Belajar dari Nglanggeran untuk Menguatkan Ekoeduwisata KHDTK

Lokakarya ini diselenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Penulis: Santo Ari | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/Santo Ari
Kegiatan Lokakarya penyusunan grand design ekoeduwisata di Yogyakarta, Kamis (11/12/2025) 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Desa Wisata Nglanggeran kembali menjadi rujukan penting bagi pengelolaan wisata berbasis pendidikan lingkungan.

Setelah 10 hari belajar langsung di desa yang sudah matang dalam manajemen wisata, peserta dari berbagai Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) mulai merumuskan langkah untuk membangun model ekoeduwisata yang relevan bagi wilayah mereka sendiri.

Pengalaman itu menjadi titik awal lokakarya penyusunan grand design ekoeduwisata yang digelar Kementerian Kehutanan di Yogyakarta.

Lokakarya ini diselenggarakan oleh Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia.

Tujuannya adalah menyiapkan arah pengembangan ekoeduwisata di tiga KHDTK yaitu Pondok Buluh, Sawala Mandapa, dan Tabo Tabo.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya besar Kementerian Kehutanan untuk menjadikan KHDTK sebagai pusat pembelajaran terpadu yang berkelanjutan, selaras dengan visi penguatan ekonomi hijau dan kontribusi terhadap target FOLU Net Sink 2030.

Kepala BP2SDM, Indra Eksploitasia, menegaskan posisi KHDTK sebagai aset strategis negara yang mengemban fungsi pendidikan, penelitian, pelatihan, dan pengabdian masyarakat. Ia mengingatkan bahwa kawasan ini merupakan penyimpan karbon yang perlu dijaga dan terus ditingkatkan kualitasnya.

Di bawah BP2SDM saat ini terdapat empat puluh lima unit KHDTK dengan luas total lebih dari 107 ribu hektare.

Dalam perencanaan yang sedang disusun, ekoeduwisata tidak hanya dipahami sebagai wisata alam biasa.

Skema ini dirancang agar mampu menguatkan kapasitas pengelola KHDTK sekaligus memberdayakan kelompok tani hutan dan masyarakat di sekitarnya. 

Baca juga: Pengelola Desa Wisata Tinalah di Kulon Progo Pastikan Wilayahnya Aman dari Potensi Longsor

Melalui konsep wisata edukatif yang ramah lingkungan, BP2SDM berharap terjadi peningkatan pendapatan masyarakat, sekaligus memastikan fungsi perlindungan hutan tetap terjaga.

Proses penyusunan grand design melibatkan konsultan profesional dan berlangsung secara partisipatif.

Lokakarya ini menjadi tahapan lanjutan setelah para kelompok tani hutan mengikuti pemagangan di Nglanggeran.

Mereka mempelajari manajemen, pola kemitraan, pengemasan produk wisata, hingga strategi pemasaran yang terbukti berhasil di desa tersebut.

Kepala Pusat Penyuluhan Kehutanan, Wahju Rudianto, menggambarkan pentingnya pengalaman lapangan itu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved