satu abad Masjid Daarunna’iim semakin guyub dan mejaga silaturahmi antar sesama.
“Semoga terus memakmurkan dan bermanfaat bagi semua masyarakat,” pungkasnya. (*)
| PSS Sleman Selangkah Lagi Susul PSIM Yogyakarta ke Liga 1, Sri Sultan HB X Sambut Gembira |
|
|---|
| Angin Kencang Melanda Sleman, 21 Rumah di 3 Kapanewon Rusak |
|
|---|
| PSS Sleman Tanpa Fachruddin Aryanto Hadapi PSIS Semarang, Ini Kata Ansyari |
|
|---|
| PSS Sleman vs PSIS Semarang: Kuota 16 Ribu Penonton Disetujui, Tribun Utara-Selatan Dibuka Lagi |
|
|---|
| Dapat Dukungan Suporter, Ansyari Lubis Tegaskan PSS Sleman Harus All Out Lawan PSIS Semarang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Gunungan-hasil-bumi-di-depan-Masjid-Daarunnaiim.jpg)