Sejumlah Warga di DIY Nilai Wacana Pilkada Lewat DPRD Berpotensi Suburkan Oligarki
Warga di DIY memandang langkah ini sebagai upaya sistematis untuk meminggirkan partisipasi publik dalam menentukan arah kepemimpinan di daerah
Penulis: R.Hanif Suryo Nugroho | Editor: Muhammad Fatoni
Dari perspektif generasi muda, wacana ini dipandang sebagai ancaman serius terhadap keberlanjutan demokrasi Indonesia di masa depan.
Arif, mahasiswa kampus negeri di Yogyakarta, menganggap penghapusan pilkada langsung akan memicu sikap apatis di kalangan generasi Z dan milenial yang selama ini mulai aktif menyuarakan isu-isu sosial melalui keterlibatan politik.
"Ini bukan sekadar soal teknis pemilu, tapi soal prinsip dasar kedaulatan rakyat yang mau dikebiri. Generasi muda seperti kami akan kehilangan akses untuk menentukan masa depan daerah sendiri. Jika DPRD yang memilih, maka akan muncul ’raja-raja kecil’ yang tidak tersentuh kritik publik karena mereka merasa legitimasi kekuasaannya didapat dari partai, bukan dari mandat rakyat di bilik suara," ujar Arif.
Ia menekankan bahwa demokrasi di Indonesia seharusnya terus diperbaiki, bukan dipangkas secara ekstrem.
"Jangan sampai kemunduran ini dibiarkan, karena lama-lama fungsi rakyat dalam negara demokrasi hanya akan dijadikan objek penderita saja, bukan subjek penentu kebijakan. Jika hak memilih saja diambil, jangan salahkan jika anak muda nantinya benar-benar tidak peduli lagi dengan negara ini," tambahnya.
Hingga saat ini, perdebatan mengenai perubahan UU Pilkada ini masih terus bergulir di DPR.
Meskipun sejumlah partai pendukung pemerintah memberikan sinyal hijau, tekanan dari publik yang merasa hak pilihnya 'tergerus' diprediksi akan terus meningkat menjelang pembahasan regulasi tersebut di tahun 2026 ini. (*)
| Mimbar Legislasi: Dukung SPMB 2026, Subhan Nawwawi Berharap Mutu Pendidikan di Bantul Makin Merata |
|
|---|
| Tekanan Ekonomi Terasa di Akar Rumput, Legislatif Minta Pemkot Yogya Siapkan KUR Daerah |
|
|---|
| Fraksi PKB Ingatkan Pemkab Klaten, Aturan Plastik Sekali Pakai Jangan Bebani Pedagang Kecil |
|
|---|
| TPS Belum Siap, Fraksi Amanat Pembangunan Desak Pemkab Klaten Serius Benahi Sistem Sampah |
|
|---|
| Dukung Raperda Sampah, PKS Pertanyakan Pemanfaatan Teknologi dan Kerja Sama Pengelolaan TPA Klaten |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/cara-mencoblos-surat-suara-agar-sah.jpg)