Program ASIK Ajak Anak Muda Lebih Berani Peduli dan Bicara Soal Kesehatan Jiwa
YAKKUM Yogyakarta mendorong lahirnya Program ASIK sebagai upaya pencegahan dini yang melibatkan anak muda secara aktif.
Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Kelompok usia muda menjadi yang paling rentan, dengan pola risiko yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.
Dalam konteks itu, ASIK memilih sekolah sebagai salah satu ruang intervensi utama. Saat ini program tersebut baru diterima di empat sekolah, yakni SMA Negeri 1 Seyegan, SMA Negeri 1 Godean, SMA Negeri 1 Wonosari, dan SMA Negeri 2 Playen.
Masuk ke lingkungan sekolah bukan perkara mudah karena masih kuatnya anggapan bahwa isu kesehatan jiwa identik dengan kasus berat.
“Sekolah sering kali justru menjadi faktor kompetitif yang memicu stres dan bullying. Kami mencoba mengases hal-hal apa saja yang membuat lingkungan sekolah tidak aman bagi psikis anak,” ujar Siswaningtias.
Melalui ASIK, YAKKUM mendorong sekolah tidak hanya fokus pada kampanye anti bullying, tetapi juga memiliki sistem rujukan yang sederhana dan manusiawi.
Rujukan tidak selalu berarti langsung ke rumah sakit atau layanan medis, melainkan bisa dimulai dari dukungan teman sebaya, guru, atau orang tua sebagai pertolongan pertama.
Menurut Siswaningtias, di beberapa daerah seperti Gunungkidul, keterbatasan tenaga psikolog membuat sistem rujukan kerap tidak ideal.
Banyak kasus langsung ditangani psikiater, padahal belum tentu membutuhkan pengobatan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan jejaring pendukung di tingkat komunitas dan sekolah.
Selain pelatihan kesehatan mental bersama profesional, Program ASIK juga mengusung pendekatan kreatif. Anak muda diajak bercerita, berdiskusi santai, menonton film bersama, hingga terlibat dalam kegiatan sosial yang dekat dengan keseharian mereka.
Praktik self care sederhana seperti bermain dengan teman, menulis jurnal, atau beristirahat tanpa rasa bersalah juga diperkenalkan sebagai bagian dari menjaga kesehatan jiwa.
Ke depan, YAKKUM berharap dukungan kebijakan dari Dinas Pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya semakin kuat, agar isu kesehatan mental benar-benar melekat dalam sistem sekolah.
Harapannya, sekolah dapat tumbuh menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas stigma, tempat anak muda merasa didengar, didukung, dan tidak sendirian menghadapi persoalan kesehatan jiwa.(nto)
| Aksi Sosial Berbagi 700 Kacamata Gratis untuk Lansia dan Pelajar di Yogyakarta |
|
|---|
| Siswa SLB Negeri 1 Bantul Ikuti Edutrain KAI Bandara, Belajar Mengenal Kereta hingga Cara Beli Tiket |
|
|---|
| Bahaya Laten Geng Sekolah Masih Mengintai Kota Yogyakarta, 'Solidaritas' Disebut Jadi Kedok |
|
|---|
| Detik-detik Seorang Pelajar Terlibat Kecelakaan di Jalan Tamansiswa Yogyakarta |
|
|---|
| Jeritan Hati Kakak Korban Bantul: Adik Saya Penurut, Mengapa Dianiaya Secara Keji? |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Program-ASIK-Ajak-Anak-Muda-Lebih-Berani-Peduli-dan-Bicara-Soal-Kesehatan-Jiwa.jpg)