Belajar dari Nglanggeran untuk Menguatkan Ekoeduwisata KHDTK
Lokakarya ini diselenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Desa Wisata Nglanggeran kembali menjadi rujukan penting bagi pengelolaan wisata berbasis pendidikan lingkungan.
Setelah 10 hari belajar langsung di desa yang sudah matang dalam manajemen wisata, peserta dari berbagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) mulai merumuskan langkah untuk membangun model ekoeduwisata yang relevan bagi wilayah mereka sendiri.
Pengalaman itu menjadi titik awal lokakarya penyusunan grand design ekoeduwisata yang digelar Kementerian Kehutanan di Yogyakarta.
Lokakarya ini diselenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.
Tujuannya adalah menyiapkan arah pengembangan ekoeduwisata di tiga KHDTK yaitu Pondok Buluh, Sawala Mandapa, dan Tabo Tabo.
Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya besar Kementerian Kehutanan untuk menjadikan KHDTK sebagai pusat pembelajaran terpadu yang berkelanjutan, selaras dengan visi penguatan ekonomi hijau dan kontribusi terhadap target FOLU Net Sink 2030.
Kepala BP2SDM, Indra Eksploitasia, menegaskan posisi KHDTK sebagai aset strategis negara yang mengemban fungsi pendidikan, penelitian, pelatihan, dan pengabdian masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kawasan ini merupakan penyimpan karbon yang perlu dijaga dan terus ditingkatkan kualitasnya.
Di bawah BP2SDM saat ini terdapat empat puluh lima unit KHDTK dengan luas total lebih dari 107 ribu hektare.
Dalam perencanaan yang sedang disusun, ekoeduwisata tidak hanya dipahami sebagai wisata alam biasa.
Skema ini dirancang agar mampu menguatkan kapasitas pengelola KHDTK sekaligus memberdayakan kelompok tani hutan dan masyarakat di sekitarnya.
Baca juga: Pengelola Desa Wisata Tinalah di Kulon Progo Pastikan Wilayahnya Aman dari Potensi Longsor
Melalui konsep wisata edukatif yang ramah lingkungan, BP2SDM berharap terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, sekaligus memastikan fungsi perlindungan hutan tetap terjaga.
Proses penyusunan grand design melibatkan konsultan profesional dan berlangsung secara partisipatif.
Lokakarya ini menjadi tahapan lanjutan setelah para kelompok tani hutan mengikuti pemagangan di Nglanggeran.
Mereka mempelajari manajemen, pola kemitraan, pengemasan produk wisata, hingga strategi pemasaran yang terbukti berhasil di desa tersebut.
Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan, Wahju Rudianto, menggambarkan pentingnya pengalaman lapangan itu.
| Bahagianya Pelaku UMKM Deswita Jatimulyo Dapat Sertifikat Halal Gratis, Yakin Jualannya Lebih Laris |
|
|---|
| 123 Pelaku UMK di Desa Wisata Jatimulyo Kulon Progo Terima Sertifikasi Halal |
|
|---|
| Astra Motor Yogyakarta Ajak Awak Media Kunjungi Desa Wisata Krebet |
|
|---|
| UGM Siap Atasi Tantangan Desa Wisata Kreatif Terong di Ajang Genera-Z Berbakti 2026 |
|
|---|
| Menelusuri Pesona Desa Wisata Srikeminut, Obat Penawar Hiruk Pikuk Perkotaan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/Lokakarya-penyusunan-grand-design-ekoeduwisata.jpg)