Jogja Diguncang Gempa, Ahli Gempa Bumi UGM Ingatkan Potensi Bencana dan Edukasi Masyarakat

Ahli Gempa Bumi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir. Gayatri Indah Marliyani, Ph.D mengatakan dua gempa yang dirasakan masyarakat berbeda.

IST
Ilustrasi Gempa 
Ringkasan Berita:
  • Ahli Gempa Bumi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir. Gayatri Indah Marliyani, Ph.D mengatakan gempa pertama agak mengayun, sedangkan gempa kedua sedikit tersentak.
  • Secara mekanisme, kedua gempa itu sumbernya berbeda. Ada kemungkinan gempa pertama memicu gempa selanjutnya.
  • Sesar Opak menjadi yang paling dipantau. Apalagi sejak gempa tahun 2006 lalu. Hal itu karena daya rusaknya relatif besar. 
  • Ia mengingatkan potensi gempa mendatang dan pentingnya edukasi kepada masyarakat untuk merespons gempa

 

Laporan Reporter Tribun Jogja Christi Mahatma Wardhani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA- Masyarakat di DIY merasakan gempa dua kali pada, Selasa (27/1/2026). Gempa pertama dirasakan pukul 09.00 berpusat di Pacitan. 

Sementara gempa kedua sekitar pukul 13.00 berpusat di 16 km arah timur Bantul dengan kedalaman 11 km akibat aktivitas Sesar Opak, dengan kekuatan 4,5. 

Dua gempa berbeda

Ahli Gempa Bumi Universitas Gadjah Mada (UGM) Ir. Gayatri Indah Marliyani, Ph.D mengatakan dua gempa yang dirasakan masyarakat berbeda. Gempa pertama agak mengayun, sedangkan gempa kedua sedikit tersentak.

“Nah sebenarnya ini memberikan indikasi sumbernya. Kalau tadi pagi itu agak dalam, lebih dari 100 km ke dalam, agak mengayun. Yang selanjutnya agak tersentak gitu. Secara mekanisme, keduanya sumbernya berbeda,” katanya, Selasa (27/1/2026).

Ia menyebut ada kemungkinan gempa pertama memicu gempa selanjutnya.

“Yang satu di zona instaslab. Istilahnya kayak lempeng yang di dalam yang masuk. Nah gempa kedua yang kedua mungkin respon terhadap goncangan yang tadi pagi. Yang bagian atas menjadi tidak sedikit tidak stabil, karena sebenarnya kan Sesar Opak aktif gitu ya. Tapi terus kesenggol sedikit, terus mungkin ada yang sudah diambang pergerakan,” sambungnya.

Sesar Opak paling dipantau

Meski bukan sesar yang paling aktif, namun Sesar Opak menjadi yang paling dipantau. Apalagi sejak gempa tahun 2006 lalu. Hal itu karena daya rusaknya relatif besar. 

Gayatri pun mengingatkan adanya potensi gempa di waktu yang akan datang. Hal itu pergerakan lempeng di selatan Jawa terus cukup besar yakni 6 cm per tahun. 

Pergerakan lempeng itu menyebabkan gempa di palung, salah satunya yang terjadi di Pacitan Selasa pagi. Namun ada beberapa dari pergerakan lempeng yang tertahan, sehingga diakomodasi menjadi sesar di darat, salah satunya Sesar Opak.

“Nah kebetulan orientasi Sesar Opak ini cocok, kalau didorong dari situ ya dia akan bergerak. Sehingga bayangan kita, sampai waktu yang akan datang, dia akan menjadi salah satu struktur sesar yang mengakomodasi pergerakan ini. Kemudian kondisi batuan di Yogyakarta ini mendukung untuk gelombang itu menjadi teramplifikasi,” terangnya.

Perlu edukasi masyarakat

Hingga saat ini, gempa menjadi salah satu bencana yang belum bisa dideteksi. Belum ada teknologi yang mampu mendeteksi dini gempa. Untuk itu, ia mendorong agar edukasi kepada masyarakat terus dilakukan, termasuk latihan untuk merespon gempa.

Kesiapan masyarakat dalam merespon gempa menjadi yang utama.

“Tadi praktiknya malah pada lari, karena mungkin sudah lama tidak latihan ya. Seharusnya kan ketika terjadi gempa tidak boleh berlari, berlindung di bawah objek. Artinya edukasi dan training ini harus terus dilakukan, meskipun kita belum tahu terjadi kapan,” imbuhnya. (maw)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved