Polisi Tanggapi Tudingan Upaya Pembungkaman Saat Diskusi Buku di Yogyakarta
Kapolresta Yogakarta menyebut kedatangan anggota kepolisian sebagai upaya menjalankan tugas sebagai pelayan, pelindung, dan pengayom masyarakat.
Penulis: Miftahul Huda | Editor: Muhammad Fatoni
Dia mengatakan, diskusi buku itu hanya berlangsung sekitar dua jam mulai 19.00 WIB sampai 21.00 WIB.
“Tapi polisi nungguin sampai jam 12 malam. Awalnya mereka empat orang terus duduk, menanayakan sudah ada izin belum, kalau belum ya kami akan mengawasi,” kata Luviana, saat dihubungi Tribun Jogja, Rabu malam (24/12/2025).
Sebagai sosok yang pernah hidup di era Orde Baru, tentu saja Luviana merasa bahwa pengawasan pihak kepolisian terhadap diskusi buku sangatlah berlebihan.
Meskipun tindakan represif secara fisik menurutnya belum terjadi pada saat diskusi berlangsung, namun dia mengklaim tindakan pengawasan itu bentuk dari pembunuhan kebebasan berbicara.
“Ini bentuk pembunuhan kebebasan berbicara, memberikan pengetahuan kepada orang lain. Kalau kami naggk buat statement pernyataan sikap takutnya hal gini akan terjadi, terus diawasi. Polisi nungguin itu kan situasi yang sama dengan Ode Baru,” tegas Luviana.
“Ini namanya pembasmian pengetahuan, dulu kan diskusi harus izin, gak boleh diskusi, dibubarkan, baca buku harus sembunyi-sembunyi,” sambungnya.
Luviana melanjutkan, diskusi buku kumpulan peliputan ini dilaksanakan Konde.co berkolaborasi dengan Marjin Kiri serta sejumlah pihak.
Isi Buku
Buku Pembangunan untuk Siapa? Kisah Perempuan di Kampung Kami" mengulas kisah-kisah perempuan dari berbagai desa yang menolak tunduk ketika pembangunan meminggirkan mereka.
Di tengah pembangunan Ibu Kota Nusantara dan Proyek Strategis Nasional (PSN), perubahan iklim, serta keserakahan korporasi, para perempuan melawan dari kebun dan ladang yang tersisa.
Juga dari rumah yang terancam digusur atau tenggelam, dengan tubuh mereka sendiri sebagai perisai terakhir.
Di bawah ancaman kriminalisasi, mereka berdemo, turun langsung mengadang alat berat juga membangun komunitas untuk menyusun siasat bersama.
“Jadi isi buku ini misalnya para perempuan menjadi korban PSN, IKN dan korban banjir rob di Demak, lahannya sudah habis, seperti itu,”
Pada diskusi tersebut, ada tujuh wilayah konflik yang didalamnya ada sosok perempuan yang melawan.
Namun secara keseluruhan tidak hanya tujuh tempat yang diulas dalam buku itu.
Terdapat beberapa wilayah yang memiliki persoalan berbeda yang ikut terdokumentasikan.
“Karena buku ini kan sebenarnya kumpulan hasil peliputan Konde.co,” jelasnya. (*)
| PSIM Yogyakarta Siap Tantang Persib di Bandung, Tanpa Beban Usai Pastikan Bertahan di Super League |
|
|---|
| Bus Wisata Dilarang Masuk, Pemkot Yogya Siapkan Pangkalan Becak dan Andong di TKP Senopati |
|
|---|
| Anggota DPR RI MY Esti Wijayati Dorong Pemkab Kulon Progo Pertahankan Kampus UNY Wates |
|
|---|
| PHRI DIY Targetkan Okupansi 85 Persen pada Triwulan II 2026 |
|
|---|
| Persib Bandung vs PSIM Yogyakarta: Maung Bandung Incar Kemenangan demi Jauhi Kejaran Borneo FC |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Diskusi-Buku-di-Jogja-Didatangi-Aparat-Dua-Jam-Kebebasan-Berbicara-Mati-Suri.jpg)