Meniti Titik, Memelankan Hidup Lewat Seni Pirografi Tandur Silir

Bagi Koko, seni pirografi bukan sekadar bisnis, melainkan cara untuk tetap menikmati proses kreatif di tengah dunia yang bergerak cepat.

Tayang:
Penulis: Tribun Jogja | Editor: Joko Widiyarso
Arsip Pribadi Tandur Silir
Koko (37) seniman pirografi asal Yogyakarta dalam proses membuat karya 'sulaman jarum api'. (Sumber: Arsip Pribadi Tandur Silir) 
Ringkasan Berita:
  • Koko (37) menghidupkan teknik pirografi melalui Tandur Silir, sebagai terapi untuk "memelankan hidup" di tengah padatnya hiruk-pikuk kehidupan.
  • Ia mempertahankan cara kerja manual untuk menjaga "jejak manusiawi" dalam tiap karyanya.
  • Menghadapi tantangan bisnis mandiri, Koko menggunakan storytelling melalui berbagai rubrik media sosial untuk menyampaikan nilai dan emosi di balik karya seninya.

 

TRIBUNJOGJA.COM -- Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang menawarkan kecepatan dan presisi sempurna, J.W. Dewantoro atau yang akrab disapa Koko justru memilih jalan yang berbeda.

Melalui proyek seninya yang bernama Tandur Silir, pria berusia 37 tahun ini menekuni pirografi, sebuah teknik melukis dengan media api dan panas yang ia sebut sebagai "sulaman jarum api".

Ketertarikan Koko pada dunia lukis sebenarnya sudah ada sejak kecil, mulai dari gemar menggambar karakter Dragon Ball hingga pengalaman tak sengaja mencoretkan arang pada suling bambu. Memori masa kecil itulah yang membawanya kembali bereksperimen pada tahun 2015.

Karena alat pirografi impor tergolong mahal, Koko memulai langkahnya dengan alat sederhana: sebuah solder kayu (woodburning pen set) seharga Rp100 ribuan dan cobek kayu sebagai medianya.

"Awalnya cuma karena iseng ingin menggambar dengan media yang unik dan baru buatku," kenang Koko yang sehari-harinya bekerja di bidang IT Consultant ini, Minggu (14/12/2025).

Bisnis jasa sketsa wajah ini mulai ia jalankan secara efektif pada tahun 2016 bersama istrinya. 

Sang istri bertugas membuat desain sketsa digital, sementara Koko menerjemahkannya ke atas kayu menggunakan solder panas.

Seiring berjalannya waktu, Koko terus berinovasi.

Jika awalnya ia menggunakan teknik line dan block yang cenderung mengisi garis dengan blok hitam, kini ia beralih ke teknik stipple art.

Teknik ini menyusun pola sketsa dari ratusan bahkan ribuan titik api.

Baginya, ketidaksempurnaan dalam pola yang tidak simetris justru menunjukkan "jejak manusiawi" yang tidak dimiliki oleh mesin.

tandur silir proses
Proses berkarya seni pirografi di Tandur Silir. (Sumber: Arsip Pribadi Tandur Silir)

"Bagi saya, melukis dengan stipple line art ini adalah terapi untuk memelankan hidup. Melukis pelan-pelan, titik demi titik," ujar Koko, Minggu (14/12/2025).

Koko sangat selektif dalam memilih media. Ia lebih memilih kayu mahoni karena teksturnya yang tidak terlalu keras, warnanya cerah, dan guratannya minimalis sehingga tidak mengganggu visual sketsa.

Selain menerima pesanan sketsa wajah untuk kado, ia juga mengeksplorasi motif batik pada tatakan gelas yang dipasarkan di sebuah toko art-craft di kawasan Prawirotaman, Yogyakarta.

Bagi Tandur Silir, seni pirografi bukan sekadar bisnis, melainkan cara untuk tetap "berjalan pelan" dan menikmati proses kreatif di tengah dunia yang bergerak serba cepat.

Tantangan Seniman Amatir di Era Digital

Menjalankan Tandur Silir bukan tanpa hambatan. Koko mengakui keresahannya sebagai small shop business owner yang harus merangkap banyak peran, mulai dari seniman, admin, hingga spesialis media sosial. 

Namun, ia terinspirasi oleh sosok Pinot, seniman Indonesia di Amerika Serikat yang tetap semangat berkarya secara manual meski di tengah keterbatasan.

Koko percaya bahwa kunci agar seniman tradisional tetap bertahan adalah melalui storytelling. 

Ia menyusun beberapa rubrik dalam sorotan media sosialnya, mulai dari Rubrik Tabik sebagai tempat Koko mengenalkan segala hal dibalik layar Tandur Silir. 

Kemudian Rubrik Renjana menjadi media untuk edukasi seni pirografi.

Lalu ada Rubrik Pituduh yang dominan berisi tips dan trik dalam berkesenian pirografi.

Terakhir yaitu Rubrik Andrawina yang menyuguhkan produk-produk karya dari Tandur Silir

Baginya, karya seni tidak bisa berdiri sendiri, ia butuh narasi untuk menyampaikan pesan dan emosi kepada penikmatnya.

Melalui narasi storytelling di berbagai rubrik, Koko tidak sekadar menyajikan produk namun, menuangkan kisah di balik setiap goresan api yang ia ciptakan. (MG|Axel Sabina Rachel Rambing) 

Baca juga: Fahlul Lukis Cerita Rakyat Pakai Pen Burner

 

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved