Dampak Talud Ambrol di Sungai Buntung, Warga Khawatir Jembatan Ikut Tergerus

Insiden ambrolnya talut Sungai Buntung, di perbatasan Bumijo dan Bangunrejo, Kota Yogyakarta, Sabtu (17/1/26) sore, sontak mengejutkan warga.

Tayang:
Penulis: Azka Ramadhan | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Azka Ramadhan
AMBROL - Warga menunjukkan titik Balai RT dan talut Sungai Buntung di wilayah Kota Yogyakarta yang ambrol akibat diterjang hujan deras, Minggu (18/1/26). (TRIBUN JOGJA/AZKA RAMADHAN) 

Ringkasan Berita:
  • Talut Sungai Buntung di perbatasan Bumijo–Bangunrejo ambrol akibat hujan deras dan cuaca ekstrem, menyeret fondasi Balai RT 57 hingga ambles ke dasar sungai.
  • Ambrolnya talut memicu kekhawatiran warga, karena mengancam jembatan penghubung vital antara Pingit, Bangunrejo, dan Jalan Jambon.
  • Pemkot Yogyakarta melalui DPUPKP akan menindaklanjuti kerusakan, sementara BPBD DIY mencatat kejadian ini sebagai dampak cuaca ekstrem di Kota Yogyakarta.

 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Azka Ramadhan

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Insiden ambrolnya talut Sungai Buntung, di perbatasan Bumijo dan Bangunrejo, Kota Yogyakarta, Sabtu (17/1/26) sore, sontak mengejutkan warga.

Talut sungai yang menjadi penopang bangunan Balai RT 57 Bangunrejo tersebut tiba-tiba ambrol, menyeret fondasi bangunan hingga ambles ke dasar sungai.

Bendahara RT 11 RW 13 Bumijo, Kemantren Jetis, Isnedi, menuturkan, saat insiden itu terjadi, hujan deras disertai angin kencang dan petir tengah melanda wilayahnya.

Di tengah guyuran air langit yang begitu pekat, sebuah dentuman keras pun didengar oleh warga di permukiman padat penduduk tersebut, sekitar pukul 15.30 WIB.

"Memang hujan deras, ada angin, petir juga. Sekitar setengah empat, air sungai naik dan tiba-tiba ada suara 'bruuum' gitu, aduh keras sekali," tandasnya, Minggu (18/1/26).

Berdasarkan pantauan Tribun Jogja di lokasi, tampak material bangunan Balai RT 57 yang kini telah porak-poranda di bibir sungai

Sebagian atap seng terlibat miring dan menggantung, sementara fondasi tanah di bawahnya sudah habis digerus aliran air yang meluap.

​Isnedi menceritakan, lokasi tersebut memang memiliki sejarah kelam, di mana kejadian serupa pernah terjadi saat banjir lahar dingin Gunung Merapi tahun 2010 silam. 

​Meski sempat diperbaiki pasca-2010, ia menilai, konstruksi penguat berupa bronjong di sisi utara sungai belum maksimal karena tidak dilapisi semen atau dipoles permanen.

Baca juga: Ditahan Persela 1-1, PSS Sleman Gagal Kudeta Barito Putera di Puncak Klasemen

"Jadi, lama-lama kalau ada banjir, tanahnya tergerus sedikit demi sedikit. Apalagi di bawah jembatan ini ada jalur aliran air lama yang bocor, dan air menghantam ke kiri dan kanan," terangnya.

Warga Khawatir

Kekhawatiran warga pun sontak memuncak, karena ambrolnya talut ini mengancam akses jembatan yang menjadi nadi utama mobilitas warga. 

Bukan tanpa alasan, jembatan tersebut merupakan akses penghubung wilayah Pingit menuju Bangunrejo, hingga tembus ke Jalan Jambon.

​"Harapannya, ya segera diperbaiki. Ini akses vital, akses utama antar wilayah. Kalau tidak segera ditangani, kami takut jembatannya nanti ikut kena, bisa-bisa katut (terbawa arus) kalau ada banjir susulan," ungkapnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved