Punya Potensi Besar, Pariwisata Jogja Didorong Bidik Pasar Premium Lewat Standar GSTC

Yogyakarta didorong aktif menarik wisatawan premium mancanegara yang kini semakin selektif terhadap isu lingkungan dan budaya.

Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Muhammad Fatoni
Dokumentasi untuk Tribun Jogja/Istimewa
DISKUSI - Suasana forum diskusi bertajuk 'Tourism First Space: Jagongan Wisata Jogja', di Kota Yogyakarta, Rabu (21/120/26). 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sektor pariwisata Yogyakarta dianggap punya potensi besar untuk melangkah lebih jauh ke panggung global.

Alhasil, Yogyakarta pun didorong aktif menarik wisatawan premium mancanegara yang kini semakin selektif terhadap isu lingkungan dan budaya.

​Hal tersebut menjadi perbincangan hangat dalam forum bertajuk 'Tourism First Space: Jagongan Wisata Jogja', di Kota Yogyakarta, Rabu (21/1/2026).

Acara yang diinisiasi oleh Ir. Arif Effendi, Itock Van Diera, dan Agung Wicaksono ini sukses menjadi pesta ide bagi para pemangku kepentingan. 

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Imam Pratanadi, beserta jajaran dinas pariwisata kota/kabupaten pun turut duduk bersama merumuskan arah masa depan tourism Yogyakarta.

Peluang Besar

Pakar sustainability dari Universitas Trisakti, Dr. M. Windrawan Inantha, membedah peluang besar yang selama ini mungkin belum tergarap maksimal, yakni Sertifikasi Pariwisata Berkelanjutan.

​Ia pun menyoroti Global Sustainable Tourism Council (GSTC) sebagai sebuah standar universal yang sudah diakui dunia sejak 2007. 

Baginya, sertifikasi ini adalah jembatan emas bagi Yogyakarta untuk memikat turis yang rela merogoh kocek lebih dalam demi pengalaman yang bertanggung jawab.

​"Bayangkan, dengan skema keberlanjutan ini, bisa membuka akses ke wisatawan dari Amerika yang siap bayar premium untuk tur budaya ramah lingkungan," terangnya.

Baca juga: Yogyakarta Kini Punya Komunitas Peduli Sungai, Jadi Ujung Tombak Pelestarian Lingkungan 

Win mengungkapkan, bahwa proses menuju ke sana dimulai dari gap assessment guna mengidentifikasi kekurangan di lapangan.

Baik dari sisi manajemen hotel hingga pengelolaan destinasi, dengan poin utamanya pada keseimbangan antara People, Profit, dan Planet.

"Misalnya, yang paling dekat, melindungi warisan budaya Yogyakarta, sembari menciptakan lapangan kerja baru di sektor hijau," ucapnnya.

Dijelaskan, survei global menunjukkan bahwa 70 persen pelancong milenial dewasa ini memprioritaskan aspek keberlanjutan dalam memilih objek wisata.

Sebagai perbandingan, destinasi di Selandia Baru yang telah mengantongi sertifikat serupa, mencatat lonjakan kunjungan premium hingga 25 persen.

Optimistis

​Dengan keberagaman dan kekayaan aset yang dimiliki, ia pun optimis Yogyakarta bisa mengikuti jejak sukses tersebut, jika dibarengi keseriusan.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved