Program ASIK Ajak Anak Muda Lebih Berani Peduli dan Bicara Soal Kesehatan Jiwa

YAKKUM Yogyakarta mendorong lahirnya Program ASIK sebagai upaya pencegahan dini yang melibatkan anak muda secara aktif.

Tayang:
Penulis: Santo Ari | Editor: Hari Susmayanti
Istimewa
Project Manager Program ASIK YAKKUM Yogyakarta, Siswaningtias Trinugraheni 
Ringkasan Berita:
  • YAKKUM Yogyakarta meluncurkan Program ASIK untuk membantu anak muda mengenali kondisi diri dan mengelola emosi sejak dini.
  • Program ini berfokus pada sekolah sebagai ruang intervensi, dengan pendekatan yang mengedepankan dukungan 
  • YAKKUM mendorong pembentukan sistem rujukan yang lebih manusiawi dan akses ke layanan kesehatan mental yang lebih mudah, termasuk pelatihan bagi profesional dan kegiatan kreatif untuk anak muda.
 

 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kesadaran soal kesehatan mental di kalangan anak muda kerap datang terlambat, ketika masalah sudah menumpuk dan ruang aman terasa makin sempit.

Di tengah situasi itu, sekolah, teman sebaya, dan lingkungan terdekat menjadi titik penting yang kerap luput diperhatikan.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum atau YAKKUM Yogyakarta mendorong lahirnya Program ASIK sebagai upaya pencegahan dini yang melibatkan anak muda secara aktif.

Program ASIK atau Aksi Sehat Jiwa Inisiatif dan Kontribusi dari Orang Muda telah berjalan selama tujuh bulan.

Program ini dikembangkan dari pengalaman pendampingan sebelumnya dan secara khusus menyasar remaja usia sekolah hingga dewasa muda.

Fokus utamanya adalah membantu anak muda mengenali kondisi diri, memahami emosi, serta berani terhubung dengan sistem pendukung sebelum masalah kesehatan mental berkembang menjadi lebih serius.

Project Manager Program ASIK YAKKUM Yogyakarta, Siswaningtias Trinugraheni, menilai pencegahan dini menjadi kunci agar kasus kesehatan jiwa tidak baru tertangani saat sudah berada pada tahap akut.

Dari pengalamannya, banyak anak muda justru tertinggal dalam berbagai isu, termasuk kesehatan mental, karena suara dan perspektif mereka jarang benar-benar didengar.

“Program ini menekankan pentingnya pencegahan. Kami ingin anak muda memahami kondisi dirinya sejak awal, punya ruang partisipasi bermakna, dan terhubung dengan sistem pendukung yang jelas,” ujar Siswaningtias.

Baca juga: Pameran Arsip ‘Beyond The Notes’, Ruang Kontemplasi Perjalanan Musik Andi Bayou

Meski isu kesehatan mental mulai sering dibicarakan, ia menilai sistem yang menghubungkan sektor pendidikan, keluarga, dan layanan kesehatan masih berjalan parsial.

Di banyak kasus, remaja enggan datang ke puskesmas atau psikolog, bukan semata karena ketidaktahuan, tetapi juga dipengaruhi stigma dari orang tua, teman, dan lingkungan sekitar.

“Kami ingin menyampaikan bahwa merasa tidak baik-baik saja itu wajar. Masalah kesehatan mental sama seperti masalah kesehatan lainnya, bukan sesuatu yang memalukan dan tidak perlu distigma,” katanya.

Data berbagai survei nasional menunjukkan kondisi yang mengkhawatirkan. Satu dari tiga remaja di Indonesia disebut memiliki masalah kesehatan mental, namun hanya sebagian kecil yang mencari bantuan profesional. 

Yogyakarta sendiri tercatat sebagai salah satu daerah dengan tingkat depresi tertinggi berdasarkan Riskesdas dan Survei Kesehatan Indonesia.

Kelompok usia muda menjadi yang paling rentan, dengan pola risiko yang berbeda antara laki-laki dan perempuan.

Dalam konteks itu, ASIK memilih sekolah sebagai salah satu ruang intervensi utama. Saat ini program tersebut baru diterima di empat sekolah, yakni SMA Negeri 1 Seyegan, SMA Negeri 1 Godean, SMA Negeri 1 Wonosari, dan SMA Negeri 2 Playen. 

Masuk ke lingkungan sekolah bukan perkara mudah karena masih kuatnya anggapan bahwa isu kesehatan jiwa identik dengan kasus berat.

“Sekolah sering kali justru menjadi faktor kompetitif yang memicu stres dan bullying. Kami mencoba mengases hal-hal apa saja yang membuat lingkungan sekolah tidak aman bagi psikis anak,” ujar Siswaningtias.

Melalui ASIK, YAKKUM mendorong sekolah tidak hanya fokus pada kampanye anti bullying, tetapi juga memiliki sistem rujukan yang sederhana dan manusiawi.

Rujukan tidak selalu berarti langsung ke rumah sakit atau layanan medis, melainkan bisa dimulai dari dukungan teman sebaya, guru, atau orang tua sebagai pertolongan pertama.

Menurut Siswaningtias, di beberapa daerah seperti Gunungkidul, keterbatasan tenaga psikolog membuat sistem rujukan kerap tidak ideal.

Banyak kasus langsung ditangani psikiater, padahal belum tentu membutuhkan pengobatan. Kondisi ini menunjukkan pentingnya penguatan jejaring pendukung di tingkat komunitas dan sekolah.

Selain pelatihan kesehatan mental bersama profesional, Program ASIK juga mengusung pendekatan kreatif. Anak muda diajak bercerita, berdiskusi santai, menonton film bersama, hingga terlibat dalam kegiatan sosial yang dekat dengan keseharian mereka.

Praktik self care sederhana seperti bermain dengan teman, menulis jurnal, atau beristirahat tanpa rasa bersalah juga diperkenalkan sebagai bagian dari menjaga kesehatan jiwa.

Ke depan, YAKKUM berharap dukungan kebijakan dari Dinas Pendidikan dan pemangku kepentingan lainnya semakin kuat, agar isu kesehatan mental benar-benar melekat dalam sistem sekolah.

Harapannya, sekolah dapat tumbuh menjadi ruang yang aman, nyaman, dan bebas stigma, tempat anak muda merasa didengar, didukung, dan tidak sendirian menghadapi persoalan kesehatan jiwa.(nto)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved