Kisah Guru Honorer di Sleman, Tetap Mengabdi Meski Tak Lagi Terima Honor

Guru honorer di SMK swasta di Kabupaten Sleman ini tetap mengajar meskipun pada tahun ajaran ini sudah tak lagi menerima honor.

Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Yoseph Hary W
Istimewa
Hedi Ludiman, Guru Honorer di Kabupaten Sleman (Foto Dok.Pribadi//untuk tribun jogja) 

Ringkasan Berita:
  • Kisah guru yang nasibnya memprihatinkan datang dari Sleman. Hedi Ludiman yang sudah mengabdi 20 tahun sebagai guru honorer di SMK swasta di Sleman tetap mengajar walau kini tak lagi menerima honor dari pihak sekolah karena minimnya murid
  • Ia kini hanya menerima insentif dari negara Rp 450 ribu per bulan.
  • Di tengah situasi yang berat, keluarga Hedi si guru honorer itu justru menjadi korban mafia tanah. Kini ia berusaha mendapatkan kembali tanah waris keluarganya.

 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Guru sebagai patriot pahlawan bangsa, pembangun insan cendekia, mendapat ucapan terima kasih yang mengalir deras di ruang maya pada peringatan Hari Guru Nasional yang diperingati setiap tanggal 25 November. 

Namun gaung ucapan terima kasih itu tak sekencang gaungan kesejahteraan guru, terutama mereka yang hingga kini berstatus Guru Honorer. 

Hedi Ludiman satu di antaranya. Pria yang sudah mengabdi 20 tahun, sebagai guru honorer di SMK swasta di Kabupaten Sleman ini tetap mengajar meskipun pada tahun ajaran ini sudah tak lagi menerima honor. 

"Sekarang saya sudah tidak menerima gaji. Karena muridnya sedikit," kata Hedi, berbincang dengan Tribun Jogja, Selasa (25/11/2025). 

Hedi merupakan guru praktik produktif otomotif. Ia mempunyai keahlian otomotif baik kendaraan ringan maupun kendaraan berat.

Ia mulai mengajar praktik di SMK sejak tahun 2005.

Awal mulanya, karena dirinya ingin berkontribusi kepada sekolah maupun mengajarkan kemampuan bidang yang dimiliki kepada para siswa.

Baginya, murid SMK ketika lulus harus mempunyai kemampuan, bukan hanya teoritis namun juga praktik. 

"Karena otomotif itu yang paling dibutuhkan skill, kemampuannya," kata dia. 

Biasanya, Hedi mendapatkan honor berdasarkan jam pelajaran yang diberikan. Misalnya, dalam satu minggu ia mengajar 24-34 jam pelajaran.

Meskipun satu jam dibayar Rp 10 ribu, ketentuan pembayaran jam pelajaran ternyata untuk satu bulan, sehingga ia hanya mendapatkan honor Rp 240 ribu per bulan. 

Honor tersebut ditambah tunjangan jabatan penjaga alat Rp 50 ribu per bulan. Total per bulan honor yang diterima dari sekolah rata-rata Rp 300 ribu per bulan.

Insentif negara Rp 450 ribu per bulan

Selain itu, Ia mendapatkan Insentif dari negara Rp 450 ribu per bulan. 

Kini, honor dari sekolah sejak pelajaran tahun ini sudah tidak diterima. Penyebabnya, karena jumlah murid yang mendaftar ke sekolah kian sedikit. Ia memakluminya. 

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved