Kisah Guru Honorer di Sleman, Tetap Mengabdi Meski Tak Lagi Terima Honor

Guru honorer di SMK swasta di Kabupaten Sleman ini tetap mengajar meskipun pada tahun ajaran ini sudah tak lagi menerima honor.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Hedi Ludiman, Guru Honorer di Kabupaten Sleman (Foto Dok.Pribadi//untuk tribun jogja) 

Tiap bulan ia hanya mendapatkan uang insentif negara. Kebutuhan ekonomi keluarga ditopang dari usaha bengkel yang ditekuni sepulang mengajar. 

"Sekarang sudah tidak dapat gaji. Sebenarnya dapat atau tidaknya (dari sekolah) saya tidak tahu. Saya sudah tidak pernah minta. Hidup saya untuk keseharian, selain insentif negara, saya nyambi bengkel di rumah, di rumahnya Pak Lik," ujar Hedi. 

"Saya punya tiga anak. Kadang sebulan cukup, kadang tidak," imbuh dia. 

Jadi Korban Mafia Tanah

Di tengah situasi yang berat, keluarga Hedi justru menjadi korban mafia tanah.

Ia dan istrinya, Evi Fatimah terancam kehilangan tempat tinggal karena rumah beserta tanah seluas 1.474 meter persegi di Dusun Paten, RT 4 RW 5, Tridadi, Kabupaten Sleman digelapkan dan sertifikatnya kini berganti kepemilikan orang lain. 

Kasusnya bermula ketika sertifikat tanah milik istrinya, dipinjam oleh seorang Ibu dan anak, yang ingin mengontrak rumah warisan orangtuanya itu, untuk keperluan usaha konveksi di tahun 2011.

Harga sewa menyewa disepakati Rp 25 juta rupiah per lima tahun. Saat itu, karena butuh penghasilan tambahan, Ia menyepakatinya.

Namun sertifikat tanah justru dibawa calon pengontrak. 

Singkat cerita, sertifikat tanah milik Evi ternyata berganti kepemilikan dan diagunkan ke Bank.

Kini tanah tersebut telah dilelang dan berganti lagi kepemilikan ke pihak ketiga. Hedi dan Evi kini masih berjuang untuk mendapatkan kembali hak atas tanah dan rumahnya. 

Hedi bercerita, tahun 2011-2012 ia sebenarnya ingin melanjutkan pendidikan namun impian itu dipendam setelah uang tabungan hingga pikirannya terkuras untuk tetap bisa mempertahankan tanah dan rumahnya. 

"Uang tabungan saya habis karena terkena masalah mafia tanah. Habis puluhan juta. Pikiran dan tenaga saya juga terforsir urusan ini," ujar dia.

Tak bisa berkata-kata 

Di momen hari guru Nasional ini, ia mengaku tidak bisa berkata apa-apa. Karena minder, dirinya hanya guru praktik, yang meskipun sudah mengabdi hingga puluhan tahun, namun belum mempunyai gelar akademik. 

Kendati demikian, semangatnya untuk tetap mengabdi mencerdaskan kehidupan anak bangsa masih tinggi. 

"Saya ingin tetap mengabdi agar anak anak SMK trampil sesungguhnya, bukan hanya menjual ijazah. Ijazah itu penting, tetapi tidak semata-mata hanya menjual ijazah," katanya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved